MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Injil dalam Perspektif Islam: Quran Penyempurna Injil

Dalam perspektif Islam, Injil merupakan salah satu dari empat kitab samawi yang diakui sebagai wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Isa (Yesus). Injil, yang disebut dalam Al-Qur’an, diakui memiliki petunjuk hidup dan cahaya bagi umatnya pada waktu itu, sebagaimana tercatat dalam QS. Al-Mā’idah: 46. Islam meyakini bahwa Injil adalah wahyu yang mirip dengan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, namun keduanya telah mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Al-Qur’an menegaskan bahwa kitab-kitab tersebut telah mengalami tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh tangan manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 79. Oleh karena itu, meskipun Injil diakui dalam Islam sebagai wahyu yang mulia, hanya Al-Qur’an yang diakui sebagai wahyu yang terjaga keasliannya.

Injil dalam Al-Qur’an disebut sebagai petunjuk dan cahaya yang membenarkan kitab sebelumnya dan sebagai wahyu yang membawa umat kepada kebenaran. Meskipun demikian, Islam mengajarkan bahwa Injil yang ada saat ini bukanlah Injil yang asli, karena telah terjadi perubahan dalam ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa عليه السلام. Al-Qur’an dengan jelas menyatakan dalam QS. Al-Mā’idah: 116 bahwa Nabi Isa menolak klaim bahwa ia dan ibunya, Maryam, adalah Tuhan selain Allah. Hal ini menunjukkan perbedaan mendasar antara ajaran Islam dengan pemahaman yang berkembang setelah wafatnya Nabi Isa, yang mengarah pada konsep ketuhanan yang bertentangan dengan ajaran tauhid yang diajarkan oleh Nabi Isa.

Dalam perspektif Al-Qur’an, Injil adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa (Yesus) sebagai petunjuk dan cahaya bagi umatnya (QS. Al-Mā’idah: 46). Al-Qur’an mengakui keberadaan Injil sebagai wahyu dari Allah, sebagaimana Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa. Namun, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kitab-kitab tersebut telah mengalami perubahan oleh tangan manusia (QS. Al-Baqarah: 79), sehingga tidak lagi sepenuhnya mencerminkan wahyu asli. Umat Islam diperintahkan untuk beriman kepada kitab-kitab Allah yang asli, tetapi hukum syariat yang berlaku bagi mereka adalah yang terdapat dalam Al-Qur’an, yang merupakan penyempurna dan pengoreksi kitab-kitab sebelumnya (QS. Al-Mā’idah: 48)

Injil adalah salah satu kitab suci yang diakui dalam Islam sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Isa عليه السلام. Sebagai kitab yang membawa petunjuk bagi kaum Bani Israil, Injil memiliki peran penting dalam membimbing umat manusia pada zamannya menuju kebenaran. Islam meyakini bahwa Injil diturunkan sebagai kelanjutan dari Taurat, yang sebelumnya diberikan kepada Nabi Musa عليه السلام.. Al-Qur’an menyebutkan Injil sebagai kitab yang mengandung petunjuk dan rahmat bagi mereka yang bertakwa. Allah berfirman:“Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) Injil, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya serta membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Taurat…” (QS. Al-Ma’idah: 46).Ayat ini menegaskan bahwa Injil merupakan kitab yang berasal dari Allah dan mengandung ajaran-ajaran yang benar. Namun, sebagaimana Taurat, Islam mengajarkan bahwa Injil yang ada saat ini tidak lagi dalam bentuk aslinya, karena telah mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.

Penjelasan Lengkap tentang Injil dalam Islam

Dalam Islam, Injil adalah salah satu kitab yang diturunkan oleh Allah untuk Nabi Isa عليه السلام. Menurut Al-Qur’an, Injil adalah wahyu yang datang untuk memberikan petunjuk hidup, membimbing umat menuju kebenaran, dan meneruskan ajaran Taurat yang sebelumnya diturunkan kepada Nabi Musa عليه السلام. Dalam QS. Al-Mā’idah: 46, Injil disebut sebagai kitab yang mengandung petunjuk dan cahaya, yang membenarkan dan melengkapi kitab-kitab sebelumnya. Namun, meskipun Injil pada awalnya berisi wahyu yang benar dan sesuai dengan kehendak Allah, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa Injil telah mengalami perubahan seiring waktu.

Islam mengajarkan bahwa kitab-kitab samawi, termasuk Injil, telah mengalami tahrif atau perubahan, baik karena penafsiran yang salah maupun karena pengaruh tangan manusia dalam menulis dan menyebarkan ajaran. QS. Al-Baqarah: 79 menyebutkan bahwa sebagian orang mengubah isi kitab-kitab tersebut demi kepentingan pribadi mereka. Oleh karena itu, meskipun Injil mengandung ajaran yang mulia dan membawa cahaya bagi umat pada zamannya, ajaran tersebut tidak lagi sepenuhnya murni seperti yang pertama kali diturunkan. Islam juga menegaskan bahwa Nabi Isa tidak mengajarkan konsep trinitas atau penyembahan kepada dirinya atau ibunya, tetapi mengajarkan tauhid, yaitu bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Penting untuk dicatat bahwa dalam Islam, Injil yang ada saat ini berbeda dari Injil yang asli. Ajaran-ajaran yang berkembang setelah wafatnya Nabi Isa, termasuk konsep ketuhanan yang bertentangan dengan tauhid, dianggap sebagai perubahan yang tidak sesuai dengan wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Dengan demikian, umat Islam meyakini bahwa Injil yang ada sekarang tidak lagi mencerminkan wahyu asli, dan hanya Al-Qur’an yang diakui sebagai wahyu yang murni dan terjaga keasliannya.

Selain Injil, Al-Qur’an juga mengakui kitab-kitab lainnya seperti Taurat, Zabur, dan Kitab Samawi lainnya. Masing-masing kitab ini memiliki fungsi dan ajaran yang berbeda, namun semuanya dianggap sebagai wahyu dari Allah yang diberikan kepada nabi-nabi-Nya untuk membimbing umat manusia. Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir hadir untuk menyempurnakan dan mengoreksi ajaran-ajaran yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya, serta memberikan petunjuk yang lebih jelas dan sempurna mengenai bagaimana umat manusia harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Perubahan Injil dalam Pandangan Islam

  • Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah keyakinan bahwa kitab-kitab samawi sebelum Al-Qur’an telah mengalami tahrif (perubahan). Tahrif ini dapat berupa pengubahan teks, penambahan, atau penghapusan sebagian ajaran aslinya. Al-Qur’an menyebutkan:
  • “Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka mengatakan, ‘Ini dari Allah,’ untuk menjualnya dengan harga yang murah…” (QS. Al-Baqarah: 79).
  • Ayat ini menunjukkan bahwa ada sebagian orang yang mengubah isi kitab suci demi kepentingan tertentu. Dalam konteks Injil, Islam meyakini bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa عليه السلام telah mengalami perubahan oleh tangan manusia, sehingga tidak lagi murni sebagaimana wahyu yang aslinya diturunkan.

Konsep Tauhid dalam Injil Asli

  • Islam mengajarkan bahwa Nabi Isa عليه السلام diutus dengan membawa ajaran tauhid, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Dalam berbagai ayat Al-Qur’an, disebutkan bahwa Nabi Isa عليه السلام tidak pernah mengajarkan doktrin ketuhanan dirinya atau konsep trinitas. Sebaliknya, beliau menegaskan untuk menyembah Allah semata.
  • Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Wahai Isa putra Maryam! Adakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Mahasuci Engkau! Tidaklah patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau telah mengetahuinya…'” (QS. Al-Ma’idah: 116).

  • Ayat ini membuktikan bahwa ajaran asli yang dibawa oleh Nabi Isa عليه السلام adalah tauhid, bukan penyembahan kepada dirinya atau ibunya, Maryam. Namun, setelah kepergian Nabi Isa عليه السلام, ajarannya mengalami perubahan yang menyebabkan munculnya konsep-konsep baru dalam agama yang berkembang setelahnya.

Perbedaan Injil dan Perjanjian Baru

  • Dalam pandangan Islam, Injil yang asli tidak sama dengan Perjanjian Baru yang ada saat ini. Perjanjian Baru yang digunakan oleh umat Kristiani terdiri dari berbagai kitab yang ditulis oleh murid-murid atau pengikut Nabi Isa عليه السلام, bukan merupakan teks asli dari wahyu yang diberikan kepada beliau. Oleh karena itu, Islam tidak menganggap Perjanjian Baru sebagai Injil yang sesungguhnya.
  • Beberapa isi Perjanjian Baru mungkin masih mengandung ajaran yang sesuai dengan wahyu asli, tetapi Islam menegaskan bahwa hanya Al-Qur’an yang tetap murni dan terjaga. Oleh karena itu, umat Islam diwajibkan untuk beriman kepada Injil dalam bentuk aslinya, tetapi tidak menjadikan teks yang ada saat ini sebagai rujukan utama dalam memahami agama.

Al-Qur’an sebagai Penyempurna Injil

  • Sebagai kitab terakhir, Al-Qur’an datang untuk membenarkan dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya, termasuk Injil. Allah berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan sebagai penjaga terhadapnya…” (QS. Al-Ma’idah: 48). Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang mengoreksi ajaran-ajaran yang telah mengalami penyimpangan. Dengan demikian, bagi umat Islam, Al-Qur’an adalah sumber hukum dan pedoman utama yang harus diikuti.
  • Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, diyakini oleh umat Muslim sebagai wahyu terakhir yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Salah satu peran utama Al-Qur’an adalah sebagai penyempurna dan penguat ajaran yang telah diturunkan sebelumnya, termasuk Injil. Dalam pandangan Islam, Injil adalah wahyu yang diberikan kepada Nabi Isa (Yesus) yang berisi petunjuk hidup, namun seiring berjalannya waktu, banyak aspek ajaran Injil yang mengalami perubahan atau penyimpangan dari tujuan awalnya. Al-Qur’an hadir untuk memperbaiki dan mengklarifikasi ajaran-ajaran tersebut, mengembalikan kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah.
  • Al-Qur’an menyatakan bahwa sebelumnya Allah menurunkan kitab-kitab-Nya sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia, seperti Taurat kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa, dan Zabur kepada Nabi Daud. Meskipun kitab-kitab ini mengandung petunjuk yang benar, umat manusia, dalam perjalanan waktu, sering kali melakukan penyimpangan dari ajaran yang sebenarnya. Oleh karena itu, Al-Qur’an hadir sebagai penyempurna dan pemelihara keaslian wahyu-wahyu terdahulu. Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an memberikan konfirmasi terhadap banyak nilai-nilai yang terdapat dalam Injil dan Taurat, namun juga mengoreksi beberapa bagian yang dianggap telah diselewengkan.
  • Sebagai contoh, Al-Qur’an menegaskan posisi Nabi Isa sebagai utusan Allah, bukan Tuhan atau anak Tuhan sebagaimana yang diyakini dalam ajaran Kristen. Al-Qur’an juga mengingatkan umat manusia tentang pentingnya mengakui kebesaran dan keesaan Allah, yang merupakan inti ajaran dalam Injil yang telah diperkenalkan oleh Nabi Isa. Dengan demikian, Al-Qur’an berfungsi untuk meluruskan ajaran-ajaran yang telah mengalami penyimpangan, serta mengembalikan umat manusia pada ajaran yang lurus dan benar.
  • Sebagai wahyu yang terakhir, Al-Qur’an bukan hanya melengkapi wahyu-wahyu sebelumnya, tetapi juga menjadi petunjuk hidup yang komprehensif bagi umat Islam. Ia mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari spiritualitas, etika, hukum, hingga sosial. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa ia bukanlah pengganti Injil atau kitab-kitab sebelumnya, melainkan sebagai penyempurna dan pelengkap yang membawa umat manusia kembali pada jalan yang benar yang telah diturunkan oleh Allah sejak awal. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menghormati Injil, tetapi juga berperan sebagai pelindung dan penyempurna wahyu-wahyu terdahulu.

Kesimpulan

  • Dalam perspektif Islam, Injil adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Isa untuk membimbing umatnya menuju kebenaran. Namun, meskipun Injil diakui dalam Islam, kitab ini telah mengalami perubahan dari bentuk aslinya, baik karena penafsiran yang salah maupun karena intervensi manusia. Islam meyakini bahwa ajaran asli yang dibawa oleh Nabi Isa adalah ajaran tauhid, yang mengajarkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Oleh karena itu, meskipun Injil yang ada sekarang dihormati, hanya Al-Qur’an yang dianggap sebagai wahyu terakhir yang murni dan terjaga keasliannya, serta sebagai penyempurna dan pengoreksi kitab-kitab sebelumnya.
  • Islam mengakui bahwa Injil adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa عليه السلام sebagai petunjuk bagi umatnya.
  • Namun, ajaran Injil telah mengalami perubahan sehingga tidak lagi dalam bentuk aslinya. Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan untuk mengimani Injil yang asli, tetapi menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan.
  • Dengan memahami perspektif Islam terhadap Injil, umat Islam dapat lebih menghargai ajaran tauhid yang dibawa oleh para nabi serta semakin mengokohkan keyakinan mereka terhadap Al-Qur’an sebagai wahyu yang terakhir dan sempurna.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *