MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

KONSULTASI KEDOKTERAN ISLAM: Saya Kadararullah Belum Punya keturunan dalam 7 tahun dok

Tanya: Pak Dokter, saya sudah berkeluarga selama 7 tahun, tapi kadarullah belum menunjukkan tanda-tanda mempunyai keturunan. Apakah karena masalah hormon? Apakah itu sering menjadi penyebab pasangan muda belum bisa hamil? Dalam islam, bagaimana saya dan suami dalam menghadapi keadaan ini?

Jawab: Ya, gangguan hormon adalah salah satu penyebab umum kesulitan hamil. Pada wanita, ketidakseimbangan hormon bisa mengganggu ovulasi, sehingga sulit untuk hamil. Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi hormon, antara lain PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), hipotiroidisme, atau hiperprolaktinemia. Jika ada kecurigaan masalah hormon, pemeriksaan darah untuk mengecek kadar hormon reproduksi seperti estrogen, progesteron, FSH, dan LH bisa membantu menentukan penyebabnya. Perawatan medis seperti obat pengatur hormon atau terapi lainnya mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Jika semua hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang normal, ada beberapa langkah yang bisa dicoba untuk meningkatkan peluang kehamilan:

  1. Pemantauan ovulasi: Menggunakan alat tes ovulasi untuk mengetahui waktu yang tepat untuk berhubungan intim.
  2. Konsistensi berhubungan intim: Lakukan hubungan intim beberapa hari sebelum dan pada saat ovulasi untuk meningkatkan peluang pembuahan.
  3. Kurangi stres: Stres yang berlebihan dapat memengaruhi kesuburan, jadi coba untuk rileks dan menjaga keseimbangan emosional.
  4. Perbaiki pola makan: Pastikan konsumsi makanan bergizi yang mendukung kesehatan reproduksi.
  5. Suplementasi: Beberapa suplemen seperti asam folat untuk wanita, serta suplemen untuk meningkatkan kualitas sperma bagi pria, bisa bermanfaat.
  6. Jika setelah mencoba beberapa langkah ini belum ada hasil, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter spesialis kesuburan untuk perawatan lebih lanjut.

Dalam Islam, kesulitan mendapatkan keturunan merupakan ujian yang dapat dihadapi dengan pendekatan spiritual, ikhtiar, dan usaha medis. Al-Qur’an dan Hadits memberikan panduan bagi umat Islam untuk menghadapi situasi ini. Salah satunya adalah dengan memperbanyak doa kepada Allah, sebagaimana kisah Nabi Zakaria yang memohon keturunan: “Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), dan Engkaulah waris yang terbaik” (QS. Al-Anbiya: 89). Doa lain juga dicontohkan dalam Al-Qur’an, seperti “Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh” (QS. Ash-Shaffat: 100). Setelah berdoa, umat Islam dianjurkan untuk bertawakal dan berusaha, misalnya dengan berkonsultasi kepada ahli medis, menjaga pola hidup sehat, serta memperbaiki hubungan suami-istri. Rasulullah SAW bersabda: “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya” (HR. Abu Daud).

Selain itu, memperbanyak istighfar juga menjadi salah satu cara membuka pintu rezeki, termasuk rezeki berupa keturunan. Firman Allah: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai” (QS. Nuh: 10-12). Sedekah pun dianjurkan sebagai ikhtiar spiritual, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah” (HR. Baihaqi). Namun, jika segala usaha tidak membuahkan hasil, penting bagi seseorang untuk menerima takdir Allah dengan ikhlas, sebagaimana firman-Nya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216).

Sebagai alternatif, mengasuh anak yatim juga merupakan tindakan mulia yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,” sambil menunjukkan dua jarinya (HR. Bukhari). Dengan menggabungkan pendekatan spiritual, usaha medis, dan keyakinan kepada Allah, umat Islam dapat menghadapi ujian ini dengan sabar dan penuh harapan bahwa Allah Maha Kuasa memberikan keturunan pada waktu yang terbaik.

Penanganan infertilitas pada ibu secara medis terkini meliputi evaluasi kesehatan reproduksi, pengobatan hormonal, teknologi reproduksi berbantu seperti inseminasi intrauterin (IUI) dan fertilisasi in vitro (IVF), hingga intervensi bedah jika diperlukan. Pendekatan ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasangan secara holistik. Dalam perspektif Islam, sesuai Al-Qur’an dan Sunah, pengobatan medis diperbolehkan selama tidak melibatkan hal-hal yang dilarang, seperti donor sperma atau sel telur dari pihak ketiga, yang melanggar prinsip nasab. Islam juga mendorong ikhtiar dengan doa, seperti memohon keturunan seperti yang dicontohkan Nabi Zakariya dalam QS Maryam:4-6, serta menerima takdir Allah dengan tawakal dan kesabaran. Kombinasi usaha medis dan spiritual dapat menjadi solusi yang seimbang dan bermakna. (dr Widodo Judarwanto)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *