MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Dua Cahaya Langit bagi Umat Muhammad ﷺ: Keutamaan Surah Al-Fātiḥah dan Penutup Surah Al-Baqarah Yang Tidak Pernah Diberikan Pada Nabi Sebelumnya

Dua Cahaya Langit bagi Umat Muhammad ﷺ: Keutamaan Surah Al-Fātiḥah dan Penutup Surah Al-Baqarah Yang Tidak Pernah Diberikan Pada Nabi Sebelumnya

Review DrWJped

Surah Al-Fātiḥah dan penutup Surah Al-Baqarah memiliki kedudukan istimewa dalam Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih riwayat Muslim dari Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā. Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ diberi kabar gembira berupa dua cahaya (nūrain) yang tidak pernah diberikan kepada nabi mana pun sebelumnya. Artikel ini bertujuan mengkaji keutamaan kedua bagian Al-Qur’an tersebut berdasarkan hadis sahih, analisis makna teologisnya, serta implikasinya terhadap akidah, ibadah, dan kehidupan spiritual seorang Muslim. Kajian ini menggunakan pendekatan normatif-teologis dengan merujuk pada Al-Qur’an, hadis sahih, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah.

Al-Qur’an merupakan sumber utama petunjuk (hudā), cahaya (nūr), dan penyembuh (syifā’) bagi umat manusia. Di antara seluruh ayat dan surah dalam Al-Qur’an, terdapat bagian-bagian yang memiliki keutamaan khusus berdasarkan dalil yang sahih. Dua di antaranya adalah Surah Al-Fātiḥah dan penutup Surah Al-Baqarah (ayat 285–286).

Dalam hadis sahih riwayat Muslim yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menerima kabar gembira dari malaikat tentang dua cahaya agung yang belum pernah diberikan kepada nabi mana pun sebelum beliau. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan dicantumkan oleh Imam An-Nawawi dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, Kitab al-Faḍā’il, Bab anjuran membaca surah dan ayat tertentu.

Kajian terhadap hadis ini penting karena mengandung aspek keutamaan Al-Qur’an, dimensi tauhid, penetapan sifat-sifat Allah sesuai manhaj salaf, serta dorongan untuk mengamalkan Al-Qur’an secara sadar dan penuh pengharapan kepada Allah ﷻ.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)

ِبَابُ الحَثِّ عَلَى سُوَرٍ وَآيَاتٍ مَخْصُوْصَةٍ

Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu

Hadits #1022

ِوعَنِ ابْنِ عبَّاسٍ رضِي اللَّه عنْهُما قَالَ: بيْنَما جِبْرِيلُ عليهِ السَّلام قاعِدٌ عِندَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ، فَرَفَعَ رَأْسَه فَقَالَ: “هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ اليَوْمَ ولَمْ يُفْتَح قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ” فَنَزَلَ مِنه مَلكٌ فقالَ:”هذا مَلَكٌ نَزَلَ إِلى الأَرْضِ لم يَنْزِلْ قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ فَسَلَّمَ وقال: أَبشِرْ بِنورَينِ أُوتِيتَهُمَا، لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبلَكَ: فَاتحةِ الكِتَابِ، وخَواتِيم سُورَةِ البَقَرةِ، لَن تَقرأَ بحرْفٍ مِنْهَا إِلاَّ أُعْطِيتَه” رواه مسلم. “النَّقِيض”الصَّوت.

Dari Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, beliau berkata:

“Ketika Jibrīl ‘alaihis-salām sedang duduk di sisi Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba terdengar suara seperti nangis (bunyi gemeretak halus) dari atasnya. Maka Jibrīl mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Ini adalah pintu langit yang baru saja dibuka pada hari ini. Sebelumnya, pintu ini tidak pernah terbuka sama sekali kecuali hari ini.’

Lalu turunlah seorang malaikat dari pintu itu. Jibrīl berkata, ‘Inilah malaikat yang turun ke bumi untuk pertama kalinya. Sebelumnya, ia tidak pernah turun sama sekali.’

Malaikat itu kemudian memberi salam dan berkata, ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang telah diberikan kepadamu, yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelum engkau: (yaitu) Fatihatul Kitab (Surah Al-Fātiḥah) dan penutup Surah Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf pun darinya, kecuali engkau akan diberi (pahala dan karunia) karenanya.’” (HR. Muslim)

Kata “النَّقِيض” (an-naqīḍ) berarti suara — yakni bunyi samar yang terdengar dari atas langit.

Keutamaan Surah Al-Fātiḥah dan Penutup Surah Al-Baqarah

Hadis sahih ini secara eksplisit menyebutkan bahwa Surah Al-Fātiḥah dan penutup Surah Al-Baqarah adalah dua cahaya (نُورَيْنِ) yang Allah berikan secara khusus kepada Rasulullah ﷺ dan umatnya. Keistimewaan ini menunjukkan kedudukan Al-Fātiḥah sebagai Ummul Kitāb yang mencakup inti tauhid, ibadah, doa, dan permohonan hidayah, sementara penutup Surah Al-Baqarah mengandung pengakuan iman, doa ampunan, serta penyerahan total kepada Allah.

Pernyataan malaikat, “Tidaklah engkau membaca satu huruf pun darinya kecuali engkau akan diberi (karunia) karenanya”, menunjukkan keluasan pahala dan keutamaan membaca kedua bagian ini, baik dalam shalat maupun di luar shalat.

Al-Qur’an sebagai Cahaya Petunjuk

Hadis ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Cahaya tersebut bukan hanya bersifat informatif, tetapi juga transformatif—menerangi akal, membersihkan hati, dan membimbing amal perbuatan. Oleh karena itu, seorang mukmin dianjurkan untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga memohon taufik kepada Allah agar mampu mengamalkan kandungannya.

Dimensi Aqidah dalam Hadis

Hadis ini juga mengandung penetapan sifat al-‘uluw (ketinggian) bagi Allah ﷻ, sebagaimana tampak dari penyebutan pintu-pintu langit dan turunnya malaikat dengan izin Allah. Selain itu, hadis ini menetapkan bahwa Allah berbicara dengan suara yang nyata sesuai dengan kebesaran-Nya, tanpa tahrīf (penyimpangan makna), tanpa ta‘ṭīl (peniadaan sifat), dan tanpa menyerupakan dengan makhluk, sebagaimana prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah.

Para ulama salaf menegaskan bahwa seluruh sifat Allah yang sahih dalam Al-Qur’an dan hadis wajib diimani sebagaimana datangnya, tanpa menanyakan kaifiyahnya.

Faedah Hadis

Hadis ini memberikan sejumlah faedah penting, antara lain:
(1) Penegasan keutamaan Surah Al-Fātiḥah dan penutup Surah Al-Baqarah.
(2) Al-Qur’an adalah cahaya dan petunjuk paling lurus bagi manusia.
(3) Anjuran bagi seorang mukmin untuk memohon pertolongan Allah agar mampu mengamalkan Al-Qur’an.
(4) Penetapan bahwa langit memiliki pintu-pintu yang dibuka dan ditutup atas izin Allah.
(5) Penetapan sifat al-‘uluw dan kalām bagi Allah sesuai manhaj salaf.

Penutup

Surah Al-Fātiḥah dan penutup Surah Al-Baqarah merupakan dua cahaya agung yang Allah ﷻ anugerahkan secara khusus kepada Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih riwayat Muslim. Keutamaan keduanya tidak hanya terletak pada pahala membaca, tetapi juga pada kandungan tauhid, doa, dan penguatan iman yang mendalam.

Pemahaman yang benar terhadap hadis ini menuntun seorang Muslim untuk semakin mencintai Al-Qur’an, menjaga bacaan dan pengamalannya, serta memperkuat akidah sesuai manhaj Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah. Dengan menjadikan Al-Fātiḥah dan penutup Surah Al-Baqarah sebagai bagian dari ibadah harian, seorang mukmin diharapkan memperoleh cahaya petunjuk, perlindungan Ilahi, dan keteguhan iman hingga akhir hayat.

Referensi

  • Muslim bin al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim.
  • An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, Kitab al-Faḍā’il.
  • Al-Hilali, Abu Usamah Salim bin ‘Ied. Bahjah an-Nāẓirīn Syarḥ Riyāḍiṣ Ṣāliḥīn. Dar Ibnul Jauzi, 1430 H. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244.
  • Ibn Taimiyah. Majmū‘ al-Fatāwā.
  • Al-Lalikā’i. Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *