MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Mengenal Jenis-Jenis Hadis dalam Islam: Panduan Lengkap untuk Memahami Sumber Hukum Islam

Hadis dalam Islam dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan kuantitas perawi, kualitas, dan sumbernya. Berdasarkan kuantitas perawi, hadis dibagi menjadi hadis mutawatir yang diriwayatkan oleh banyak perawi pada setiap tingkat sanadnya, sehingga dijamin keasliannya, dan hadis ahad yang diriwayatkan oleh sedikit perawi, meskipun tetap sah digunakan sebagai sumber hukum. Berdasarkan kualitas, hadis dibagi menjadi hadis shahih yang memiliki sanad yang bersambung dan perawi yang adil serta kuat ingatannya, hadis hasan yang sedikit lebih lemah namun tetap sah, dan hadis dhaif yang memiliki cacat dalam sanad atau matannya, sehingga tidak dapat dijadikan dasar hukum kecuali dalam konteks tertentu.

Selain itu, hadis juga dibedakan berdasarkan sumbernya. Hadis qudsi adalah hadis yang berasal dari wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dengan kata-kata beliau sendiri, sementara hadis nabawi adalah segala perkataan, perbuatan, atau ketetapan yang berasal langsung dari Rasulullah ﷺ, tanpa melalui wahyu. Memahami jenis-jenis hadis ini sangat penting untuk mengetahui kedudukan dan kekuatan setiap hadis dalam syariat Islam, serta bagaimana cara menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hadis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa aspek, yaitu kuantitas perawi, kualitas, dan sumbernya. Berikut penjelasan lengkap dan detil mengenai jenis-jenis hadis berdasarkan ketiga aspek tersebut:


Berdasarkan Kuantitas Perawi

  1. Hadis Mutawatir
    Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi dalam setiap tingkat sanadnya, sehingga kemungkinan untuk terjadinya kesalahan atau kebohongan sangat kecil. Biasanya, hadis ini diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi yang jumlahnya cukup banyak di setiap generasi sahabat, tabi’in, dan seterusnya. Hadis mutawatir memiliki kedudukan yang sangat kuat karena dapat dipastikan keasliannya.

    Hadis mutawatir dapat dibagi menjadi dua jenis:

    • Mutawatir Lafzi: Hadis yang diriwayatkan dengan lafaz yang sama persis oleh semua perawi.
    • Mutawatir Ma’nawi: Hadis yang diriwayatkan dengan makna yang sama, meskipun lafaznya berbeda-beda.

    Contoh hadis mutawatir: “Sesungguhnya aku (Rasulullah ﷺ) adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Hadis ini diriwayatkan oleh banyak perawi dari berbagai jalur yang tidak mungkin saling berkolusi untuk memalsukan hadis.

  2. Hadis Ahad
    Hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang lebih sedikit daripada hadis mutawatir, sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan atau kebohongan lebih besar. Meskipun demikian, hadis ahad tetap memiliki kedudukan yang sah dalam Islam, asalkan memenuhi kriteria tertentu dalam hal sanad dan kualitas perawinya. Hadis ahad dibagi menjadi beberapa jenis, seperti hadis yang diriwayatkan oleh dua perawi, tiga perawi, dan seterusnya.

    Contoh hadis ahad: “Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir hingga terbit matahari, maka dia mendapatkan pahala haji dan umrah.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini diriwayatkan oleh perawi yang lebih sedikit dibandingkan dengan hadis mutawatir.


Berdasarkan Kualitas

  1. Hadis Shahih
    Hadis shahih adalah hadis yang memiliki sanad yang bersambung (terhubung secara langsung) sampai kepada Rasulullah ﷺ, dan tidak ada cacat dalam perawi maupun isi hadis tersebut. Hadis shahih juga harus bebas dari unsur-unsur yang dapat meragukan kebenarannya, seperti kesalahan dalam periwayatan atau adanya perawi yang lemah. Hadis shahih adalah hadis yang paling kuat dan diterima dalam syariat Islam.

    Ciri-ciri hadis shahih:

    • Sanad bersambung dan tidak terputus.
    • Semua perawi adalah orang yang adil (terpercaya) dan dhabit (kuat ingatannya).
    • Tidak ada kecacatan dalam sanad maupun matan hadis.

    Contoh hadis shahih: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  2. Hadis Hasan
    Hadis hasan adalah hadis yang memiliki sanad yang bersambung, namun kualitas perawi dalam sanadnya sedikit lebih rendah daripada hadis shahih. Meskipun demikian, hadis hasan tetap dapat diterima dan digunakan sebagai dasar hukum, asalkan tidak ada kecacatan yang signifikan. Hadis hasan lebih lemah dibandingkan hadis shahih, tetapi masih memiliki kedudukan yang sah dalam syariat Islam.

    Ciri-ciri hadis hasan:

    • Sanad bersambung dan tidak terputus.
    • Perawi memiliki integritas yang baik, namun mungkin ada sedikit kelemahan dalam ingatan atau ketelitian.
    • Tidak ada cacat yang mempengaruhi keabsahan hadis.

    Contoh hadis hasan: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim)

  3. Hadis Dhaif
    Hadis dhaif adalah hadis yang memiliki cacat dalam sanad atau matannya yang menyebabkan kualitasnya lebih rendah daripada hadis hasan atau shahih. Cacat ini bisa berupa terputusnya sanad, perawi yang lemah ingatannya, atau adanya perawi yang tidak adil. Hadis dhaif umumnya tidak dapat dijadikan dasar hukum, kecuali jika ada dukungan dari hadis lain yang lebih kuat atau dalam konteks yang mendukung amal baik.

    Ciri-ciri hadis dhaif:

    • Sanad terputus atau ada perawi yang lemah.
    • Terdapat cacat dalam perawi atau dalam matan hadis yang membuatnya tidak dapat diterima sebagai hadis yang sahih.

    Contoh hadis dhaif: “Barang siapa yang shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.”(HR. Tirmidzi, namun statusnya dhaif)


Berdasarkan Sumber

  1. Hadis Qudsi
    Hadis qudsi adalah hadis yang berasal dari wahyu Allah ﷻ, tetapi disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dengan menggunakan kata-kata beliau sendiri. Hadis qudsi mengandung pesan-pesan Allah yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an, namun tidak memiliki status sebagai wahyu yang diturunkan dalam bentuk ayat Al-Qur’an. Hadis qudsi memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam karena berasal langsung dari Allah.

    Contoh hadis qudsi:“Wahai hamba-Ku, jika kamu mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadamu sehasta; jika kamu mendekat kepadaku sehasta, Aku akan mendekat kepadamu sedepa; jika kamu datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadamu dengan berlari.”(HR. Bukhari)

  2. Hadis Nabawi
    Hadis nabawi adalah hadis yang merupakan perkataan, perbuatan, atau ketetapan yang berasal langsung dari Rasulullah ﷺ. Berbeda dengan hadis qudsi, hadis nabawi tidak berasal dari wahyu Allah ﷻ, melainkan dari kebijaksanaan dan pengalaman Rasulullah ﷺ dalam menjalani kehidupan. Hadis nabawi mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari ibadah, muamalah, hingga akhlak.

    Contoh hadis nabawi:“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim)


Dengan memahami berbagai jenis hadis ini, kita dapat lebih mendalam dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang diterima melalui Rasulullah ﷺ. Sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an, hadis memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing umat Islam dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan syariat. Dengan memahami berbagai jenis hadis—baik berdasarkan kuantitas perawi, kualitas, maupun sumbernya—umat Islam dapat lebih bijak dalam mengaplikasikan ajaran Islam yang terkandung dalam hadis. Mengetahui kedudukan dan kualitas hadis juga membantu kita dalam memilah dan memilih hadis yang sahih untuk dijadikan pedoman dalam ibadah, muamalah, dan akhlak, sehingga ajaran Rasulullah ﷺ dapat diterapkan dengan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *