MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Ziad Muhammad Lc: Evaluasi Keislaman dan Kedekatan dengan Al-Qur’an

Lima Hal yang Menjauhkan dari Al-Qur’an

Ziad Muhammad LC dalam Kajian Ilmiah Islam Subuh Ramadan MAB: Gema Ramadan, Gemakan Ilmu, Ibadah, dan Amal

Dalam kajian ilmiah Islam subuh Ramadan yang diselenggarakan oleh Majelis Al-falah Benhil Jakarta (MAB), Ustaz Ziad Muhammad LC menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk menggemakan ilmu, ibadah, dan amal. Beliau mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga waktu untuk memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Bulan Ramadan adalah bulan ilmu, di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup. Jangan hanya mengingat Allah di masjid, lalu melupakan-Nya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Kajian ini dihadiri oleh jamaah MAB yang antusias mengikuti tausiyah dan berdiskusi tentang bagaimana mengoptimalkan Ramadan sebagai sarana peningkatan spiritual dan sosial.

Bulan Ramadan adalah momentum bagi setiap Muslim untuk mengevaluasi keislamannya. Ramadan mengajarkan kita untuk menyadari sejauh mana kita menjalankan ajaran Islam dengan sebenar-benarnya. Tidak cukup hanya mengingat Allah di masjid, lalu melupakan-Nya ketika berada di luar. Justru, Ramadan mengajarkan kita untuk lebih mendalami Al-Qur’an, mempelajari dan mentadabburinya agar menjadi petunjuk dalam kehidupan.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits sahih: “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya membaca Al-Qur’an dalam ibadah, terutama dalam shalat. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar formalitas, tetapi harus disertai pemahaman dan penghayatan agar dapat meningkatkan kualitas ibadah.

Lima Hal yang Menjauhkan dari Al-Qur’an

1. Kesombongan dan Merasa Pintar

Salah satu faktor yang menjauhkan seseorang dari Al-Qur’an adalah kesombongan. Orang yang merasa dirinya sudah cukup pintar sering kali menolak petunjuk Al-Qur’an. Padahal, Allah berfirman:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti) sekalipun nenek moyang mereka itu tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170).

Kesombongan membuat seseorang menganggap bahwa hanya orang-orang bodoh yang mengikuti Al-Qur’an. Padahal, hakikatnya justru Al-Qur’an adalah sumber ilmu tertinggi bagi manusia.

2. Lingkungan dan Budaya

Lingkungan dan budaya yang tidak Islami juga menjadi penghalang dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Jika seseorang terbiasa berada di lingkungan yang mengabaikan ajaran Islam, maka ia akan sulit untuk menerima kebenaran.

Ayat yang membahas tentang orang-orang yang menolak mengikuti petunjuk Allah dan lebih memilih mengikuti nenek moyang mereka terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 170:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti) sekalipun nenek moyang mereka itu tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”

Penjelasan Ayat

Ayat ini menjelaskan sifat sebagian manusia yang menolak kebenaran dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Mereka tidak mau menerima ajaran Al-Qur’an meskipun petunjuk itu datang langsung dari Allah. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan adat dan kebiasaan lama daripada kebenaran yang hakiki.

Allah mengingatkan bahwa tidak semua tradisi nenek moyang itu benar. Jika suatu ajaran atau kebiasaan bertentangan dengan wahyu Allah, maka seorang Muslim wajib meninggalkannya dan mengikuti Al-Qur’an serta sunnah Rasulullah ﷺ. Sikap fanatik terhadap adat tanpa mempertimbangkan kebenaran akan menyesatkan seseorang dari jalan Allah. Oleh karena itu, setiap Muslim harus menggunakan akal dan ilmu dalam memahami ajaran Islam, bukan sekadar mengikuti tradisi turun-temurun tanpa berpikir kritis.

Banyak orang lebih memilih mengikuti adat dan tradisi nenek moyang tanpa memeriksa apakah itu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran, agar kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu…” (QS. An-Nisa: 105).

Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati dalam memilih lingkungan dan budaya yang diikuti. Jika tidak, ia akan semakin jauh dari Al-Qur’an.

3. Kegagalan dalam Memahami Al-Qur’an

Banyak orang membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya. Mereka terburu-buru dalam membaca, sehingga kehilangan kesempatan untuk merenungkan ayat-ayatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Agar dapat memahami Al-Qur’an dengan baik, seseorang harus membacanya berulang-ulang, merenungi maknanya, dan tidak tergesa-gesa. Allah berfirman: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82).

4. Pengaruh Setan dan Hawa Nafsu

Setan dan hawa nafsu adalah musuh terbesar manusia yang selalu berusaha menjauhkan dari Al-Qur’an. Allah berfirman dalam QS. Al-Furqan: 43: “Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

Setan akan selalu berusaha membisikkan godaan agar manusia malas membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Oleh karena itu, seorang Muslim harus banyak berdzikir, beristighfar, dan berusaha mengikuti petunjuk Al-Qur’an secara menyeluruh. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 208).

5. Kekurangan Iman dan Taqwa

Kurangnya iman dan taqwa membuat seseorang tidak mampu mengikuti kebenaran Al-Qur’an. Allah berfirman:

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7).

Ketika seseorang merasa tidak membutuhkan petunjuk Al-Qur’an, ia akan semakin jauh dari kebenaran. Oleh karena itu, marilah kita menerima Al-Qur’an dengan hati yang bersih, agar tidak menjadi orang-orang yang kufur dan sombong terhadap petunjuk Allah.

Keutamaan Mempelajari Al-Qur’an di Bulan Ramadan

Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah berfirman: “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Rasulullah ﷺ bersabda: “Yang utama dari umatku adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Oleh karena itu, di bulan Ramadan ini, kita harus semakin giat dalam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Allah juga berfirman dalam QS. Shad: 29: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” Maka, marilah kita manfaatkan bulan Ramadan ini dengan memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.

Ayat Al-Qur’an dan hadits shahih yang menekankan pentingnya mempelajari, membaca, dan mengajarkan Al-Qur’an, khususnya di bulan Ramadan:

1. Al-Qur’an Diturunkan di Bulan Ramadan QS. Al-Baqarah (2): 185 “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)…” Penjelasan: Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dan batil. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi waktu yang sangat utama untuk membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an.

2. Al-Qur’an Sebagai Pembeda Antara yang Haq dan Batil. QS. As-Shaff (61): 29 “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” Penjelasan: Ayat ini menjelaskan bahwa Islam dan Al-Qur’an adalah kebenaran mutlak yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

3. Al-Qur’an Penuh dengan Berkah untuk Diterapkan dan Direnungi. QS. Shad (38): 29 “(Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mengambil pelajaran.”Penjelasan:
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi harus direnungkan dan dipahami isinya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Jika Al-Qur’an Bukan dari Allah, Akan Ada Pertentangan di Dalamnya.QS. An-Nisa (4): 82“Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” Penjelasan:
Ayat ini mengajak manusia untuk merenungi bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang sempurna, tidak ada kontradiksi di dalamnya.

5. Mengapa Mereka Tidak Merenungi Al-Qur’an? QS. Muhammad (47): 24 “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” Penjelasan: Allah mencela orang-orang yang tidak mau merenungi isi Al-Qur’an karena hati mereka tertutup oleh dosa dan kesombongan.

6. Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah. QS. Az-Zumar (39): 53
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” Penjelasan:
Ayat ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan mengajak orang-orang yang berdosa untuk kembali kepada-Nya dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Hadits Shahih Tentang Keutamaan Mempelajari Al-Qur’an

  1. Sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
    “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
    (HR. Bukhari, No. 5027)Penjelasan: Hadits ini menegaskan bahwa kedudukan tertinggi di sisi Allah adalah bagi mereka yang memahami dan mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain.
  2. Keutamaan Membaca Al-Qur’an
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.”
    (HR. Tirmidzi, No. 2910 – Shahih)Penjelasan: Membaca Al-Qur’an meskipun hanya satu huruf tetap mendapat pahala yang besar.
  3. Meremehkan Al-Qur’an Berarti Meremehkan Allah
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Barang siapa diberi Al-Qur’an tetapi ia menganggap remeh, maka sesungguhnya ia telah meremehkan hak Allah.” (HR. Baihaqi – Hasan)Penjelasan: Hadits ini mengingatkan agar kita tidak mengabaikan Al-Qur’an dan selalu menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ، الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ نُورًا لِقُلُوبِنَا، وَشِفَاءً لِصُدُورِنَا، وَهُدًى لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk ahli Al-Qur’an, yang merupakan keluarga-Mu dan hamba pilihan-Mu. Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai cahaya di hati kami, penawar di dada kami, dan petunjuk bagi kami di dunia dan akhirat.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *