MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Adab dan Tatacara Mengucap Shalawat Nabi

Membaca shalawat Nabi adalah amalan yang dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56). Dalam hadis, Rasulullah ﷺ juga menegaskan keutamaan shalawat, di antaranya bahwa siapa yang bershalawat kepadanya sekali, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh rahmat. Oleh karena itu, shalawat dianjurkan untuk dibaca dalam berbagai kesempatan, seperti setelah adzan, dalam doa, saat memasuki dan keluar masjid, serta pada hari Jumat yang memiliki keutamaan khusus.

Dalam membaca shalawat, terdapat adab yang dianjurkan berdasarkan sunnah, di antaranya adalah membacanya dengan khusyuk, penuh keikhlasan, serta tidak tergesa-gesa. Dianjurkan untuk menghadap kiblat, dalam keadaan suci (berwudhu), dan membaca dengan suara yang tidak terlalu keras atau berlebihan. Selain itu, shalawat sebaiknya diiringi dengan dzikir dan doa yang baik, serta dibaca dengan lafaz yang telah diajarkan oleh Nabi ﷺ, seperti Shalawat Ibrahimiyah yang biasa dibaca dalam tahiyat akhir shalat. Menghindari tambahan lafaz atau cara yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi juga merupakan bagian dari menjaga kemurnian ibadah ini. Dengan mengikuti tatacara dan adab yang benar, membaca shalawat menjadi lebih bermakna dan diharapkan dapat mendatangkan keberkahan serta syafaat Rasulullah ﷺ di hari kiamat

Membaca shalawat Nabi adalah amalan yang dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Berikut adalah tatacara dan adab membaca shalawat Nabi menurut Al-Qur’an dan Sunnah:


I. Tatacara Membaca Shalawat Nabi

  1. Niat yang Ikhlas
    • Membaca shalawat harus dengan niat yang tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
  2. Menyebut Nama Nabi dengan Penuh Hormat
    • Menggunakan nama lengkap Rasulullah ﷺ dengan penghormatan, seperti: “Allahumma salli ‘ala Muhammad”
  3. Duduk dengan Tenang dan Menghadap Kiblat (Jika Memungkinkan)
    • Meskipun tidak wajib, duduk dengan tenang dan menghadap kiblat menunjukkan adab dalam beribadah.
  4. Menggunakan Lafaz Shalawat yang Shahih
    • Shalawat yang terbaik adalah yang diajarkan oleh Nabi sendiri, seperti:
      “Allahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibraahim wa ‘ala aali Ibraahim, innaka hamiidun majiid”
      (HR. Bukhari & Muslim)
  5. Dibaca dengan Suara yang Lembut dan Khusyuk
    • Tidak perlu terlalu keras, cukup dengan suara pelan atau dalam hati dengan penuh penghayatan.
  6. Membaca Shalawat di Waktu-waktu yang Dianjurkan
    • Beberapa waktu yang utama untuk membaca shalawat:
      • Setelah adzan (HR. Muslim)
      • Setiap kali mendengar nama Nabi disebut (HR. Tirmidzi)
      • Dalam doa (HR. Abu Dawud)
      • Pada hari Jumat (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

II. Adab Membaca Shalawat Nabi

  1. Berwudhu Sebelum Membaca (Jika Memungkinkan)
    • Walaupun tidak wajib, membaca shalawat dalam keadaan suci lebih utama.
  2. Menjaga Kesopanan dan Kekhusyukan
    • Tidak membaca dengan tergesa-gesa atau sambil melakukan hal yang kurang sopan.
  3. Mengiringi dengan Dzikir dan Doa
    • Shalawat lebih baik jika disertai dengan dzikir dan doa kepada Allah.
  4. Mengamalkan dalam Kehidupan Sehari-hari
    • Selain membaca, juga meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan.

Dalil dari Al-Qur’an dan Hadis

  1. Perintah Allah untuk Bershalawat:
    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
    (QS. Al-Ahzab: 56)
  2. Keutamaan Shalawat dalam Hadis:
    • Rasulullah ﷺ bersabda:
      “Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
    • “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Hukum Membaca Shalawat Nabi dengan Musik, Menari, dan Berjoged Menurut Empat Mazhab

Dalam Islam, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah ibadah yang dianjurkan dan memiliki banyak keutamaan. Namun, terdapat perbedaan pendapat di antara empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) mengenai hukum membaca shalawat dengan disertai musik, menari, dan berjoged.


Pendapat Empat Mazhab

1. Mazhab Hanafi

  • Hukum membaca shalawat: Sunnah dan dianjurkan.
  • Menggunakan musik: Dilarang (haram) karena alat musik dianggap sebagai hal yang melalaikan dan mendekati maksiat (Lihat: Al-Ashbah wa An-Nazha’ir oleh Imam As-Suyuthi).
  • Menari dan berjoged: Makruh atau haram, terutama jika dilakukan dengan gerakan yang berlebihan dan menyerupai perilaku orang fasik.

Membaca shalawat tanpa musik dan tarian lebih utama. Jika diiringi dengan musik dan gerakan berlebihan, maka tidak diperbolehkan karena dapat menghilangkan kekhusyukan dan menyerupai perbuatan sia-sia.


2. Mazhab Maliki

  • Hukum membaca shalawat: Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).
  • Menggunakan musik: Haram, karena alat musik umumnya dikategorikan sebagai hal yang melalaikan (Lihat: Mawahib Al-Jalil, Syarh Mukhtasar Khalil).
  • Menari dan berjoged: Diharamkan, terutama jika dilakukan di tempat umum atau dengan cara yang tidak pantas.

Membaca shalawat dengan musik, menari, atau berjoged diharamkan karena dianggap tidak sesuai dengan adab dalam beribadah dan mendekati perbuatan ahli maksiat.


3. Mazhab Syafi’i

  • Hukum membaca shalawat: Sunnah dan berpahala besar.
  • Menggunakan musik: Terjadi perbedaan pendapat.
    • Jika musiknya bersifat melalaikan dan menyerupai hiburan orang fasik, maka hukumnya haram.
    • Jika hanya alat musik sederhana (seperti rebana dalam maulid), dan tidak melanggar syariat, ada yang membolehkan (Lihat: I’anatuth Thalibin).
  • Menari dan berjoged:
    • Jika dilakukan dengan tenang dan penuh adab dalam konteks ekspresi cinta kepada Nabi, ada yang membolehkan dengan syarat tidak berlebihan.
    • Jika menyerupai perbuatan yang tidak pantas, maka diharamkan.
  • Membaca shalawat dengan musik sederhana seperti rebana dalam perayaan keagamaan tertentu masih diperbolehkan.
  • Menari dan berjoged diperbolehkan dalam batas wajar, tidak berlebihan, dan tidak menimbulkan fitnah.

4. Mazhab Hanbali

  • Hukum membaca shalawat: Sunnah yang sangat dianjurkan.
  • Menggunakan musik: Haram, karena dianggap sebagai alat yang bisa melalaikan dan menyerupai perbuatan maksiat (Lihat: Al-Mughni oleh Ibn Qudamah).
  • Menari dan berjoged: Dilarang, terutama jika dilakukan dalam suasana yang menyerupai hiburan berlebihan.

Shalawat harus dibaca dengan khusyuk, tanpa diiringi musik, tarian, atau gerakan yang dapat menghilangkan kekhusyukan dalam ibadah.

Dari keempat mazhab tersebut, mazhab Syafi’i memberikan sedikit kelonggaran untuk penggunaan musik sederhana (seperti rebana dalam maulid) dan ekspresi kegembiraan dalam batas yang wajar. Sedangkan mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali cenderung melarang karena dianggap tidak sesuai dengan adab beribadah.

Saran

  • Jika ingin membaca shalawat, lebih baik dilakukan dengan penuh kekhusyukan tanpa musik dan tarian.
  • Jika ingin menggunakan alat musik seperti rebana dalam perayaan Maulid, sebaiknya tidak berlebihan dan tetap menjaga adab.
  • Menghindari joged atau tarian yang menyerupai hiburan duniawi, karena dapat menghilangkan nilai ibadah dalam shalawat.

Kesimpulan

Membaca shalawat adalah ibadah yang sangat dianjurkan dengan adab yang baik, seperti niat ikhlas, mengucapkan dengan hormat, dan membacanya di waktu-waktu utama. Semakin sering seseorang bershalawat, semakin banyak keberkahan yang didapat.

Semoga kita termasuk orang yang selalu mengingat Rasulullah ﷺ dengan penuh cinta dan penghormatan. Aamiin.

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’anul Karim QS. Al-Ahzab: 56 – Perintah Allah untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
  2. Hadis Shahih
    • Shahih Bukhari Hadis tentang shalawat Ibrahimiyah dalam shalat (HR. Bukhari, No. 6357).
    • Shahih Muslim Keutamaan membaca shalawat: “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, No. 408).
    • Sunan Abu Dawud Keutamaan membaca shalawat dalam doa (HR. Abu Dawud, No. 976).
    • Sunan Tirmidzi Hadis tentang orang yang paling dekat dengan Nabi di hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat (HR. Tirmidzi, No. 484).
  3. Kitab-Kitab Ulama
    • An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Keutamaan Shalawat kepada Nabi ﷺ.
    • Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir QS. Al-Ahzab: 56.
    • Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifa bi Ta’rif Huquqil Musthafa, Bab tentang shalawat kepada Nabi ﷺ.
  4. Sumber Tambahan
    • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari.
    • Imam As-Suyuthi, Tanwirul Hawalik, tentang keutamaan shalawat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *