MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Adab di Masjid Berkaitan dengan Anak Menurut Sunah dan Ulama

Masjid adalah pusat spiritual dan sosial umat Islam, tempat ibadah dan pembinaan akhlak. Dalam konteks keluarga, khususnya anak-anak, masjid memiliki peran penting sebagai ruang pendidikan dini. Namun, sering kali anak-anak dipersepsikan sebagai sumber gangguan di masjid. Artikel ini mengupas adab anak-anak di masjid berdasarkan sunnah Nabi ﷺ, pandangan para ulama, dan tips praktis yang sesuai dengan tuntunan syariat, agar masjid tetap menjadi tempat ramah anak sekaligus menjaga kekhusyukan ibadah jamaah.


Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat pembelajaran dan pembinaan umat sejak masa Rasulullah ﷺ. Dalam masyarakat modern, muncul tantangan bagaimana membawa anak-anak ke masjid tanpa menodai kekhusyukan ibadah orang dewasa. Hal ini menuntut pemahaman yang seimbang antara mendidik anak dalam suasana ibadah dan menjaga etika masjid.

Tidak sedikit orang tua merasa dilema antara mengenalkan masjid kepada anak-anak dan takut ditegur karena anak dianggap mengganggu. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana syariat Islam dan para ulama menuntun kita dalam memperlakukan anak-anak di masjid secara bijaksana, penuh kasih sayang, namun tetap disiplin dan beradab.

 Menurut Sunnah Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ sangat menyayangi anak-anak dan tidak melarang mereka hadir di masjid. Dalam banyak riwayat, beliau membiarkan cucunya, Hasan dan Husain, bermain bahkan menaiki punggung beliau saat sujud dalam salat. Hadis ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya diperbolehkan berada di masjid, tetapi juga diizinkan untuk berinteraksi dengan lingkungan masjid, selama tidak merusak kesakralannya.

Beliau juga menunjukkan toleransi terhadap suara anak-anak dalam masjid. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ mempercepat salatnya saat mendengar tangisan bayi agar tidak menyusahkan ibunya. Ini menunjukkan empati beliau terhadap kondisi orang tua dan anak di dalam masjid, tanpa mengusir atau mencela kehadiran mereka.

Namun demikian, Rasulullah ﷺ tetap memberikan bimbingan terhadap adab di masjid. Anak-anak perlu diajarkan sopan santun di masjid sejak dini. Nabi ﷺ bersabda, “Ajarkan anak-anak kalian salat pada usia tujuh tahun.” Ini menjadi dasar pentingnya edukasi dan pendampingan anak dalam ibadah sejak usia dini.


Menurut Para Ulama (10 Paragraf)

  1. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mendorong agar anak-anak dikenalkan pada masjid sejak kecil, sebagai bagian dari pendidikan ruhani. Menurut beliau, semakin awal anak-anak mengenal tempat ibadah, semakin kuat ikatan spiritual mereka saat dewasa.
  2. Imam Nawawi menjelaskan bahwa membawa anak ke masjid diperbolehkan selama tidak menyebabkan kerusakan atau kekacauan. Orang tua wajib mengawasi dan mengarahkan anak agar tidak berlari-lari atau bermain yang berlebihan.
  3. Imam Malik dalam al-Muwaththa’ meriwayatkan bahwa para sahabat membawa anak-anak mereka ke masjid, bahkan ketika mereka belum baligh. Ini menunjukkan bahwa keberadaan anak di masjid adalah tradisi yang sah dan dibenarkan.
  4. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah mengusir anak-anak dari masjid, bahkan ketika mereka menangis. Namun, orang tua tetap punya tanggung jawab untuk mengajarkan adab dan ketertiban kepada anak.
  5. Syaikh Bin Baz menyarankan agar anak-anak diberi tempat tersendiri atau dikumpulkan dalam area tertentu untuk memudahkan pengawasan dan meminimalkan gangguan pada jamaah lain.
  6. Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa jika anak terlalu kecil dan sulit dikendalikan, lebih baik menunggu sampai usia yang lebih mampu mengikuti aturan. Namun, bukan berarti anak dilarang secara mutlak ke masjid.
  7. Yusuf al-Qaradawi mendorong konsep masjid ramah anak, di mana masjid bukan hanya tempat salat, tapi juga tempat tumbuh kembang pendidikan karakter. Ia menyarankan pendekatan psikologis dalam mendidik anak di masjid, bukan dengan kekerasan atau hardikan.
  8. Syaikh Ali Jumu’ah (Mesir) berpendapat bahwa menghalangi anak dari masjid justru bisa merusak kecintaan mereka terhadap agama. Ia menyarankan agar jamaah dewasa bersabar dan turut membantu mendidik anak-anak secara kolektif.
  9. Dr. Abdul Karim Zaidan dalam Al-Mufassal fi Ahkam al-Mar’ah menekankan pentingnya partisipasi anak dalam kegiatan masjid seperti pengajian, agar tercipta suasana pembelajaran yang sehat dan positif sejak dini.
  10. Syaikh Salman al-Audah menyatakan bahwa masjid perlu memiliki program dan fasilitas khusus untuk anak-anak, seperti taman Quran atau majelis anak, agar mereka tumbuh dalam lingkungan masjid yang ramah dan tidak sekadar formalitas.

10 Adab di Masjid Berkaitan dengan Anak 

  1. Ajari Anak Doa Masuk Masjid Ajarkan anak membaca doa ketika masuk masjid, misalnya: “Allahummaftah li abwaba rahmatik.” Hal ini menanamkan kesadaran spiritual sejak dini bahwa mereka sedang memasuki tempat mulia.
    Kebiasaan ini juga melatih anak menghargai tempat ibadah, dan bukan menganggap masjid seperti taman bermain biasa.
  2. Latih Anak Salat Sejak Dini Meskipun belum wajib, anak perlu dilatih mengikuti gerakan salat dengan tertib dan tenang. Ajarkan mereka untuk berdiri di samping orang tua, bukan di belakang atau jauh.
    Ini membangun rasa keterlibatan mereka dalam ibadah serta menjadi role model bagi anak-anak lain.
  3. Hindari Membawa Mainan yang Mengganggu Mainan bersuara atau berwarna terang dapat mengganggu kekhusyukan jamaah. Sebaiknya hindari membawa barang-barang tersebut ke dalam masjid.
    Alih-alih, bawa buku islami atau alat tulis yang tenang dan tidak menimbulkan suara.
  4. Duduk Bersama Anak dan Awasi Langsung Jangan biarkan anak duduk jauh dari pengawasan. Duduklah bersama anak agar bisa langsung menegur atau membimbing saat mereka mulai tidak tertib.
    Kehadiran orang tua di samping anak menciptakan keamanan dan rasa hormat terhadap adab masjid.
  5. Beri Pemahaman Sebelum Masuk Masjid Sampaikan dengan bahasa sederhana bahwa di masjid tidak boleh berteriak, berlari, atau makan. Lakukan ini setiap sebelum masuk masjid.
    Pengulangan ini akan memperkuat pemahaman dan menjadi budaya yang dibawa anak hingga dewasa.
  6. Jangan Memarahi Anak di Depan Umum Jika anak membuat kesalahan, hindari memarahinya dengan suara keras di depan jamaah. Gunakan pendekatan lembut dan ajak bicara setelah keluar masjid.
    Ini menjaga harga diri anak dan menghindarkan trauma terhadap tempat ibadah.
  7. Libatkan Anak dalam Kegiatan Masjid Ajak anak ikut membersihkan sajadah, mengatur sandal, atau mendengarkan ceramah pendek. Kegiatan ini menumbuhkan rasa cinta terhadap masjid.
    Keterlibatan praktis ini memberi makna bahwa masjid bukan tempat asing, tetapi rumah spiritual yang menyenangkan.
  8. Posisikan Anak di Shaf yang Sesuai Untuk anak yang sudah bisa tertib, ajak mereka ikut shaf bersama jamaah. Namun, jika belum bisa diam, lebih baik di pinggir atau belakang bersama orang tua.
    Ini agar mereka tidak mengganggu saf jamaah dan mudah diawasi.
  9. Beri Pujian Setelah Salat Jika anak berhasil tenang selama salat, berikan pujian atau pelukan. Ini bentuk apresiasi yang memperkuat perilaku positif.
    Pujian kecil bisa memberikan efek besar bagi perilaku jangka panjang anak di masjid.
  10. Bersabar dan Konsisten dalam Membimbing Anak-anak perlu proses. Jangan berharap sekali bimbing langsung paham. Konsistensi dan kesabaran adalah kunci dalam mendidik adab mereka di masjid.

Kesimpulan

Adab anak di masjid merupakan tanggung jawab bersama: orang tua, jamaah, dan pengurus masjid. Dengan mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan bimbingan para ulama, kita bisa menjadikan masjid sebagai ruang ramah anak sekaligus menjaga kekhusyukan ibadah. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan masjid yang mendidik dan penuh kasih sayang akan menjadi generasi pecinta masjid, penjaga shalat, dan pelanjut peradaban Islam yang agung.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *