MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

12 Sunnah Saat Shalat dan Hari Raya Idul Adha

 


Shalat Idul Adha merupakan salah satu momen ibadah tahunan yang sangat dianjurkan dalam Islam, dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Selain keutamaannya sebagai ibadah sunnah muakkadah, terdapat sejumlah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menyempurnakan pelaksanaannya. Artikel ini menguraikan sepuluh sunnah yang dapat diamalkan saat shalat Idul Adha, lengkap dengan dasar hadits shahih dan penjelasan maknanya, agar umat Islam dapat menunaikan ibadah dengan lebih sempurna dan sesuai tuntunan syariat.

Shalat Idul Adha adalah salah satu syiar Islam yang sangat besar, dilaksanakan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah dan menghidupkan semangat pengorbanan yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagaimana shalat Idul Fitri, shalat ini dikerjakan secara berjamaah di tanah lapang atau masjid besar, diikuti oleh khutbah Idul Adha yang mengandung pesan-pesan tauhid, ketakwaan, dan ukhuwah. Rasulullah ﷺ telah memberikan tuntunan dalam bentuk sunnah-sunnah praktis yang menyertai pelaksanaan shalat Idul Adha. Sunnah-sunnah ini bukan hanya sekadar pelengkap, namun mencerminkan kesempurnaan ibadah serta pengamalan sunnah nabawiyyah dalam kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami dan mengamalkan sunnah-sunnah tersebut agar ibadah Idul Adha lebih bermakna.


10 Sunnah Saat Shalat Idul Adha

  1. Mandi Sebelum Shalat Id
    1. Hadits: Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Umar: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Ibnu Majah no. 1315, dinilai hasan oleh Al-Albani)
    2. Mandi sebelum berangkat shalat Id termasuk sunnah yang menunjukkan kesucian dan kesiapan lahir dan batin dalam menyambut hari raya. Hal ini juga memperlihatkan semangat kebersihan dan penampilan terbaik sebagai bagian dari ibadah dan penghormatan terhadap hari besar Islam.
  2. Memakai Pakaian Terbaik
    • Dari Jabir bin Abdullah: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang biasa dipakai pada dua hari raya dan hari Jumat.” (HR. Al-Baihaqi)
    • Disunnahkan untuk mengenakan pakaian terbaik saat shalat Idul Adha, meskipun tidak harus baru. Hal ini menunjukkan sikap menghormati hari besar serta menampakkan nikmat Allah dalam penampilan yang sopan dan bersih, mencerminkan suasana bahagia umat Islam.
  3. Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha
    • Dari Buraidah, Rasulullah ﷺ tidak keluar pada hari Idul Adha hingga makan terlebih dahulu dari sembelihannya. (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh Al-Albani)
    • Berbeda dari Idul Fitri yang dianjurkan makan sebelum shalat, pada Idul Adha disunnahkan untuk tidak makan sampai selesai shalat dan menyantap daging qurban. Ini menunjukkan penghayatan terhadap ibadah qurban sebagai simbol pengorbanan dan ketaatan kepada Allah.
  4. Bertakbir Sejak Malam Id Hingga Hari Tasyrik
    • Dari Ali bin Abi Thalib: “Rasulullah bertakbir mulai setelah shalat Subuh hari Arafah hingga Ashar hari terakhir dari hari tasyrik.” (HR. Ibn Abi Syaibah)
    • Takbir Idul Adha adalah syiar yang khas, dimulai sejak malam Id hingga akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah). Takbir ini dilantunkan dengan suara keras sebagai bentuk pengagungan dan penghidupan sunnah, baik secara berjamaah maupun individu.
  5. Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat
    1. Dari Ibnu Umar: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tempat shalat dengan berjalan kaki dan kembali dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah no. 1295)
    2. Berjalan kaki ke tempat shalat Id menunjukkan ketawadhuan dan kesetaraan sosial di antara umat Islam. Selain itu, pahala langkah-langkah menuju ibadah lebih besar, dan mendekatkan diri secara fisik dan batin kepada komunitas Muslim.
  6. Shalat Id Dilaksanakan di Lapangan
    • Dari Abu Sa’id Al-Khudri: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke lapangan saat Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    • Melaksanakan shalat di lapangan (musalla) adalah sunnah yang menunjukkan syiar Islam dan mempersatukan umat. Namun jika hujan atau darurat, shalat di masjid diperbolehkan. Ini mencerminkan fleksibilitas Islam dengan tetap menjaga nilai sunnah utama.
  7. Melewati Jalan yang Berbeda Saat Pulang
    • Dari Jabir bin Abdillah: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika shalat Id, beliau mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan pulang.” (HR. Bukhari no. 986)
    • Perubahan jalan ini disunnahkan sebagai bentuk penyebaran salam dan dakwah, serta agar setiap jalan menjadi saksi kebaikan kita. Selain itu, ini mengandung unsur keberkahan dan perluasan pergaulan sesama Muslim.
  8.  Shalat Tanpa Adzan dan Iqamah
    • Dari Jabir bin Samurah: “Aku telah shalat bersama Nabi pada dua hari raya, bukan sekali atau dua kali, tanpa adzan dan iqamah.” (HR. Muslim)
    • Shalat Id dilakukan tanpa adzan dan iqamah, karena ia bukan shalat harian berjamaah yang rutin. Hal ini menunjukkan kekhususan dan keistimewaan shalat Id, serta menghindari penyerupaan dengan shalat lima waktu.
  9. Takbir Tambahan dalam Shalat Id
    • Dari Aisyah: “Rasulullah bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua dalam shalat Id.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
    • Takbir tambahan menjadi ciri khas shalat Id, yang menunjukkan kegembiraan dan pengagungan kepada Allah. Takbir-takbir ini dilakukan sebelum membaca Al-Fatihah, dan diselingi dengan doa dan pujian kepada Allah.
  10. Mendengarkan Khutbah Setelah Shalat
    • Ibnu Umar berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat Id, kemudian duduk dan berkhutbah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    • Khutbah Idul Adha merupakan sarana dakwah dan nasihat kepada umat Islam. Meski hukumnya sunnah mendengarkan, sangat dianjurkan untuk menyimaknya karena mengandung pesan penting terkait keimanan, ibadah, dan kehidupan sosial umat.
  11. Menyembelih Kurban Setelah Shalat Id
    • Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menyembelih (hewan kurban) sebelum shalat, maka hendaklah ia mengulanginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    • Salah satu sunnah penting di hari Idul Adha adalah menyembelih kurban setelah shalat Id selesai, bukan sebelumnya. Ini berdasarkan perintah Rasulullah ﷺ untuk menunda penyembelihan hingga setelah shalat dan khutbah Id, karena waktu yang sah untuk kurban baru dimulai setelah itu.
    • Menyembelih kurban sebelum waktunya dianggap sebagai penyembelihan biasa, bukan sebagai ibadah kurban. Karenanya, umat Islam perlu memahami waktu yang tepat agar ibadah mereka sah dan diterima. Hal ini juga menunjukkan ketertiban dalam ibadah sesuai tuntunan syariat.
  12. Menyaksikan atau Ikut Langsung dalam Penyembelihan Kurban
    • Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah daripada menyembelih hewan kurban…” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah; dinilai hasan oleh Al-Albani)
    • Sunnah yang sangat dianjurkan bagi yang berkurban adalah menyaksikan langsung penyembelihan hewan kurbannya, bahkan jika mampu, ikut serta menyembelih. Rasulullah ﷺ sendiri menyembelih kurbannya dengan tangannya sendiri dan membaca takbir. Ini menunjukkan keutamaan langsung terlibat dalam ibadah tersebut.
    • Dengan menyaksikan atau menyembelih sendiri, seorang Muslim lebih meresapi makna pengorbanan dan ketaatan kepada Allah, serta meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam. Ini juga menjadi pelajaran penting bagi keluarga dan anak-anak tentang nilai ibadah, keberanian, dan kepatuhan terhadap perintah Allah.

Kesimpulan

Pelaksanaan shalat Idul Adha bukan hanya sebatas ritual ibadah tahunan, namun juga merupakan momen untuk memperkuat ukhuwah, menampakkan syiar Islam, dan meneladani sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Mengamalkan sunnah-sunnah yang telah dicontohkan akan menyempurnakan ibadah kita dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Semoga dengan memahami dan menerapkan sepuluh sunnah ini, kita semakin dekat dengan Allah dan mampu mengambil hikmah dari pengorbanan dan ketakwaan yang menjadi inti dari Idul Adha.


 


dr Widodo Judarwanto, pediatrician. Ketua Panitia Idul Adha dan Kurban , MAB (Masjid Al-Falah Benhil, Jakarta, Indonesia)
Info Qurban 087711553344 – 085888886268
SAPI 1/7 3,6 Juta (>sapi 350-400 kg), KAMBING/DOMBA 3,6 juta (Kambing/domba >35-40 kg)
https://masjidalfalahhbenhil.com
Rek BSI. No.1002174606. An. Yayasan Masjid Alfalah 1002174606, bila sudah tranfer kirim Screen Shoot bukti bayar ke 085-88888-6568 087711553344
KOMUNITAS MAB Penggerak Kebaikan, Ilmu dan Iman
https://chat.whatsapp.com/CHdxwdDzfFsGRwWXT6yJ5u

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *