MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Sunnah di Hari Jumat: Spiritualitas dan Keutamaan yang Terlupakan

Hari Jumat merupakan hari yang agung dalam Islam, bahkan disebut sebagai “sayyidul ayyām” (penghulu segala hari). Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam menjelaskan banyak keutamaan yang terkandung dalam hari ini, serta menganjurkan beberapa amalan sunnah yang dapat dilakukan untuk meraih pahala dan keberkahan. Namun, di tengah derasnya arus modernitas dan rutinitas duniawi, banyak umat, khususnya generasi muda, yang mulai melupakan tradisi sunnah hari Jumat. Artikel ini mengulas beberapa sunnah penting yang dianjurkan Nabi, mulai dari mandi Jumat, membaca surat Al-Kahfi, hingga memperbanyak shalawat, serta pentingnya menumbuhkan kesadaran spiritual terhadap keistimewaan hari Jumat

Hari Jumat memiliki posisi istimewa dalam Islam, bahkan disebut sebagai hari raya mingguan bagi kaum Muslimin. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat.” (HR. Muslim). Pada hari inilah Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan darinya. Keistimewaan ini menjadikan hari Jumat sebagai momen ibadah yang memiliki banyak keutamaan, serta waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih dan doa. Maka tidak heran jika para sahabat dan generasi salaf sangat memperhatikan sunnah-sunnah yang terkait dengan hari ini.

Sayangnya, banyak umat Islam saat ini, terutama generasi muda, yang kurang memahami dan mengamalkan keutamaan hari Jumat secara maksimal. Kesibukan duniawi, minimnya edukasi keagamaan, dan kurangnya keteladanan dalam lingkungan sekitar membuat sunnah-sunnah Jumat mulai ditinggalkan. Padahal, jika dimaknai dengan baik, amalan-amalan sunnah tersebut bukan hanya meningkatkan pahala, tetapi juga menjadi sarana membangun kedekatan dengan Allah SWT dan memperkuat jati diri keislaman. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sunnah hari Jumat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan anak muda.

MEMBACA SURAH AL KAHFI DI HARI JUM’AT

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ
أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

PERBANYAK SHALAWAT DI HARI JUM’AT

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)

BERHIASLAH DI HARI JUM’AT

Dari Salman al-Farisi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنَ الطُّهْرِ، وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْـرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يَنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.

“Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jum’at, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Setelah itu berminyak rambut atau memakai wangi-wangian dari rumahnya. Kemudian keluar (menuju masjid), tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sunnah semampunya. Lantas diam ketika imam berkhutbah, melainkan diampuni dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang lain.”
(HR. Bukhari dalam kitab Fathul Baari 2/370 no. 883)

BERSEGERALAH KE MASJID PADA HARI JUM’AT

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.

“Apabila hari Jumat tiba maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat setiap orang yang datang dari yang pertama, lalu berikutnya dan berikutnya. Hingga ketika Imam telah naik di mimbarnya para malaikat pun menutup catatan-catatannya, lalu mereka ikut mendengarkan khutbah.” (HR. Bukhari 3211)

WAKTU DO’A MUSTABAH DI HARI JUM’AT

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً ، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Pada hari jumat ada 12 jam. (Diantaranya ada satu waktu, apabila ada seorang muslim yang memohon kepada Allah di waktu itu, niscaya akan Allah berikan. Carilah waktu itu di penghujung hari setelah asar. (HR. Abu Daud 1048, HR An Nasai 1389 dan dishahihkan al-Albani).

PERBANYAKLAH BERDO’A DI HARI JUM’AT

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat, lantas beliau bersabda,

فيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari : 935, HR Muslim : 2006)

Kesimpulan
Sunnah-sunnah hari Jumat bukan sekadar ritual simbolik, melainkan sarana peningkatan spiritualitas dan kedekatan kepada Allah SWT. Sunnah seperti mandi sebelum salat Jumat, mengenakan pakaian terbaik, membaca surat Al-Kahfi, memperbanyak doa dan shalawat, serta datang lebih awal ke masjid, semuanya memiliki dimensi ibadah dan hikmah yang dalam. Melaksanakan sunnah-sunnah tersebut menjadikan Jumat bukan hanya hari biasa, tetapi momen istimewa untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Saran untuk Generasi Muda

  1. Generasi muda perlu diberikan edukasi dan teladan nyata tentang pentingnya sunnah hari Jumat sejak dini, baik di rumah maupun di sekolah.
  2. Media sosial dan platform digital yang mereka gandrungi harus digunakan sebagai sarana kreatif untuk mengajak mereka menghidupkan sunnah hari Jumat secara konsisten.
  3. Lingkungan masjid perlu lebih terbuka dan ramah anak muda agar mereka merasa nyaman ikut salat Jumat dan kajian. Dengan begitu, semangat berislam tidak hanya tumbuh dalam ruang intelektual, tapi juga dalam praktik keseharian yang sunnah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *