MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Ruang Lingkup Sirah Nabawiyah

Widodo Judarwanto

Ibnu Mandzur dalam kitab Lisanul Arab menjelaskan bahwa arti kata as-sirah dalam bahasa adalah kebiasaan, jalan, cara, dan tingkah laku. Secara umum, sirah merujuk pada perincian hidup seseorang atau sejarah hidup seseorang. Konsep ini mencakup segala aspek kehidupan seseorang, baik itu perjalanan hidup, etika, kebiasaan, maupun tindakan yang diambil sepanjang hidupnya.

Seringkali, istilah sirah dihubungkan dengan Sirah Nabawiyah, yang merujuk pada ilmu yang mengkaji secara komprehensif kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Dalam istilah syar’i, as-sirah an-nabawiyah adalah ilmu yang mengumpulkan fakta-fakta sejarah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, mencakup sifat-sifatnya, akhlak, etika, serta perjuangannya dalam menyebarkan ajaran Islam. Sirah Nabawiyah bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang kehidupan Rasulullah ﷺ sebagai teladan bagi umat manusia.

Sirah Nabawiyah mencakup perincian lengkap tentang kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, mulai dari asal-usulnya, suku dan nasabnya, serta kondisi masyarakat di sekitarnya sebelum kelahirannya. Selanjutnya, kajian ini berlanjut pada masa kelahiran beliau, masa kecil, remaja, dewasa, hingga pernikahannya. Puncaknya adalah saat beliau diangkat menjadi nabi dan perjuangannya dalam menegakkan Islam hingga akhir hayatnya. Setiap fase kehidupan Nabi Muhammad ﷺ dalam sirah memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Perbedaan Sirah Nabawiyah dengan Sejarah

Meskipun sirah dan sejarah memiliki kesamaan dalam hal mencatat perjalanan hidup dan peristiwa penting, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Sirah lebih khusus, berfokus pada kehidupan seorang individu, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, dan mengutamakan perincian sifat pribadi, akhlak, serta cara beliau menjalani hidup yang dapat diteladani. Sedangkan sejarah bersifat lebih umum, mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan suatu zaman atau peradaban.

Dari segi sumber, sirah Nabawiyah hanya bersumber dari Al-Quran, hadits-hadits shahih, dan riwayat sahabat, yang kedudukannya sudah terjamin kebenarannya. Sebaliknya, sejarah lebih beragam sumbernya, termasuk bukti primer, sekunder, dan lisan, yang dapat berubah seiring dengan ditemukannya bukti baru. Sirah Nabawiyah juga lebih mengutamakan aspek keteladanan, sedangkan sejarah lebih fokus pada peristiwa dan pelaku yang terlibat. Selain itu, fakta dalam sirah Nabawiyah tidak dapat berubah, karena sudah tercatat dalam wahyu dan riwayat sahabat, sementara sejarah dapat berubah dengan penemuan sumber atau bukti baru.

Tabel perbedaan antara Sirah Nabawiyah dan sejarah:

Aspek Sirah Nabawiyah Sejarah
Definisi Perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ secara rinci, termasuk sifat pribadi dan akhlaknya. Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa lampau.
Kata Asal Berasal dari kata saraha yang berarti perjalanan hidup. Berasal dari kata syajarah (pohon) yang berarti cabang atau keturunan.
Fokus Pembahasan Perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ, termasuk sifat, akhlak, dan cara hidup yang bisa diteladani. Peristiwa-peristiwa sejarah dan perkembangan suatu zaman atau peradaban.
Sumber Ayat Al-Quran, hadits Nabi, dan riwayat sahabat Nabi. Sumber primer (bukti-bukti dan rujukan yang kukuh), sekunder (penyelidikan), dan lisan (saksi).
Objek Pembahasan Fokus pada kehidupan seorang individu, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Fokus pada peristiwa dan pelakunya, serta perkembangan zaman.
Kedudukan Fakta Tidak bisa berubah karena tercatat dalam Al-Quran, hadits, dan riwayat sahabat. Dapat berubah dengan ditemukannya bukti atau sumber yang lebih awal atau lebih jelas.
Tujuan Memberikan teladan, contoh, dan mendukung sejarah Islam. Mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan suatu peradaban atau zaman.

Tabel ini menggambarkan perbedaan mendasar antara Sirah Nabawiyah dan sejarah, yang memiliki fokus, sumber, dan tujuan yang berbeda meskipun keduanya berhubungan dengan pencatatan kehidupan dan peristiwa masa lalu.

Versi Sirah Nabawiyah

Beberapa versi Sirah Nabawiyah yang diterima dan memiliki kedudukan penting dalam tradisi Islam antara lain:

  1. Sirah Ibnu Hisyam
    Sirah ini dianggap sebagai sirah tertua yang masih tersedia dari kalangan Sunni. Ibnu Hisyam menyusun sirah ini berdasarkan karya Ibnu Ishaq, yang kini sudah hilang.
  2. Rahiqul Makhtum karya Al-Mubarakfurri
    Sirah ini terkenal karena ketatnya kriteria penyusunan, hanya memasukkan riwayat yang shahih. Buku ini meraih peringkat pertama dalam kompetisi Penulisan Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam Islami dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
  3. Sirah Ibnu Ishaq
    Meskipun buku asli Sirah Ibnu Ishaq telah hilang, karya ini tetap menjadi sumber utama bagi banyak penulis sirah, karena menjadi dasar bagi banyak sirah yang ada saat ini.

Selain itu, ada pula penulisan Sirah Nabawiyah oleh para penulis kontemporer, baik dari kalangan Muslim maupun orientalis. Namun, seringkali karya-karya ini mendapat kritik terkait keshahihan riwayat yang digunakan, pendapat pribadi penulis, serta penggunaan sumber yang bertentangan atau tidak sesuai dengan kaidah ilmiah yang diterima dalam tradisi Islam.

Dengan demikian, Sirah Nabawiyah bukan hanya sebuah catatan sejarah, tetapi juga sebuah pedoman hidup yang memberikan contoh nyata tentang bagaimana Nabi Muhammad ﷺ menjalani kehidupan yang penuh tantangan dan perjuangan untuk menegakkan ajaran Islam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *