Kisah perjuangan KH Muhammad Syoedja, sahabat, teman perjuangan dan murid setia KH Ahmad Dahlan, dalam menghadapi penolakan keras dari sebagian ulama pada masa awal pergerakan Muhammadiyah. Dituduh kafir, kehilangan masjid, dan mengalami berbagai bentuk tekanan sosial, keduanya tetap bertahan di atas prinsip dakwah tauhid dan tajdid (pembaruan) Islam. Kini, Muhammadiyah tumbuh menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, dengan jaringan sekolah, rumah sakit, dan perguruan tinggi yang luas. Kisah ini menjadi inspirasi tentang pentingnya keikhlasan, keberanian, dan tawakkal kepada Allah dalam memperjuangkan kebenaran.
Perjuangan menegakkan kebenaran tidak selalu diterima dengan tangan terbuka. Sejarah Islam mencatat banyak tokoh yang ditolak oleh masyarakat dan ulama pada zamannya, hanya karena membawa gagasan yang berbeda dari tradisi lama. Di Indonesia, KH Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh reformis yang menghadapi badai fitnah dan pengucilan karena dakwahnya yang menyeru umat kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah.
Di balik sosok besar KH Ahmad Dahlan, terdapat nama KH Muhammad Syoedja, murid , teman perjuangan dan sahabat yang setia mendampingi perjuangan sang guru. Dalam berbagai catatan dan wawancara sejarah, KH Syoedja mengungkapkan bagaimana kerasnya penolakan yang dialami KH Ahmad Dahlan, termasuk pengusiran dari masjid dan tuduhan sebagai pembawa ajaran sesat. Namun dari penolakan itulah lahir semangat dakwah yang hari ini menjelma menjadi kekuatan umat Islam Indonesia: Muhammadiyah.
Kisah KH Ahmad Dahlan Menurut KH Muhammad Syoedja
KH Muhammad Syoedja adalah saksi hidup atas bagaimana KH Ahmad Dahlan menghadapi caci maki, penolakan, bahkan ancaman dari sesama umat Islam sendiri. Ia menceritakan bahwa saat KH Ahmad Dahlan mulai mengoreksi arah kiblat masjid sesuai perhitungan ilmu falak, banyak ulama lokal marah dan menuduhnya sesat. Bahkan ada yang menyebut beliau kafir karena dianggap mengubah tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu peristiwa paling menyakitkan yang diceritakan KH Syoedja adalah ketika KH Ahmad Dahlan diusir dari masjid yang selama ini beliau imami. Masjid itu dikunci dan jamaahnya menarik dukungan. Tidak hanya itu, pengajian yang biasa diisi oleh KH Ahmad Dahlan dibubarkan oleh massa. Mereka menuduh beliau menyebarkan ajaran Wahabi yang belum dipahami masyarakat saat itu.
Tidak cukup sampai di situ, rumah KH Ahmad Dahlan dilempari batu, dan keluarganya mengalami tekanan sosial yang berat. Namun dalam pandangan KH Syoedja, sang guru tetap tenang, tidak membalas, dan terus mengajak dengan lembut. “Biarlah, mereka belum mengerti. Suatu saat mereka akan paham,” begitu kata-kata yang kerap diucapkan KH Ahmad Dahlan di hadapan murid-muridnya, termasuk KH Syoedja.
Bagi KH Muhammad Syoedja, momen paling mengharukan adalah ketika KH Ahmad Dahlan kehilangan mushala yang beliau dirikan sendiri. Mushala itu diambil alih dan tidak lagi boleh digunakan untuk pengajian. Namun KH Ahmad Dahlan justru tersenyum dan berkata, “Kita tidak kehilangan Allah. Mushala hanyalah bangunan. Allah lebih dekat dari urat leher.”
Saat para penentang menghina dan memfitnah, KH Ahmad Dahlan tidak pernah membalas. KH Syoedja menyaksikan bagaimana gurunya tetap mendoakan para pembenci dengan ikhlas. Bahkan ketika dihina di depan umum, KH Ahmad Dahlan hanya menunduk dan menjawab dengan ayat Al-Qur’an atau sabda Rasulullah ﷺ.
KH Syoedja juga mengisahkan bahwa KH Ahmad Dahlan kerap menangis dalam tahajudnya. Ia mengadu kepada Allah, bukan kepada manusia. Baginya, kehilangan masjid dan mushala bukanlah bencana, tetapi ujian keimanan. KH Ahmad Dahlan selalu mengingatkan murid-muridnya, termasuk Syoedja, untuk berserah diri kepada Allah dan terus berdakwah tanpa dendam.
Bersama KH Ahmad Dahlan, KH Syoedja tetap melakukan pengajian dari rumah ke rumah, bahkan di gang-gang sempit. Meski dicemooh, mereka tidak berhenti. Dakwah bukan soal tempat, tapi soal hati. Mereka percaya, jika dilakukan dengan ikhlas, kebenaran akan menang pada waktunya.
Dan benar, dari air mata dan kesabaran itu, lahirlah Muhammadiyah yang kini berdiri tegak. KH Muhammad Syoedja menutup kisahnya dengan kalimat, “Saya bangga pernah dianggap sesat, asal bersama orang yang paling dekat dengan sunnah Rasulullah.”
Muhammadiyah Kini: Buah dari Perjuangan yang Pernah Dicaci
Kini, Muhammadiyah menjelma menjadi salah satu organisasi Islam terbesar dan terkaya di dunia. Asetnya tidak hanya berupa tanah dan bangunan, tetapi juga amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan yang tersebar luas. Data terakhir menyebutkan Muhammadiyah memiliki lebih dari 170 perguruan tinggi, lebih dari 8.000 sekolah, dan 121 rumah sakit dan klinik besar di seluruh Indonesia.
Muhammadiyah juga dikenal sebagai pelopor pendidikan modern berbasis Islam. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) adalah beberapa nama besar yang telah mencetak ribuan sarjana dan profesional Muslim. Organisasi ini kini memiliki struktur yang kuat, mulai dari pusat hingga ranting, dengan jaringan internasional di berbagai negara.
Kehadiran Muhammadiyah di era modern sangat terasa dalam pelayanan publik. Rumah sakit Muhammadiyah melayani jutaan pasien tanpa membedakan agama, suku, atau status sosial. Pendidikan yang ditawarkan pun menggabungkan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam, menjadikannya pilihan utama bagi banyak keluarga Muslim di Indonesia.
Lebih dari sekadar lembaga, Muhammadiyah adalah bukti bahwa dakwah yang dulu dianggap sesat dan melawan tradisi, ternyata mampu menjawab kebutuhan zaman dengan tetap menjaga kemurnian tauhid. Semua ini tidak lepas dari pengorbanan orang-orang seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Muhammad Syoedja yang tetap bersabar dalam badai.
Siapakah KH Muhammad Syoedja
Muhammad Soedja, atau Haji Sudja, adalah salah satu murid dan kader awal KH Ahmad Dahlan yang kelak dikenal sebagai tokoh visioner dalam sejarah Muhammadiyah. Dalam suatu kesempatan pelantikan, ketika ia menyampaikan ide-idenya tentang pendirian rumah sakit dan lembaga sosial Muhammadiyah, para hadirin justru menertawakannya. Di tengah riuh tawa dan keraguan itu, KH Ahmad Dahlan tampil berbeda. Ia mendengarkan dengan seksama, tidak memotong, dan justru membela Sudja dari cemoohan orang-orang. Tindakan Dahlan itu menjadi bukti kebesaran jiwa seorang guru yang mengenali potensi muridnya di tengah gelombang sinisme.
Gagasan-gagasan Sudja yang kala itu dianggap utopia, akhirnya menjadi kenyataan satu demi satu. Rumah Sakit Muhammadiyah berhasil didirikan di Jalan Notoprajan sebelum akhirnya berpindah ke Jalan Ngabean. Tak berhenti di sana, Muhammadiyah juga berhasil mendirikan rumah miskin dan panti asuhan. Semua itu menjadi tonggak penting amal usaha Muhammadiyah yang hari ini dikenal luas sebagai pelayan umat. Dan nama Haji Sudja tetap dikenang sebagai salah satu inisiator penting dalam mewujudkan infrastruktur sosial Muhammadiyah pada masa-masa sulit.
Peran penting Sudja juga terlihat dalam pembentukan Bagian Penolong Haji Muhammadiyah. Pada tahun 1922, KH Ahmad Dahlan menunjuknya untuk memimpin rombongan haji dan melakukan survei langsung terhadap kondisi jamaah Indonesia di tanah suci. Bersama Wirjopertomo, ia tidak hanya memimpin perjalanan, tetapi juga mengenalkan Muhammadiyah kepada otoritas keagamaan di Makkah. Dari pengalaman tersebut, ia belajar banyak, dan kelak setelah Indonesia merdeka, Sudja mendirikan PPHI (Panitia Perbaikan Haji Indonesia), menjadikannya pelopor dalam reformasi pelayanan haji nasional.
Pada masa kemerdekaan, Haji Sudja tercatat sebagai pegawai di Kementerian Agama Republik Indonesia. Namun dedikasinya kepada Muhammadiyah tidak luntur. Setelah pensiun, ia kembali mengabdi di PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dan panti asuhan Muhammadiyah. Ia tetap aktif hingga usia senja, meski kondisi fisiknya mulai melemah. Ironisnya, saat sakit menjelang wafat, ia merasa sedih karena belum bisa dirawat di RS PKO Muhammadiyah yang dahulu ia rintis, sebab fasilitasnya masih sangat terbatas kala itu.
Muhammad Soedja wafat di Kauman pada tanggal 5 Agustus 19, meninggalkan warisan keteladanan dalam kegigihan, ketulusan, dan keberanian bermimpi besar. Dari seorang yang ditertawakan, ia menjadi pilar penting berdirinya lembaga-lembaga amal Muhammadiyah yang kini dinikmati jutaan umat. Sejarah membuktikan, bahwa keyakinan dan keistiqamahan bisa mengubah cemoohan menjadi kenangan indah bagi umat sepanjang zaman.
Inspirasi Terhebat
Kisah KH Ahmad Dahlan dan KH Muhammad Syoedja menunjukkan bahwa dakwah yang benar tidak selalu diterima dengan mudah. Namun dengan kesabaran, ilmu, dan keikhlasan, Allah akan membuka jalan kemenangan. Tuduhan sesat, kehilangan masjid, dan pengasingan sosial adalah bagian dari ujian. Kini, buah perjuangan itu tumbuh menjadi gerakan besar bernama Muhammadiyah yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.
“Kita mungkin kehilangan masjid, kehilangan mushala, bahkan kehilangan kepercayaan manusia. Tapi jika kita tidak kehilangan Allah, maka kita tidak kehilangan apa-apa.” – KH Ahmad Dahlan, sebagaimana dikenang oleh KH Muhammad Syoedja.
















Leave a Reply