MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Penyakit Zoonosis pada Hewan Kurban yang Harus Diwaspadai: Ancaman Kesehatan Masyarakat dan Strategi Pencegahan.

Penyakit Zoonosis pada Hewan Kurban yang Harus Diwaspadai: Ancaman Kesehatan Masyarakat dan Strategi Pencegahan. dr Widodo Judarwanto, dr Audi Yudhasmara

Iduladha merupakan momen penting dalam agama Islam yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Di balik praktik ibadah tersebut, terdapat risiko kesehatan masyarakat yang harus diwaspadai, yaitu penyakit zoonosis — penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Hewan kurban seperti sapi, kambing, dan domba berpotensi menjadi sumber infeksi zoonosis jika tidak diperiksa dengan baik. Beberapa penyakit yang umum terkait hewan kurban meliputi antraks, bruselosis, toksoplasmosis, leptospirosis, dan parasitosis lainnya. Artikel ini membahas berbagai jenis penyakit zoonosis yang berpotensi ditularkan dari hewan kurban, bahayanya terhadap manusia, serta strategi pencegahan berbasis edukasi, pemeriksaan hewan, dan kebersihan lingkungan. Dengan pengelolaan yang baik dan pemahaman masyarakat yang memadai, risiko penularan zoonosis dari hewan kurban dapat diminimalisasi.


Hari Raya Iduladha memiliki makna spiritual yang mendalam dalam tradisi Islam, dengan penyembelihan hewan kurban sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT. Hewan yang dikurbankan biasanya berupa sapi, kambing, atau domba yang dipilih dalam kondisi sehat dan layak secara syariat. Namun, proses pengadaan, penyembelihan, hingga distribusi daging kurban melibatkan interaksi erat antara manusia dan hewan, yang dapat memunculkan risiko kesehatan, terutama bila hewan kurban terinfeksi penyakit zoonosis.

Zoonosis adalah penyakit infeksius yang dapat ditularkan antara hewan vertebrata dan manusia, baik secara langsung maupun melalui media perantara. Dalam konteks kurban, penyakit ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau daging hewan yang terinfeksi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap jenis-jenis zoonosis, gejala, serta metode pencegahan menjadi penting bagi panitia kurban, petugas pemotongan, dan masyarakat umum untuk mencegah kejadian luar biasa penyakit pasca-Iduladha.

Penyakit Zoonosis Hewan Kurban dan Bahayanya

  1. Antraks (Anthrax)
    Antraks disebabkan oleh Bacillus anthracis dan sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian pada manusia. Penularan terjadi saat manusia bersentuhan dengan spora dari darah, daging, atau kulit hewan yang terinfeksi. Gejala pada manusia dapat berupa luka kulit bernanah, gangguan pernapasan, hingga shock sistemik.
  2. Bruselosis (Brucellosis)
    Bruselosis adalah infeksi bakteri Brucella spp. yang umum ditemukan pada sapi dan kambing. Penyakit ini dapat menular melalui konsumsi susu mentah atau kontak langsung dengan organ reproduksi hewan yang sakit. Pada manusia, bruselosis menyebabkan demam berkepanjangan, nyeri otot, dan gangguan organ reproduksi.
  3. Toksoplasmosis
    Penyakit ini disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Meskipun lebih sering dikaitkan dengan kucing, daging kambing atau domba yang kurang matang juga bisa menjadi sumber penularan. Toksoplasmosis sangat berbahaya bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan janin.
  4. Leptospirosis
    Bakteri Leptospira dapat ditemukan dalam urin hewan yang terinfeksi dan mencemari lingkungan, termasuk area penyembelihan kurban. Penularan ke manusia terjadi melalui luka terbuka atau selaput lendir yang kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi. Gejalanya mirip flu berat, bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan hati.
  5. Salmonellosis
    Penyakit ini ditularkan melalui konsumsi daging atau produk hewani yang tidak dimasak dengan baik. Salmonella menyebabkan diare parah, demam, dan kram perut. Daging kurban yang tidak ditangani dengan baik dapat menjadi sumber penularan.
  6. Listeriosis
    Infeksi Listeria monocytogenes dapat terjadi pada daging olahan atau yang disimpan tanpa pendinginan memadai. Berisiko tinggi pada ibu hamil, bayi baru lahir, dan lansia. Gejala bisa berupa demam, nyeri otot, dan komplikasi neurologis.
  7. Echinococcosis (Hidatidosis)
    Disebabkan oleh cacing pita Echinococcus granulosus, penyakit ini ditularkan melalui konsumsi daging atau organ hewan yang terinfeksi kista. Pada manusia, dapat menyebabkan kista besar di hati atau paru-paru, yang harus diangkat secara bedah.
  8. Q Fever (Demam Q)
    Disebabkan oleh Coxiella burnetii, bakteri ini ditularkan melalui debu atau aerosol yang terkontaminasi kotoran hewan, terutama dari plasenta atau cairan kelahiran hewan. Gejala meliputi demam tinggi, sakit kepala, dan pneumonia ringan hingga berat.
  9. Campylobacteriosis
    Ditularkan dari daging atau susu yang tidak dipasteurisasi, bakteri Campylobacter menyebabkan diare berdarah dan dehidrasi. Daging hewan kurban harus dimasak hingga suhu aman untuk membunuh bakteri ini.
  10. Rabies (meskipun jarang pada hewan kurban)
    Meskipun tidak umum, risiko rabies tetap ada, terutama jika hewan kurban digembalakan di area endemik rabies. Penularan terjadi melalui gigitan atau air liur hewan yang terinfeksi. Rabies hampir selalu fatal setelah gejala muncul.

Pencegahan

  1. Pemeriksaan Ante- dan Post-Mortem oleh Dokter Hewan
    Setiap hewan kurban harus diperiksa sebelum dan sesudah penyembelihan oleh petugas kesehatan hewan. Tanda-tanda penyakit seperti luka, kejang, atau diare harus menjadi perhatian dan bisa menjadi dasar penolakan hewan.
  2. Karantina Hewan Kurban
    Sebelum disembelih, hewan kurban sebaiknya dikarantina selama beberapa hari untuk memastikan tidak membawa penyakit menular. Ini juga membantu mengamati kondisi kesehatannya secara lebih akurat.
  3. Penyembelihan yang Higienis dan Aman
    Lokasi penyembelihan harus bersih, memiliki saluran pembuangan darah yang memadai, serta dilengkapi alat pelindung diri (APD) bagi panitia seperti sarung tangan, masker, dan celemek tahan air.
  4. Edukasi Panitia dan Masyarakat
    Edukasi mengenai bahaya zoonosis harus diberikan kepada panitia kurban dan masyarakat. Pemahaman tentang cara menghindari kontak langsung dengan darah, kotoran, atau organ dalam hewan sangat penting.
  5. Pengolahan dan Penyimpanan Daging yang Benar
    Daging kurban harus diproses dengan bersih, didinginkan atau dimasak dengan suhu yang cukup untuk membunuh kuman penyebab zoonosis. Hindari konsumsi mentah atau setengah matang.
  6. Pengelolaan Limbah Kurban
    Limbah seperti darah, kulit, jeroan, dan kotoran hewan harus dibuang di tempat tertutup dan jauh dari sumber air minum. Penguburan atau pembakaran adalah metode yang direkomendasikan.
  7. Pemilihan Hewan Kurban yang Sehat dan Legal
    Membeli hewan dari tempat penjualan resmi dan bersertifikat dapat menjamin bahwa hewan tersebut telah melalui pemeriksaan kesehatan awal, sehingga risiko zoonosis lebih rendah.

Kesimpulan

Penyakit zoonosis dari hewan kurban merupakan risiko nyata yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat jika tidak ditangani secara tepat. Penyakit seperti antraks, bruselosis, toksoplasmosis, dan leptospirosis menunjukkan betapa pentingnya deteksi dini dan penanganan yang bijak terhadap hewan kurban. Pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi, pemeriksaan kesehatan hewan, penyembelihan yang higienis, serta pengelolaan limbah yang benar. Kolaborasi antara masyarakat, panitia kurban, dan dinas kesehatan hewan sangat krusial untuk memastikan ibadah kurban berlangsung aman dan berkah bagi semua pihak.


dr Widodo Judarwanto, pediatrician. Ketua Panitia Idul Adha dan Kurban , MAB (Masjid Al-Falah Benhil, Jakarta, Indonesia)
Info Qurban 087711553344 – 085888886268
SAPI 1/7 3,6 Juta (>sapi 350-400 kg), KAMBING/DOMBA 3,6 juta (Kambing/domba >35-40 kg)
https://masjidalfalahhbenhil.com
Rek BSI. No.1002174606. An. Yayasan Masjid Alfalah 1002174606, bila sudah tranfer kirim Screen Shoot bukti bayar ke 085-88888-6568 087711553344
KOMUNITAS MAB Penggerak Kebaikan, Ilmu dan Iman
https://chat.whatsapp.com/CHdxwdDzfFsGRwWXT6yJ5u

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *