MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

PESAN JUMAT: Jagalah Lisan Supaya Tidak Menyakiti Orang Lain

Lisan adalah anugerah besar dari Allah yang dapat membawa kebaikan atau keburukan, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Dalam Islam, menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain sangat ditekankan, karena perkataan yang tidak terkendali bisa merusak hubungan, menyebabkan permusuhan, dan bahkan mendatangkan dosa besar. Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan umatnya untuk berbicara dengan baik, menghindari ghibah, fitnah, serta perkataan yang menyakitkan, karena hal tersebut dapat merusak keharmonisan sosial dan menyakiti hati orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, lisan yang baik adalah salah satu tanda keimanan, dan kita harus berusaha untuk berbicara dengan penuh hikmah, mengedepankan kebaikan, serta menjaga hati dan perasaan sesama agar tidak ada yang tersakiti oleh kata-kata kita.

Lisan adalah salah satu nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia, namun sering kali digunakan untuk tujuan yang tidak baik dan dapat menyakiti orang lain. Dalam Islam, menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak mulia yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT dalam Al-Qur’an berfirman dalam Surah Al-Hujurat (49:11), “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.” Ayat ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berbicara, karena lisan yang tidak terkendali bisa menyebabkan permusuhan, fitnah, dan kerusakan dalam hubungan sosial. Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya menjaga lisan dalam banyak hadis, salah satunya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, dalam banyak kesempatan, Rasulullah SAW memperingatkan umatnya agar tidak menggunakan kata-kata yang menyakiti perasaan orang lain. Lisan yang tidak terjaga bisa menyebabkan penyesalan yang mendalam, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Bahkan, dalam beberapa hadis, beliau menyatakan bahwa lisan yang buruk adalah salah satu penyebab utama masuknya seseorang ke dalam neraka, sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya seseorang itu akan berbicara dengan satu kalimat yang ia anggap tidak berbahaya, tetapi ia akan jatuh ke dalam api neraka yang sangat dalam” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga sebuah ibadah yang harus dilakukan oleh setiap Muslim.

Bahasa lisan semakin berkembang setiap hari. Perubahan gaya berbicara dari waktu ke waktu seperti mengarah kepada hilangnya rasa hormat dan menghargai lawan bicara. Pada zaman sekarang, perilaku interaksi verbal manusia sering tidak memperhatikan perasaan lawan bicara. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, termasuk pengaruh budaya bicara daerah lain yang dikonsumsi oleh generasi milenial dan masyarakat kelompok dewasa melalui media sosial.

Seseorang harus menjaga ucapan lisannya sebagaimana perintah Allah dalam surat Al-Ahzab, ayat 70-71:

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang benar! Maka Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah meraih kemenangan yang besar.”

Menurut Imam Al-Qurthubi dalam kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, juz 14, halaman 253, Qaulan Sadidan mencakup seluruh ucapan yang baik dan benar, akan tetapi dalam konteks ayat ini ia dimaknai sebagai ucapan yang tidak menyakiti Rasul dan orang-orang beriman.

Hadits yang disampaikan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Sunan at-Tirmidzi, juz 4, halaman 605: “Ketika pagi hari mendatangi manusia, maka seluruh anggota tubuh memberikan peringatan kepada lisan dengan berkata ‘bertakwalah kamu kepada Allah untuk kami karena kami sangat bergantung kepadamu. Jika kamu istiqomah, maka kami istiqomah dalam kebaikan. Jika kamu menyimpang, maka kami juga akan menyimpang’.” Hadits ini menggambarkan betapa pentingnya peran lisan dan ucapan dalam perilaku manusia. Jika ucapan manusia baik, maka perilakunya akan menjadi baik. Jika ucapan manusia buruk, maka perilakunya juga akan menjadi buruk.

Dari sudut psikologis, ucapan yang baik memang dapat menimbulkan perbuatan yang baik.   Hal ini karena lisan atau ucapan adalah ungkapan yang keluar dari dalam hati manusia, maka ia menggambarkan karakter dan perilaku manusia. Hal ini tersirat dari penjelasan Imam Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’ at-Tirmidzi ketika menjelaskan hadits ini pada juz 7, halaman 75: اللِّسَانُ تُرْجُمَانُ الْقَلْبِ وَخَلِيفَتُهُ فِي ظَاهِرِ الْبَدَنِ Artinya: “Lisan adalah penerjemah bahasa hati dan implementasi hati yang nampak dari tubuh seseorang.”

Tanggung jawab ucapan sangat besar, bahkan ia dianggap kunci kebahagiaan dan kesengsaraan seseorang di akhirat. Lisan dapat memasukkan manusia ke dalam surga, sekaligus dapat menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Hal ini ditegaskan Nabi pada hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihul Bukhari, juz 8, halaman 101: إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ Artinya, “Sesungguhbya seorang manusia yang berbicara dengan kata-kata yang disukai Allah yang ia tidak mempedulikannya, akan tetapi Allah mengangkatnya beberapa derajat dengan ucapan itu. Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang dibenci Allah yang ia tidak mempedulikannya, akan tetapi Allah akan menghempaskannya ke dalam neraka dengan ucapan itu.”

Contoh Lisan yang Menyakiti Orang Lain

  1. Mencaci Maki dan Menghina Orang Lain
    Menghina seseorang dengan kata-kata yang merendahkan martabatnya adalah salah satu bentuk lisan yang menyakiti. Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mengharuskan kita saling menghargai dan menghormati.
  2. Ghibah (Menggunjingkan Orang Lain)
    Ghibah, atau membicarakan keburukan orang lain di belakangnya, meskipun itu benar, tetap merupakan dosa besar dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat (49:12), “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” Ghibah dapat merusak hubungan antar sesama dan menimbulkan permusuhan.
  3. Fitnah
    Menyebarkan informasi yang tidak benar tentang seseorang untuk merusak reputasinya adalah salah satu perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Hujurat (49:6), “Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.”
  4. Mengancam atau Memaki dengan Kata-kata Keras
    Kata-kata ancaman atau makian tidak hanya menyakitkan, tetapi juga bisa menimbulkan trauma psikologis pada orang yang mendengarnya. Dalam hadits, Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk berbicara dengan lembut dan bijak.
  5. Berbohong atau Menyebarkan Kebohongan
    Menyebarkan kebohongan tentang seseorang atau sesuatu yang dapat merugikan orang lain adalah salah satu perbuatan tercela yang harus dihindari. Dalam Islam, berbicara jujur adalah hal yang sangat ditekankan, dan bohong adalah dosa besar.

Kesimpulan 

  • Menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain adalah kewajiban setiap Muslim yang harus dijaga dengan penuh kesadaran. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan banyak petunjuk tentang bagaimana seharusnya kita berbicara dengan baik, menghindari perkataan yang dapat merusak hubungan dan menyebabkan perpecahan.
  • Menyebarkan kebaikan melalui lisan adalah salah satu cara untuk mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, lisan yang digunakan untuk mengkritik, mencaci, atau menyebarkan kebohongan akan mendatangkan dosa dan kerugian yang besar.

Saran

  • Penting bagi kita untuk selalu menjaga perkataan, berpikir sebelum berbicara, dan berusaha berbicara dengan cara yang mendatangkan manfaat bagi orang lain.
  • Dalam kehidupan sehari-hari, mari kita lebih banyak berbicara dengan kata-kata yang baik, yang bisa mencerahkan dan mendamaikan, serta menghindari segala bentuk perkataan yang bisa menyinggung perasaan atau merusak hubungan antar sesama.
  • Jika kita dapat menjaga lisan dengan baik, insya Allah, kita akan terhindar dari banyak keburukan dan menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah dan sesama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *