Ceramah Tarawih : Prof Dr Abdul Mu’ti M Ed: Keutamaan Bersedekah dan Bahaya Kebakhilan dalam Al-Qur’an
Prof Dr Abdul Mu’ti M Ed, Menteri Kemendiknas Dasar Menengah Republik Indonesia, Ketua Pembina Masjid Al-Falah Benhil Jakarta
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Barang siapa yang mau berderma (bersedekah), bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik (Jannah), maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebaikan). Dan adapun orang yang bakhil, merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesulitan.”
(QS. Al-Lail: 5-10)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang berinfaq dan membenarkan janji Allah tentang pahala di akhirat akan mendapatkan kemudahan dalam kehidupannya. Sebaliknya, orang yang kikir, enggan berbagi, dan mendustakan hari akhir akan mengalami berbagai kesulitan dalam hidupnya. Ulama tafsir menjelaskan bahwa “jalan menuju kemudahan” berarti Allah akan memudahkan orang-orang yang bertakwa dalam berbagai urusan, baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan bagi mereka yang bakhil dan mendustakan kebenaran, Allah akan menjerumuskan mereka dalam berbagai kesulitan, bahkan di dunia mereka akan hidup dalam kesempitan dan kegelisahan.
Balasan di Hari Akhir: Perbedaan Orang Beriman dan Tidak Beriman
Orang yang beriman meyakini bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah tujuan utama yang kekal. Islam mengajarkan bahwa dunia ini adalah tempat menanam kebaikan, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasilnya. Oleh karena itu, orang yang beriman akan memanfaatkan hidupnya dengan beramal saleh, membantu sesama, dan menjalankan perintah Allah. Sebaliknya, orang yang tidak beriman hanya menganggap dunia sebagai satu-satunya kehidupan, sehingga mereka cenderung mengejar kepuasan duniawi tanpa memikirkan dampak amal perbuatannya di akhirat. Inilah perbedaan mendasar antara manusia yang beragama dan yang tidak beragama.
Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa bagi orang yang bertakwa, Allah akan membentangkan kebahagiaan dan kemudahan baginya, baik di dunia maupun di akhirat. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3). Orang yang bertakwa akan mendapatkan kemudahan dalam urusan hidupnya karena mereka menjalani kehidupan sesuai dengan aturan Allah. Bahkan jika mereka menghadapi kesulitan, Allah akan memberikan pertolongan yang tidak terduga, bisa melalui orang-orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.
Kenapa Orang Bertakwa Dimudahkan Urusannya?
Orang yang bertakwa selalu berusaha membantu orang lain, meskipun tidak mengharapkan balasan secara langsung. Allah membalas kebaikan mereka dengan cara yang tidak terduga, baik dalam bentuk rezeki, kesehatan, maupun kemudahan dalam urusan dunia. Ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim No. 2699). Pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka, termasuk melalui orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal.
Bahaya Kebakhilan dan Akibatnya di Dunia dan Akhirat
Sebaliknya, orang yang bakhil (pelit) dan bahkan menghalangi orang lain untuk berbuat kebaikan, akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Allah berfirman:
“Dan adapun orang yang bakhil serta merasa dirinya cukup (tidak butuh Allah), serta mendustakan pahala terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesukaran.”
(QS. Al-Lail: 8-10)
Orang yang kikir dan menolak membantu sesama akan mengalami berbagai kesulitan dalam hidupnya, baik dalam urusan rezeki, ketenangan hati, maupun hubungan sosial. Mereka akan selalu merasa kekurangan, dirundung masalah, dan sering kali tidak mendapatkan pertolongan dari orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan. Kehidupan mereka penuh kesulitan, dan di akhirat mereka akan menghadapi azab yang pedih karena menolak perintah Allah dan tidak berbuat baik kepada sesama.
Islam Mengajarkan Saling Tolong-Menolong
Islam mengajarkan agar manusia tidak hanya menolong dirinya sendiri, tetapi juga menolong orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang menolong saudaranya dalam kesulitan, maka Allah akan menolongnya dalam kesulitannya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim No. 2699)
Selain itu, dalam hadis lain, Nabi ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan jahat, maka Allah tidak membutuhkan puasanya.”
(HR. Bukhari No. 1903).
Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga diri dari perbuatan buruk seperti dusta dan menyakiti orang lain. Oleh karena itu, Islam memberikan tuntunan agar umatnya selalu berbuat baik, jujur, dan saling membantu, sehingga kehidupan menjadi lebih berkah dan penuh dengan pertolongan Allah. Semoga kita semua diberi kelapangan hati dan rezeki serta dijauhkan dari sifat bakhil dan kedustaan.


















Leave a Reply