MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Adab di Masjid Menurut Sunah dan Ulama di Era Modern

Masjid sebagai tempat ibadah umat Islam memiliki peran sentral tidak hanya dalam ritual keagamaan, tetapi juga dalam membentuk karakter dan budaya umat. Di era modern, tantangan terhadap adab di masjid semakin kompleks akibat pengaruh teknologi, gaya hidup, dan pemahaman keagamaan yang beragam. Artikel ini membahas secara sistematis tentang adab di masjid berdasarkan sunnah Nabi Muhammad ﷺ, pendapat para ulama, serta tip praktis yang dapat diterapkan umat Islam masa kini agar tetap menjaga kesucian dan kemuliaan masjid sebagai rumah Allah SWT.

Masjid dalam sejarah Islam merupakan pusat kegiatan umat, mulai dari ibadah, pendidikan, hingga musyawarah. Rasulullah ﷺ membangun Masjid Nabawi tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pembinaan umat. Seiring perkembangan zaman, fungsi masjid tetap penting, namun masyarakat modern menghadapi tantangan baru dalam menjaga adab di masjid, termasuk penggunaan gawai, pakaian, hingga interaksi sosial di lingkungan masjid.

Perubahan sosial dan teknologi mengubah cara orang berinteraksi di ruang publik, termasuk masjid. Banyak masjid kini dilengkapi dengan pengeras suara digital, Wi-Fi, bahkan fasilitas multimedia. Sementara hal ini membawa manfaat, tetapi juga dapat mengaburkan batas-batas adab, seperti kebisingan, penggunaan HP saat khutbah, atau bercakap-cakap di dalam masjid. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami kembali adab di masjid berdasarkan sunnah dan pandangan ulama agar dapat menyesuaikan sikap dengan kondisi modern tanpa mengurangi kesakralan rumah ibadah.


10 Adab di Masjid Menurut Sunnah

  1. Masuk Masjid dengan Kaki Kanan dan Membaca Doa Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan membaca doa. Dalam hadits riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa Nabi bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, hendaklah ia mengucapkan: ‘Allahumma iftah li abwaba rahmatik’ (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).” Hal ini menunjukkan bahwa masjid bukan hanya bangunan fisik, tetapi pintu menuju rahmat dan keberkahan Allah. Dengan memulai langkah ke masjid secara benar, seorang Muslim menunjukkan niat ibadah yang sungguh-sungguh dan kesadaran akan kesucian tempat tersebut. Ini menjadi adab pertama yang mengajarkan bahwa setiap gerakan kita di rumah Allah harus dilandasi dengan kesopanan dan ketundukan kepada-Nya.
  2. Melaksanakan Salat Tahiyatul Masjid Sebelum Duduk Nabi ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sebelum salat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Salat tahiyatul masjid merupakan bentuk penghormatan kepada masjid sebagai rumah Allah dan simbol kesiapan hati untuk beribadah. Salat ini dilakukan dua rakaat dengan niat sunnah, dan boleh dilakukan kapan saja masuk masjid selama tidak di waktu-waktu terlarang. Ini juga membantu menenangkan hati sebelum mengikuti kegiatan masjid seperti kajian, salat berjamaah, atau tilawah.
  3. Tidak Mengangkat Suara di Dalam Masjid Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang saling mengeraskan suara dalam masjid telah menyimpang dari adab.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’). Masjid adalah tempat ketenangan dan kekhusyukan, bukan tempat untuk diskusi keras atau pembicaraan duniawi. Bahkan dalam konteks membaca Al-Qur’an, Nabi melarang suara keras yang dapat mengganggu orang lain. Ini menunjukkan bahwa menjaga suasana hening adalah bagian dari menjaga kesucian masjid dan menghormati jamaah yang sedang beribadah.
  4. Tidak Meludah atau Membuang Kotoran di Masjid Nabi ﷺ bersabda: “Meludah di masjid adalah sebuah dosa, dan kafaratnya adalah menimbunnya (membersihkannya).” (HR. Bukhari dan Muslim). Pada masa dahulu, meludah sembarangan dianggap lazim, namun Nabi menegaskan bahwa di masjid, hal itu adalah perbuatan yang tercela. Kini, perbuatan sejenis seperti membuang sampah sembarangan, meninggalkan bekas makanan, atau membawa bau tak sedap juga masuk dalam kategori pelanggaran adab. Masjid harus dijaga kebersihannya karena Allah mencintai kebersihan dan orang-orang yang mensucikan diri (QS. At-Taubah: 108).
  5. Tidak Melewati Orang yang Sedang Salat Nabi ﷺ bersabda: “Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sedang salat tahu dosanya, maka berdiri selama 40 (hari, bulan, atau tahun) lebih baik baginya daripada melewati di depannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan betapa besar pelanggaran melewati orang yang sedang salat. Menghormati ruang khusyuk seseorang dalam ibadah adalah bagian dari akhlak Islam. Jika terpaksa harus lewat, hendaknya mencari jalan di belakang atau menunggu sampai ia selesai. Ini berlaku pula saat kita salat di masjid dengan saf yang rapat dan ramai.
  6. Menjaga Kebersihan dan Penampilan Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah itu indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim). Dalam konteks masjid, kebersihan diri, pakaian bersih dan sopan, serta tidak membawa bau badan atau mulut yang mengganggu merupakan bagian dari adab. Hadits lain menyebutkan bahwa Nabi melarang orang yang baru makan bawang putih atau bawang merah untuk ikut salat berjamaah karena baunya mengganggu malaikat dan manusia (HR. Muslim). Ini menunjukkan pentingnya kesadaran sosial saat berada di masjid.
  7. Tidak Membawa Urusan Dunia ke Dalam Masjid Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila kamu melihat orang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah: ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual belimu’.” (HR. Tirmidzi). Ini menunjukkan larangan menggunakan masjid sebagai tempat transaksi duniawi. Demikian pula, pengumuman kehilangan barang atau promosi kegiatan yang tidak ada kaitan dengan ibadah harus dihindari. Masjid adalah tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk memenuhi kepentingan duniawi semata.
  8. Memperhatikan Pakaian dan Aurat Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 31: “Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” Ini menunjukkan bahwa pakaian yang sopan dan bersih sangat dianjurkan ketika masuk masjid. Mengenakan pakaian pendek, ketat, atau pakaian tidur ke masjid menyalahi adab dan kesopanan. Para ulama menyatakan bahwa berpakaian dengan niat menghormati rumah Allah adalah tanda ketakwaan dan adab mulia seorang Muslim.
  9. Tidak Menyibukkan Diri dengan HP atau Media Sosial Meskipun HP kini sering digunakan untuk membaca Al-Qur’an, namun penggunaannya di masjid harus dibatasi pada hal-hal yang bersifat ibadah. Rasulullah ﷺ tidak menyebut HP tentu saja, tetapi sabdanya: “Sebagian dari kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi). Mengobrol lewat pesan, membuka media sosial, atau berswafoto untuk pamer adalah hal yang tidak sepatutnya dilakukan di dalam masjid. Fokuskan diri untuk berdzikir, belajar, atau beribadah agar kehadiran kita menjadi amal, bukan beban.
  10. Duduk dengan Tertib dan Tidak Menyebar Kaki Rasulullah ﷺ menganjurkan duduk dengan sopan dan tidak menyebarkan kaki atau berbaring sembarangan di masjid. Hadis menyebut bahwa para sahabat duduk bersila atau bertumpu dengan tenang ketika berada di dekat Nabi ﷺ. Masjid bukan tempat untuk bersantai seperti di rumah. Duduk dengan rapi mencerminkan kesungguhan dalam menghadiri majelis ilmu atau menunggu waktu salat, serta menghindari sikap malas dan lalai.

Adab di Masjid Menurut Para Ulama 

  1. Imam Nawawi dalam Al-Adzkar
    Menekankan pentingnya hadir ke masjid dalam keadaan bersih dan berbau harum. Ini merupakan bagian dari sunnah Nabi dan mencerminkan penghormatan terhadap tempat suci Allah. Kebersihan dan wangi-wangian menunjukkan kesiapan lahiriah dan batiniah dalam menyambut pertemuan dengan Allah.
  2. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
    Menggarisbawahi bahwa orang yang memasuki masjid hendaknya menjaga hatinya dari kesibukan dunia. Ia menasihati agar masjid tidak dijadikan tempat berlomba kemewahan atau ajang pamer pakaian. Masjid adalah ruang spiritual, bukan tempat penampilan duniawi.
  3. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma’ad
    Menjelaskan bahwa masjid adalah tempat untuk mencari ridha Allah, bukan popularitas atau keramaian. Oleh karena itu, menjaga niat dan keikhlasan dalam setiap langkah ke masjid menjadi bagian penting dari adab beribadah.
  4. Syaikh Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqh al-Ibadat
    Menyatakan bahwa meskipun zaman telah maju dengan teknologi, adab dasar seperti tidak bermain HP, tidak berbicara keras, dan menjaga kekhusyukan tetap harus dijaga. Dalam konteks khutbah atau shalat, memegang HP untuk hal tak penting adalah bentuk ketidaksopanan terhadap momen ibadah.
  5. Syaikh Ibnu Baz (Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz)
    Memberi fatwa bahwa anak-anak boleh dibawa ke masjid, dengan syarat mereka tidak mengganggu kekhusyukan jamaah lain. Orang tua memiliki tanggung jawab mengajari mereka adab masjid sejak dini agar tumbuh menjadi generasi yang menghormati rumah Allah.
  6. Syaikh Shalih Al-Fauzan
    Menyampaikan bahwa aktivitas seperti memotret atau berswafoto di dalam masjid dengan niat pamer atau demi konten media sosial bisa mengurangi kekhusyukan dan kemurnian ibadah. Masjid bukan tempat narsisme atau aktualisasi diri.
  7. Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi
    Mengkritik tren masjid modern yang terlalu fokus pada kemegahan arsitektur, namun melupakan esensi ibadah dan kedekatan kepada Allah. Menurut beliau, masjid yang indah hanya menjadi bangunan kosong jika tidak dipenuhi ruh iman dan ketundukan.
  8. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali
    Dalam karyanya tentang adab ibadah, beliau menjelaskan bahwa memasuki masjid dengan niat yang benar adalah kunci diterimanya amal. Ia juga menekankan pentingnya dzikir saat masuk dan keluar masjid sebagai pengingat akan kesucian tempat tersebut.
  9. Imam Al-Khatib Al-Baghdadi
    Menulis dalam Al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi bahwa seorang pencari ilmu yang hadir ke masjid harus berpenampilan sopan, rendah hati, dan tidak sombong. Masjid adalah tempat yang mengajarkan tawadhu’ dan penghormatan terhadap ilmu.
  10. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
    Menjelaskan bahwa adab terhadap sesama jamaah sangat penting, seperti tidak melangkahi pundak orang lain, tidak mengganggu dengan bau tidak sedap, dan tidak mengangkat suara tanpa kebutuhan syar’i. Semua ini adalah bentuk penghormatan terhadap hak sesama muslim di rumah Allah.

10 tip adab di masjid di era modern, yang relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap sejalan dengan semangat penghormatan terhadap rumah Allah, meskipun tidak disebut langsung dalam sunah dan hadits:

  1. Matikan atau Diamkan Gadget Sebelum Masuk Masjid Suara notifikasi, nada dering, atau getaran bisa sangat mengganggu suasana khusyuk di masjid. Gunakan mode senyap atau matikan total.
  2. Hindari Selfie atau Konten Medsos Saat Ibadah Mengambil gambar di masjid dengan niat pamer, apalagi saat sedang shalat, bisa mengganggu kekhusyukan dan menodai niat ibadah.
  3. Jangan Membawa Makanan/Minuman yang Berbau Tajam Membawa kopi, makanan cepat saji, atau camilan berbau menyengat bisa mengganggu jamaah lain. Masjid adalah tempat suci, bukan tempat piknik.
  4. Gunakan Pakaian Sopan dan Tidak Mencolok Meskipun berpakaian bebas di era sekarang, saat ke masjid utamakan kesopanan, hindari pakaian ketat, transparan, atau dengan tulisan/ikon yang tidak pantas dan menganggu konsentrasi jamaah di belakang.
  5. Jaga Kebersihan Masjid dari Sampah Digital Selain sampah fisik, banyak orang kini meninggalkan jejak digital seperti QR code tidak relevan, iklan bisnis, atau share link promosi di grup masjid — hal ini bisa mencemari kesucian ruang spiritual.
  6. Gunakan Headset Bila Harus Pakai HP Jika memang ada keperluan penting mendesak (misalnya telepon darurat), gunakan headset dan bicaralah dengan suara sangat pelan di luar ruang utama shalat.
  7. Jaga Privasi dan Tidak Merekam Orang Lain di Masjid Merekam orang saat sedang sujud, menangis, atau sedang ceramah tanpa izin adalah pelanggaran privasi dan etika. Masjid adalah tempat aman, bukan tempat konten.
  8. Jangan Jadikan Masjid Ajang Promosi atau Bisnis Menawarkan produk, membagikan brosur, atau pitching bisnis di dalam masjid tanpa izin pengurus adalah hal yang tidak pantas. Masjid bukan pasar.
  9. Bimbing Anak dengan Sabar dan Aktif Bukan hanya dibiarkan atau dilarang, anak-anak harus diajari dengan kasih sayang dan contoh. Bawa mainan edukatif yang tenang bila perlu, dan duduk bersama mereka.
  10. Hadir Sebagai Jamaah yang Membangun, Bukan Memecah Hindari debat, menyindir, atau membuat konten fitnah dari masjid. Jangan jadikan masjid sebagai tempat menyebarkan konflik atau agenda pribadi.

Adab di masjid berkaitan dengan Anak

  1. Adab anak di masjid merupakan bagian dari pendidikan akhlak dan pembiasaan spiritual sejak usia dini. Ketika orang tua membawa anak ke masjid, itu adalah langkah mulia yang perlu disertai dengan tanggung jawab membimbing dan mengawasi. Anak perlu dikenalkan bahwa masjid adalah rumah Allah, tempat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya, bukan tempat bermain seperti taman atau lapangan. Maka, sejak sebelum masuk, anak bisa diajak membaca doa masuk masjid dan diberi pemahaman bahwa mereka akan berada di tempat suci.
  2. Sikap tenang dan menghormati jamaah lain adalah inti dari adab yang harus dilatih pada anak. Mereka perlu diajarkan untuk duduk dengan tenang, tidak berlari-lari di area shalat, tidak mengobrol keras, serta tidak membawa mainan yang menimbulkan suara atau kekacauan. Jika anak masih sangat kecil dan sulit dikendalikan, sebaiknya orang tua menempatkan diri di bagian pinggir atau dekat pintu agar mudah keluar bila anak mulai rewel. Kesadaran ini menunjukkan tanggung jawab terhadap kenyamanan jamaah lain.
  3. Orang tua memiliki peran utama dalam memberikan contoh nyata adab di masjid. Anak-anak akan meniru apa yang mereka lihat. Bila orang tua datang ke masjid dengan khusyuk, berpakaian sopan, serta bersikap tenang dan santun, anak pun akan meniru sikap itu. Oleh karena itu, menasihati anak dengan lembut serta mengajaknya terlibat dalam ibadah — seperti duduk saat khutbah, mengikuti gerakan shalat, atau mengucap dzikir sederhana — bisa menjadi sarana belajar yang efektif dan penuh makna.
  4. Penting juga untuk tidak menjadikan masjid sebagai tempat menakutkan bagi anak. Terkadang ada jamaah dewasa yang mudah marah atau membentak anak karena merasa terganggu. Sikap ini justru bisa menumbuhkan rasa takut dan ketidaksukaan terhadap masjid di hati anak. Sebaliknya, anak harus merasa disambut dan diperhatikan. Bila mereka membuat kesalahan, teguran yang lembut dan penuh kasih akan lebih mengena dan membekas dalam hati mereka.
  5. Dengan membiasakan adab masjid sejak kecil, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang mencintai rumah Allah dan terbiasa berakhlak baik di tempat umum. Masjid pun akan menjadi ruang yang hidup dan menyenangkan bagi semua kalangan usia. Menanamkan adab pada anak bukan sekadar melatih sopan santun, tetapi juga menanam benih iman, cinta, dan hormat terhadap tempat ibadah yang akan tumbuh bersamaan dengan kedewasaan mereka kelak.

Kesimpulan

Masjid adalah tempat paling mulia di muka bumi dan harus dijaga kehormatannya dengan adab yang benar. Di era modern ini, adab di masjid tidak hanya berhubungan dengan sikap lahiriah, tetapi juga dengan penggunaan teknologi dan etika sosial yang berkembang. Sunnah Rasulullah ﷺ dan nasihat para ulama memberikan panduan jelas untuk tetap menjaga masjid sebagai pusat ibadah, ilmu, dan kedamaian umat. Dengan menerapkan adab yang baik, umat Islam dapat menjadikan masjid sebagai tempat yang tidak hanya nyaman secara fisik, tetapi juga penuh keberkahan dan ketenangan batin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *