MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

FIQIH SHALAT: Sujud Sahwi, Hukum dan Cara Melakukan

Sujud Sahwi adalah sujud yang dilakukan untuk mengoreksi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat, baik berupa kekurangan, kelebihan, atau keraguan dalam jumlah rakaat. Sujud sahwi bertujuan untuk memperbaiki kekurangan atau kesalahan dalam shalat dan untuk menjaga kesempurnaan ibadah. Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai. Sujud sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir salat atau setelah salat untuk menutupi cacat dalam salat karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.

Sujud sahwi memiliki hukum sunnah dan dilakukan ketika terjadi kekurangan atau kesalahan dalam shalat yang tidak membatalkan shalat tersebut. Sujud sahwi tidak diwajibkan, tetapi sangat dianjurkan untuk dilakukan agar shalat tetap sempurna.

Sujud sahwi dilakukan untuk beberapa hal, seperti:

  1. Menambah Rakaat: Jika seseorang merasa menambah rakaat dalam shalat, maka setelah selesai shalat, dia melakukan sujud sahwi.
  2. Mengurangi Rakaat: Jika seseorang merasa kekurangan rakaat, maka setelah selesai shalat, dia melakukan sujud sahwi.
  3. Keraguan dalam Rakaat: Jika seseorang ragu tentang jumlah rakaat yang telah dilakukan, maka sujud sahwi dilakukan untuk menghilangkan keraguan tersebut.
  4. Lupa dalam Shalat: Jika seseorang lupa melakukan salah satu rukun shalat, maka sujud sahwi juga dilakukan.

Cara Melaksanakan Sujud Sahwi

  1. Setelah Tasyahhud Akhir: Sujud sahwi dilakukan setelah tasyahhud akhir sebelum salam. Setelah tasyahhud, lakukan dua sujud sahwi dan kemudian salam.
  2. Sujud Sahwi dalam Kasus Kekurangan: Jika ada kekurangan dalam shalat (misalnya lupa ruku’ atau sujud), sujud sahwi dilakukan setelah tasyahhud akhir.
  3. Sujud Sahwi dalam Kasus Kelebihan: Jika ada kelebihan dalam shalat (misalnya menambah rakaat), sujud sahwi dilakukan setelah salam.

Dalil Tentang Sujud Sahwi

Sujud sahwi adalah sunnah yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan atau kesalahan dalam shalat, seperti menambah atau mengurangi rakaat, atau keraguan dalam pelaksanaan shalat. Cara melaksanakannya adalah dengan melakukan dua sujud sahwi setelah tasyahhud akhir atau setelah salam, tergantung pada jenis kesalahan yang terjadi. Dalil tentang sujud sahwi terdapat dalam hadits-hadits sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melakukannya sebagai bentuk koreksi terhadap kekurangan atau kesalahan dalam shalat.

  1. Hadits dari Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang lupa dalam shalatnya, maka hendaknya dia sujud dua kali setelah salam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa sujud sahwi dilakukan setelah salam ketika ada kekurangan atau kesalahan dalam shalat.
  2. Hadits dari Aisyah RA: Aisyah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan sujud sahwi ketika beliau melakukan kekurangan atau kesalahan dalam shalat. (HR. Bukhari). Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan sujud sahwi sebagai koreksi terhadap kesalahan yang terjadi dalam shalat.
  3. Hadits dari Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, maka hendaknya dia berusaha untuk menghilangkan keraguannya, lalu sujud dua kali sebelum salam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Hadits ini menunjukkan bahwa sujud sahwi juga dilakukan ketika ada keraguan dalam jumlah rakaat yang dilakukan.
  4. Hadis Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila azan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar azan tersebut. Apabila azan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan ikamah, setan pun berpaling lagi. Apabila ikamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya. Dia berkata, “Ingatlah demikian, ingatlah demikian untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia salat. Apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia salat, hendaklah dia bersujud dua kali dalam keadaan duduk.” (HR. Bukhari no. 1231 dan Muslim no. 389)
  5. Hadis Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam salatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia salat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia salat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan salatnya. Lalu jika ternyata salatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim no. 571)
  6. Hadis Abu Hurairah, ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami salat pada salah satu dari dua salat petang, mungkin shalat Zuhur atau Ashar. Namun pada raka’at kedua, beliau sudah mengucapkan salam. Kemudian beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid, lalu beliau bersandar ke pohon tersebut dalam keadaan marah. Di antara jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berbicara. Orang-orang yang suka cepat-cepat telah keluar sambil berujar, “Salat telah diqasar (dipendekkan).” Sekonyong-konyong Dzul Yadain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah salat dipendekkan ataukah anda lupa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda, “Betulkan apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain tadi?” Jawab mereka, “Betul, wahai Rasulullah. Engkau salat hanya dua rakaat.” Lalu beliau salat dua rakaat lagi, lalu memberi salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)
  7. Hadis ‘Imran bin Hushain.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah salat ‘Ashar lalu beliau salam pada raka’at ketiga. Setelah itu beliau memasuki rumahnya. Lalu seorang laki-laki yang bernama al-Khirbaq (yang tangannya panjang) menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya, “Wahai Rasulullah!” Lalu ia menyebutkan sesuatu yang dikerjakan oleh beliau tadi. Akhirnya, beliau keluar dalam keadaan marah sambil menyeret rida’nya (pakaian bagian atas) hingga berhenti pada orang-orang seraya bertanya, “Apakah benar yang dikatakan orang ini?“ Mereka menjawab, “Ya benar”. Kemudian beliau pun salat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim no. 574)
  8. Hadis ‘Abdullah bin Buhainah.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan salat Zuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah beliau menyempurnakan salatnya, beliau sujud dua kali, dan beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan seperti ini sebelum salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal).” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)
  9. Hadis ‘Abdullah bin Mas’ud.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah salat bersama kami lima raka’at. Kami pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menambah dalam salat?” Lalu beliau pun mengatakan, “Memang ada apa tadi?” Para sahabat pun menjawab, “Engkau telah mengerjakan salat lima raka’at.” Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia semisal kalian. Aku bisa memiliki ingatan yang baik sebagaimana kalian. Begitu pula aku bisa lupa sebagaimana kalian pun demikian.” Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud sahwi.” (HR. Muslim no. 572)

hukum sujud sahwi

Mengenai hukum sujud sahwi para ulama berselisih menjadi dua pendapat, ada yang mengatakan wajib dan ada pula yang mengatakan sunah. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini dan lebih menentramkan hati adalah pendapat yang menyatakan wajib. Hal ini disebabkan dua alasan:

  1. Dalam hadis yang menjelaskan sujud sahwi seringkali menggunakan kata perintah. Sedangkan kata perintah hukum asalnya adalah wajib.
  2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukan sujud sahwi -ketika ada sebabnya- dan tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan bahwa beliau pernah meninggalkannya.

Pendapat yang menyatakan hukum sujud sahwi wajib semacam ini dipilih oleh ulama Hanafiyah, salah satu pendapat dari Malikiyah, pendapat yang jadi sandaran dalam mazhab Hambali, ulama Zahiriyah dan dipilih pula oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.[3

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *