MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

LIMA SUNAH IDUL ADHA YANG SERING DIABAIKAN

Idul Adha merupakan salah satu hari raya besar umat Islam yang penuh makna pengorbanan dan ketaatan. Namun, di balik kemeriahan ibadah kurban dan shalat Id, terdapat sejumlah sunah yang sering kali terabaikan oleh umat Islam. Padahal, menghidupkan sunah-sunah ini dapat menyempurnakan amal dan mendatangkan pahala besar. Artikel ini mengulas lima sunah Idul Adha yang sering diabaikan, dilengkapi dalil hadits, penjelasan makna, serta saran agar umat lebih memperhatikannya.


Idul Adha adalah momentum tahunan yang mengingatkan kita pada keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam hal pengorbanan, ketaatan, dan tawakal kepada Allah SWT. Selain melaksanakan ibadah kurban, umat Islam juga dianjurkan untuk menegakkan shalat Idul Adha dengan penuh kekhusyukan. Sayangnya, banyak umat yang hanya fokus pada aspek besar seperti pemotongan hewan kurban, tanpa memahami detail-detail sunah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW pada hari yang mulia ini.

Menghidupkan sunah bukan sekadar tambahan ibadah, tetapi wujud cinta kepada Rasulullah SAW. Sunah-sunah Idul Adha jika diamalkan dapat menyempurnakan pelaksanaan ibadah, meningkatkan kualitas ruhiyah, serta menjaga kemurnian syariat. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui apa saja sunah tersebut agar tidak luput dari perhatian.


LIMA SUNAH IDUL ADHA YANG SERING DIABAIKAN

  1. Tidak makan sebelum shalat Idul Adha
    Banyak orang terbiasa sarapan sebelum berangkat ke masjid. Padahal, dari Buraidah RA, Rasulullah SAW disebutkan “Rasulullah tidak keluar pada hari Idul Fitri sebelum makan, dan tidak makan pada hari Idul Adha sebelum pulang (baru makan dari hasil kurban).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah). Hikmahnya adalah membedakan Idul Fitri yang dirayakan dengan berbuka, sedangkan Idul Adha lebih utama menunggu hingga menyembelih.
  2. Bertakbir sejak malam hingga pelaksanaan shalat Id
    Sering kali takbir hanya dilantunkan beberapa menit menjelang shalat, padahal takbir sudah disyariatkan sejak malam tanggal 10 Dzulhijjah. Dari Ibn Umar dan Abu Hurairah RA: “Keduanya keluar ke pasar pada sepuluh hari itu, lalu bertakbir dan orang-orang pun bertakbir mengikuti takbir mereka.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan sunnah menyebarkan gema takbir di rumah, jalan, dan masjid.
  3. Berjalan kaki menuju tempat shalat Id
    Banyak yang lebih memilih naik kendaraan padahal dari Ali bin Abi Thalib RA: “Termasuk sunnah untuk keluar menuju shalat Id dengan berjalan kaki.” (HR. Tirmidzi, Hasan). Hikmahnya adalah menampakkan semangat syiar Islam, menyatukan langkah menuju ibadah, dan merasakan kesederhanaan.
  4. Mandi sebelum berangkat shalat Id
    Sebagian orang merasa mandi itu hanya penting saat shalat Jumat. Dari Nafi’, “Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari Id sebelum keluar menuju tempat shalat.” (HR. Malik). Mandi sunnah ini menunjukkan persiapan diri secara lahir dan batin untuk menghadap Allah dan berkumpul bersama kaum Muslimin.
  5. Mengambil jalan berbeda saat pergi dan pulang
    Banyak jamaah memilih rute pulang yang sama, padahal dari Jabir bin Abdillah RA: “Nabi SAW apabila hari Id, beliau mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan pulangnya.” (HR. Bukhari). Hal ini dianjurkan sebagai bentuk syiar, memperluas silaturahmi, dan memperbanyak saksi bumi atas ibadah kita.

KESIMPULAN
Sunah-sunah Idul Adha bukan sekadar ritual tambahan, tetapi bagian dari kesempurnaan ibadah dan bentuk ketaatan kepada Nabi Muhammad SAW. Sayangnya, banyak dari sunah ini yang terlupakan karena ketidaktahuan atau kelalaian umat Islam. Memahami dan mengamalkan sunah akan membuat ibadah Idul Adha lebih bermakna, bukan hanya sekadar rutinitas tahunan.


SARAN
Penting bagi para dai, ustaz, dan tokoh masyarakat untuk terus mengedukasi umat tentang sunah-sunah Idul Adha melalui khutbah, kajian, dan media sosial. Umat juga diharapkan lebih proaktif mempelajari fiqih hari raya agar tidak hanya fokus pada kurban, tetapi juga menyempurnakan amal ibadah di hari-hari besar Islam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *