MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Bermain Game Menurut Ulama dan Sains : Antara Hiburan dan Tanggung Jawab

Bermain Game Menurut Ulama dan Sains : Antara Hiburan dan Tanggung Jawab

Abstrak

Game kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Ulama kontemporer memandang bermain game sebagai aktivitas mubah yang bisa bernilai positif bila tidak melalaikan kewajiban agama maupun tanggung jawab utama seperti belajar dan bekerja. Sementara itu, sains menunjukkan bahwa game memiliki manfaat signifikan dalam meningkatkan kemampuan kognitif, kerja sama tim, dan kesejahteraan psikologis, tetapi juga membawa risiko kecanduan, gangguan kesehatan fisik, penurunan akademik, dan masalah emosi bila dimainkan secara berlebihan. Artikel ini membahas pandangan ulama dan temuan sains terkait manfaat dan bahaya game, serta bagaimana sikap bijak dalam menempatkan game sebagai hiburan sekaligus tanggung jawab moral dan sosial.

Fenomena bermain game semakin meluas seiring dengan perkembangan teknologi digital, menjadikannya salah satu bentuk hiburan paling dominan di dunia modern. Bagi sebagian orang, game adalah sarana rekreasi, pelepas stres, bahkan media pembelajaran. Ulama kontemporer menegaskan bahwa hukum bermain game bergantung pada dampaknya: jika mendukung kesehatan, kreativitas, dan kebersamaan tanpa melalaikan kewajiban agama, maka diperbolehkan; namun jika mengandung unsur haram, kekerasan, judi, atau membuat lalai dari shalat dan belajar, maka hukumnya bisa makruh hingga haram.

Seiring berkembangnya teknologi digital, game tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga industri besar yang memengaruhi pola pikir, emosi, bahkan gaya hidup generasi muda. Para ulama kontemporer menaruh perhatian serius terhadap fenomena ini karena dampaknya bisa positif maupun negatif. Jika dimainkan dalam batas wajar, game bisa melatih strategi, konsentrasi, dan keterampilan. Namun, jika berlebihan, ia dapat melalaikan salat, menumbuhkan kecanduan, bahkan merusak akhlak. Oleh sebab itu, kajian hukum syariat mengenai game perlu ditinjau dari dalil-dalil Islam, kaidah fiqh, dan pandangan ulama kontemporer.

Dari sisi ilmiah, penelitian terkini menunjukkan bahwa game dapat melatih kemampuan konsentrasi, memori, koordinasi motorik, hingga keterampilan sosial dalam kerja tim. Namun, sains juga memperingatkan adanya risiko negatif seperti kecanduan, gangguan tidur, stres, bahkan depresi akibat penggunaan berlebihan. Dengan demikian, penting adanya kesadaran bahwa bermain game bukan sekadar hiburan, melainkan aktivitas yang perlu diatur secara bijak agar manfaatnya dapat diambil, sementara risikonya dapat ditekan.

Pandangan Ulama tentang Bermain Game

  • Syekh Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa game diperbolehkan selama tidak melalaikan dari kewajiban utama seperti shalat dan ibadah lainnya, serta tidak mengandung unsur yang diharamkan. Menurut beliau, Islam tidak menutup pintu hiburan, selama hal itu berada dalam koridor syariat dan membawa manfaat, bukan mudarat.
  • Syekh Abdul Aziz bin Baz berpandangan lebih tegas, yakni game menjadi haram jika di dalamnya terdapat unsur syirik, pornografi, perjudian, atau membuat seseorang lalai dari kewajiban agama dan tanggung jawabnya. Artinya, aspek konten dan dampaknya terhadap kehidupan beragama menjadi ukuran utama kehalalan.
  • Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin memperbolehkan bermain game dengan syarat tidak ada unsur haram di dalamnya serta tidak menghabiskan waktu berlebihan. Beliau menekankan keseimbangan antara hiburan dan pemanfaatan waktu secara produktif, agar tidak menjadikan game sebagai penyebab kemalasan.
  • Syekh Abdullah bin Bayyah memandang bahwa game bisa menjadi sarana pendidikan dan pengembangan keterampilan, namun harus dalam pengawasan ketat. Jika tidak diawasi, game bisa menjerumuskan anak-anak dan remaja ke arah kecanduan atau perilaku negatif yang merusak akhlak.
  • Dr. Zakir Naik menekankan bahayanya game yang penuh kekerasan atau pornografi, karena dapat merusak akhlak, menormalisasi perilaku menyimpang, dan menjauhkan dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, beliau menganjurkan untuk menghindari jenis game semacam ini.
  • Syekh Ali Jum’ah (Mufti Mesir) menyatakan bahwa game secara hukum bersifat netral, tidak otomatis halal atau haram. Hukum ditentukan oleh isi game tersebut serta cara memainkannya, apakah sesuai dengan adab dan etika Islam atau justru melalaikan kewajiban.
  • Habib Umar bin Hafidz lebih menekankan sisi spiritual, bahwa game boleh dimainkan selama tidak merusak hati, akhlak, maupun adab. Beliau mengingatkan agar ibadah tetap menjadi prioritas utama, dan permainan hanya dijadikan selingan yang tidak mengganggu hubungan dengan Allah.
  • Syekh Salman al-Audah melihat bahwa game bisa memiliki sisi positif sebagai sarana silaturahmi, kerja sama, dan hiburan yang menyenangkan. Namun, beliau mengingatkan bahayanya jika game menjadi candu yang menggerogoti waktu, sehingga harus dikendalikan.
  • Syekh Taqi Usmani menegaskan bahwa game yang melibatkan taruhan atau menggunakan uang sungguhan masuk ke dalam kategori judi yang jelas diharamkan dalam Islam. Oleh karena itu, bentuk permainan yang mengandung unsur taruhan harus dihindari sepenuhnya.
  • Prof. Quraish Shihab menekankan bahwa pada dasarnya bermain game adalah bentuk hiburan yang sah, namun harus tetap sejalan dengan nilai moral Islam. Menurutnya, hiburan tidak boleh melanggar etika, merusak karakter, atau menggeser prioritas hidup seorang Muslim.

Dalil yang Relevan

  • QS. Al-Mu’minun: 3: “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.”
  • QS. Al-‘Asr: 1–3 tentang pentingnya memanfaatkan waktu dengan amal saleh.
  • Hadis Nabi ﷺ: “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Bagaimana menyikapi antara game, membaca Al-Qur’an, dan belajar menurut ulama:


Para ulama kontemporer sepakat bahwa membaca Al-Qur’an dan menuntut ilmu adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan atau digantikan oleh hiburan apa pun, termasuk game. Al-Qur’an adalah sumber utama petunjuk hidup, sedangkan belajar adalah sarana untuk mengembangkan potensi manusia agar bermanfaat bagi diri dan umat. Allah ﷻ berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1), yang menjadi dasar pentingnya membaca dan menuntut ilmu. Karena itu, keduanya menempati prioritas utama dalam kehidupan seorang Muslim.

Adapun bermain game menurut para ulama kontemporer, seperti Yusuf al-Qaradawi, Abdullah bin Bayyah, dan Quraish Shihab, pada dasarnya mubah (boleh) selama tidak mengandung unsur haram seperti judi, pornografi, atau kekerasan berlebihan. Namun, hukum berubah menjadi makruh bahkan haram jika game melalaikan kewajiban, seperti shalat, belajar, atau membaca Al-Qur’an. Sebab, dalam Islam waktu luang adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari).

Dengan demikian, menyikapi tiga hal ini perlu menempatkan skala prioritas yang benar. Membaca Al-Qur’an dan belajar harus didahulukan karena keduanya berkaitan dengan kewajiban dunia dan akhirat. Game bisa menjadi hiburan sekunder, sebagai jeda dari aktivitas berat, agar jiwa tetap segar. Para ulama mengingatkan bahwa hiburan hendaknya menjadi sarana penyeimbang, bukan tujuan utama hidup. Jika game sampai membuat seseorang meninggalkan Qur’an atau lalai belajar, maka ia termasuk dalam kategori laghwun (perkara sia-sia) yang dikecam dalam QS. Al-Mu’minun: 3.

Oleh karena itu, orang tua dan pendidik perlu mendampingi anak dalam mengatur waktu antara ibadah, belajar, dan hiburan. Membuat jadwal seimbang, seperti membaca Al-Qur’an setiap pagi atau malam, belajar sesuai tanggung jawab sekolah, lalu memberi waktu terbatas untuk game, adalah praktik yang dianjurkan. Dengan pola ini, anak terbiasa menempatkan hiburan sebagai penyegar, bukan penguasa waktu. Ulama kontemporer menekankan pentingnya menanamkan kesadaran bahwa keberkahan hidup datang dari memuliakan Al-Qur’an dan ilmu, sementara game hanyalah hiburan yang nilainya bergantung pada cara dan kadar penggunaannya.

Manfaat Game Berdasarkan Penelitian Terkini

  1. Peningkatan kesejahteraan mental
    Sebuah studi di Jepang (2020-2022) melibatkan sekitar 97.602 responden usia 10-69 tahun menemukan bahwa memiliki konsol game dan bermain game dapat secara signifikan meningkatkan kesejahteraan mental dan kepuasan hidup. Studi ini menggunakan desain eksperimen alami (natural experiment) untuk membedakan sebab dan akibat, bukan hanya korelasi biasa.
  2. Peningkatan kognitif dan skill visual-spasial serta perhatian
    Ulasan sistematis menunjukkan bahwa bermain video game dapat memperbaiki memori kerja (working memory), kecepatan reaksi, kemampuan memproses informasi, dan perhatian visual termasuk attention sustain dan selective attention. Selain itu, game berbasis pembelajaran (game‐based learning) di Indonesia terbukti meningkatkan kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dalam pelajaran sains (fisika, biologi, kimia).
  3. Keringanan stres dan pelarian psikologis
    Game open-world, misalnya, dalam studi yang lebih baru ditemukan membantu pemain merasa rileks, melupakan sejenak kecemasan atau tekanan harian, dan menyediakan ruang virtual yang memberi rasa kebebasan dan kontrol, yang berdampak positif pada suasana hati.

Bahaya atau Dampak Negatif Game Berdasarkan Penelitian

  1. Gangguan fisik dan kebiasaan hidup buruk
    Studi di Universitas Indonesia terhadap mahasiswa vokasi menemukan bahwa meski banyak pemain melaporkan perasaan puas dan bahagia saat bermain game, juga muncul efek buruk seperti kelelahan akibat bermain terlalu lama, pola makan yang buruk, dan gangguan tidur.
  2. Pengaruh terhadap prestasi akademik
    Penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menemukan korelasi negatif antara frekuensi bermain game online pada ponsel dengan prestasi akademik mahasiswa. Semakin sering bermain, semakin rendah prestasi (ada hubungan negatif yang signifikan).
  3. Desain game yang manipulatif (“dark patterns”) dan risiko kecanduan
    Penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa banyak game mobile menggunakan elemen desain yang dapat mengeksploitasi pemain—baik secara psikologis, sosial, atau monetaris—misalnya sistem bayar atau mikrotransaksi yang terus mendorong pemain agar terus bermain atau membeli. Game jenis ini juga berasosiasi dengan peningkatan perilaku mirip judi (gambling-like behavior) dan masalah kesehatan mental jika pemain rentan.
  4. Gangguan tidur dan ritme sirkadian
    Beberapa studi menyebut bahwa penggunaan game secara terus-menerus terutama di malam hari dapat mengganggu kualitas tidur, mengurangi fase REM, mengacaukan pola tidur, yang kemudian berdampak pada fungsi fisik dan mental.

Game memiliki potensi manfaat signifikan, terutama dalam aspek kognitif (perhatian, memori, visual‐spasial), kesejahteraan psikologis, dan sebagai media pembelajaran bila dirancang dengan baik. Namun manfaat ini sangat tergantung jenis game, durasi penggunaan, konten, dan konteksnya.

Di sisi lain, efek negatif seperti gangguan fisik (kelelahan, tidur buruk), prestasi akademik yang menurun, potensi kecanduan dan dampak psikologis jika game mengandung unsur manipulasi atau konten yang merangsang agresivitas atau judi, tidak bisa diabaikan.

Untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan bahaya, perlu regulasi desain game, literasi digital yang baik, kontrol durasi dan konten oleh orang tua/pengguna, serta penelitian lanjutan terutama di konteks lokal (Indonesia) untuk memahami bagaimana kultur dan kondisi setempat memengaruhi efeknya.

Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Bersikap

Orang tua sebaiknya mengambil posisi sebagai pendamping, bukan hanya pengawas. Artinya, mereka perlu:

  • Menjadi teladan dalam membaca Al-Qur’an dan mencintai ilmu, agar anak meniru kebiasaan baik tersebut.
  • Membuat aturan waktu yang seimbang: Al-Qur’an dan belajar menjadi prioritas utama, sementara game hanya sebagai hiburan sekunder dengan durasi terbatas.
  • Menyaring konten game, memastikan anak hanya bermain game yang tidak mengandung kekerasan berlebihan, pornografi, atau unsur haram lainnya.
  • Mengajak dialog terbuka dengan anak tentang manfaat dan bahaya game, sehingga anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
  • Mendorong aktivitas alternatif, seperti olahraga, seni, atau kegiatan sosial, agar anak tidak hanya terpaku pada dunia virtual.

Kesimpulan

Bermain game menurut pandangan para ulama kontemporer bukanlah sesuatu yang mutlak haram atau halal, melainkan bergantung pada konten, waktu, dan dampaknya. Islam membolehkan hiburan yang sehat selama tidak melalaikan kewajiban dan tidak mengandung unsur yang diharamkan. Dengan pengawasan dan pendidikan yang baik dari orang tua, game bisa menjadi sarana rekreasi yang bermanfaat, bukan jalan menuju kerusakan moral dan spiritual.

Para ulama sepakat bahwa membaca Al-Qur’an dan menuntut ilmu adalah kewajiban yang harus didahulukan, sementara game hanyalah hiburan mubah yang hukumnya berubah sesuai dampaknya. Jika game melalaikan ibadah dan belajar, maka ia termasuk perbuatan sia-sia atau bahkan haram. Dengan pendampingan orang tua yang bijak, anak dapat tumbuh seimbang: dekat dengan Al-Qur’an, tekun belajar, sekaligus memiliki ruang hiburan yang sehat. Inilah kunci agar generasi Muslim mampu menghadapi tantangan zaman modern tanpa kehilangan arah spiritual dan intelektualnya.

Game adalah pisau bermata dua: ia dapat menjadi sarana peningkatan kognitif, kesejahteraan psikologis, bahkan pendidikan bila dirancang dan digunakan secara tepat, namun juga berpotensi menimbulkan dampak negatif serius berupa gangguan fisik, penurunan akademik, kecanduan, serta masalah psikologis jika tidak terkendali; oleh karena itu, strategi terbaik adalah mengedepankan literasi digital, regulasi konten dan desain game yang sehat, pengawasan serta pendampingan orang tua, pembatasan durasi penggunaan, dan dukungan penelitian berbasis konteks lokal agar pemanfaatan game di Indonesia benar-benar memberi manfaat maksimal sekaligus meminimalkan risikonya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *