Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini dia belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian dia menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, di bawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.
Semasa hidupnya dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian dia adalah kain kasar, sementara serban dia berwarna hitam dan berukuran kecil. Imam al-Suyuti menyebutkan bahwa Imam Nawawi adalah salah satu dari wali Allah (orang suci).
Imam Nawawi, yang dikenal sebagai ulama besar dalam Mazhab Syafi’i, adalah sosok sederhana dan cerdas yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk ilmu dan ibadah. Semasa hidupnya, beliau selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, serta melaksanakan berbagai ibadah seperti wirid, puasa, dzikir, dan shalat. Imam Nawawi menjalani kehidupan yang sangat asketis, jauh dari kemewahan dunia. Pakaiannya terbuat dari kain kasar, dan serban kecil berwarna hitam menjadi ciri khasnya. Gaya hidupnya mencerminkan keteguhan hati dan fokusnya pada akhirat, meninggalkan segala hal yang dianggapnya tidak membawa manfaat spiritual.
Dedikasinya terhadap ilmu terlihat dari produktivitasnya dalam menulis kitab-kitab monumental yang hingga kini menjadi rujukan utama umat Islam. Karya-karyanya seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah memuat ajaran-ajaran moral dan prinsip-prinsip dasar Islam yang relevan sepanjang masa. Selain itu, komentar-komentarnya terhadap kitab Sahih Muslim dan kitab fikih Al-Minhaj menunjukkan kedalaman pemahaman dan analisisnya terhadap syariat Islam. Imam Nawawi juga dikenal sebagai ulama yang sabar dalam menghadapi berbagai tantangan dan ujian kehidupan, termasuk tekanan dari pihak penguasa pada zamannya.
Kehidupan Imam Nawawi tidak hanya menginspirasi umat Islam dalam hal keilmuan, tetapi juga dalam aspek spiritualitas dan keteladanan pribadi. Imam al-Suyuti, seorang ulama besar lainnya, menyebutkan bahwa Imam Nawawi termasuk salah satu wali Allah, yaitu orang-orang suci yang mendapatkan perlindungan dan kasih sayang khusus dari-Nya. Pernyataan ini didasarkan pada ketakwaan, keikhlasan, dan pengaruh besar Imam Nawawi terhadap umat Islam, meskipun ia hidup dalam kesederhanaan dan jauh dari gemerlap dunia.
Hingga kini, warisan Imam Nawawi terus hidup melalui karya-karyanya yang tak lekang oleh waktu. Pengaruhnya tidak hanya dirasakan oleh para pengikut Mazhab Syafi’i, tetapi juga oleh seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia. Keteladanan hidupnya mengajarkan pentingnya fokus pada tujuan akhirat, keikhlasan dalam beramal, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu serta menyebarkannya. Imam Nawawi adalah simbol kesederhanaan, kecerdasan, dan ketakwaan yang menginspirasi generasi demi generasi.
Guru-guru Imam Nawawi
- Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal seperti Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ashari, Zainuddin bin Abdud Daim, Imaduddin bin Abdul Karim Al-Harastani, Zainuddin Abul Baqa, Khalid bin Yusuf Al-Maqdisi An-Nabalusi dan Jamaluddin Ibn Ash-Shairafi, Taqiyuddin bin Abul Yusri, Syamsuddin bin Abu Umar.
- Dia belajar fiqih hadits (pemahaman hadits) pada asy-Syaikh al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi Al-Andalusi. Kemudian belajar fiqh pada Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin usman Al-Maghribi Al-Maqdisi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh dan Izzuddin Al-Arbili serta guru-guru lainnya. Imam Nawawi juga belajar kepada Imam Jamaluddin Malik, pengarang buku gramatika bernuansa puisi yang terkenal yaitu Alfiyah.
Murid-murid Imam Nawawi
- Tidak sedikit ulama yang datang untuk belajar ke Iman Nawawi. Di antara mereka adalah al-Khatib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fari, Syihabuddin al-Arbadi, Shihabuddin bin Ja’wan, Alauddin al-Athar dan yang meriwayatkan hadits darinya Ibnu Abil Fath, Al-Mazi dan lainnya.

Karya
Imam Nawawi meninggalkan banyak karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:
Dalam bidang hadits:
- Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعين النووية), kumpulan 40 -tepatnya 42- hadits penting.
- Riyadhus Shalihin (رياض الصالحين),[5] kumpulan hadits mengenai etika, sikap dan tingkah laku yang saat ini banyak digunakan di dunia Islam.
- Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), (شرح صحيح مسلم), penjelasan kitab Shahih Muslim bin al-Hajjaj.
- At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir. (التقريب والتيسير لمعرفة سنن البشير النذير), pengantar studi hadits.
Dalam bidang fiqih:
- Minhaj ath-Thalibin (منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه الإمام الشافعي).
- Raudhatuth Thalibin,
- Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب), panduan hukum Islam yang lengkap.
- Matn al-Idhah fil-Manasik (متن الإيضاح في المناسك), membahas tentang haji.
Dalam bidang bahasa: - Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
Dalam bidang akhlak:
- At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran (التبيان في آداب حملة القرآن).
- Bustanul Arifin,
- Al-Adzkar (الأذكار المنتخبة من كلام سيد الأبرار), kumpulan doa Rasulullah.
Dan lain-lain:
- Tahdzib al-Asma (تهذيب الأسماء).
- Ma Tamas Ilaihi Hajah al-Qari li Shahih al-Bukhari (ما تمس إليه حاجة القاري لصـحيح البـخاري).
- Tahrir al-Tanbih (تحرير التنبيه).
- Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti (آداب الفتوى والمفتي والمستفتي).
- At-Tarkhis bi al-Qiyam (الترخيص بالقيام لذوي الفضل والمزية من أهل الإسلام).














Leave a Reply