Widodo Judarwanto
Dalam sejarah panjang dakwah Islam di Indonesia, K.H. Ahmad Dahlan tampil sebagai sosok pembaharu yang konsisten melawan praktik-praktik TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Churafat) yang saat itu banyak mewarnai kehidupan beragama masyarakat. Melalui gerakan Muhammadiyah yang didirikannya, beliau berupaya mengembalikan pemahaman Islam kepada sumber utama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Di tengah masyarakat Yogyakarta yang sangat kental dengan tradisi leluhur yang sering disalahpahami sebagai bagian dari agama, Ahmad Dahlan dengan gigih menyampaikan dakwah pencerahan. Ia menekankan pentingnya membedakan antara ajaran agama yang murni dan tradisi yang tidak memiliki landasan syar’i, sehingga umat dapat memahami Islam secara benar dan tidak terjebak dalam praktik yang berpotensi menyimpang.
Ahmad Dahlan secara tegas menolak segala bentuk tahayul, bid’ah, dan churafat karena dianggap tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam dan cenderung merugikan umat. Beliau mengingatkan bahwa praktik-praktik tersebut tidak hanya tidak bermanfaat, tetapi juga dapat mengarah kepada tindakan syirik yang merusak akidah. Dalam dakwahnya, Ahmad Dahlan mengajarkan umat untuk memperkuat tauhid dan mengamalkan Islam dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Keteguhan beliau dalam melawan TBC tidak hanya menginspirasi perubahan pola pikir masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi bagi gerakan Muhammadiyah untuk terus melanjutkan misi pembaruan dan pemurnian Islam di Indonesia.
Khurafat dan tahayul dan bidah Menjamur di Indonesia
Banyak sekali kisah yang menceritakan bagaimana saktinya orang-orang pada zaman dahulu. Ada yang diceritakan dengan sosok tangguh yang kebal terhadap benda tajam, kesaktian menghilang layaknya proses teleportasi, kemampuan dalam berkomunikasi dan bersekutu dengan jin, bahkan sampai ada yang diceritakan layaknya seorang tokoh fiksi superman yang bisa terbang dengan kekuatannya. Keyakinan atas legenda cerita rakyat tersebut, tidak sedikit sampai hari ini masih berkembang di kalangan masyarakat Indonesia. Parahnya, pada era baru ini praktik spiritual mistis tersebut seringkali dibalut dengan dalih ritual bahkan anjuran agama oleh para praktisi mistis atau dukun-dukun berkedok pemuka agama. Padahal tidak ada satupun landasan dan dasar yang jelas untuk dijadikan sebuah pegangan.
Dalam sebuah sejarah panjang, perjalanan dakwah Muhammadiyah yang digerakan oleh K.H. Ahmad Dahlan memiliki misi dan tujuan untuk pembaharuan (Tajdid) dan pemurnian (Tajrid). Masyarakat Indonesia, khususnya di Yogyakarta tempat pusat perkembangan dakwah pertama Muhammadiyah, masa itu masyarakat sangat kental dengan sebuah tradisi leluhur yang telah dianggap sebagai sebuah kewajiban beragama. Hadirnya dakwah yang dibawa oleh Ahmad Dahlan membawa sebuah pencerahan bagi umat untuk mengembalikan ajaran Islam kepada sumber Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.
Dakwah Muhammadiyah yang digerakan oleh K.H. Ahmad Dahlan secara jelas menolak segala bentuk praktik TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat), karena dianggap tidak ada perintah yang jelas dan manfaat atas apa yang dilakukan, serta dikhawatirkan mengarah kepada tindakan syirik yang berkaitan dengan ketauhidan atau aqidah dalam ajaran Islam.
Tahayul, bentuk kepercayaan terhadap sesuatu hal yang tidak nyata dan tidak memiliki sebuah dasar yang kuat, termasuk kepercayaan terhadap cerita yang telah menjadi kisah turun-temurun oleh generasi terdahulu masuk dalam kategori Tahayul. Dalam ajaran agama Islam telah jelas Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan umatnya untuk tidak mempercayai hal-hal yang tidak jelas dasar hukumnya, termasuk hal-hal yang dikaitkan dengan sebuah mitos dan ramalan sebagaimana firmannya “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui” (Q.S. 17 : 36).
Bid’ah, segala sesuatu amalan baru yang diada-adakan untuk urusan agama Islam, namun sebelum itu belum ada perintah dan contoh yang jelas, hal tersebut merupakan kategori amalan Bid’ah. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam menjelaskan dalam sabdanya “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dalam agama, maka perbuatannya tertolak”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Churafat/Khurafat, sebuah keyakinan terhadap cerita bohong, seperti kisah dan dongeng diluar dari daya pikir logis manusia pada umumnya, sehingga berdampak pada penyesatan aqidah, praktik spiritual ini masuk dalam tindakan yang dilarang agama, biasanya dikenal dengan amalan kategori Khurafat. Diantaranya termasuk juga kepercayaan terhadap kekuatan jimat serta meyakini bahwa dukun dan kuburan dapat memberikan dan mengabulkan permintaannya, padahal Islam secara jelas menjelaskan bahwa tidak ada kuasa dan tuhan selain Allah yang senantiasa memberikan petunjuk dan rahmatnya.
K.H. Ahmad Dahlan sering mengingatkan apa yang diturunkan oleh Allah dalam al-Quran dan apa yang dihadirkan oleh Nabi Muhammad dalam sunnah shahihah, yang berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk, untuk kebaikan (hidup) manusia di dunia dan akhirat”. Tak heran jika banyak dari ajaran KH Ahmad Dahlan bisa membentengi atau kebal terhadap serangan ilmu mistis baik upaya pelet bahkan serangan santet. Hal ini disebabkan sebuah prinsip aqidah menjadi benteng kokoh iman yang dipegang teguh setiap warganya dalam beragama.
Warisan ajaran tersebut ternyata terus diamalkan dan dilakukan dalam berebagai kegiatan sosial organisasi Islam tertua di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1912. Muhammadiyah selalu konsisten terhadap prinsip yang menjadi pedoman hidup setiap warganya. Termasuk prinsipnya dalam memandang segala bentuk praktik amalan TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat) ini. Prinsip itu pula yang sampai hari ini mengantarkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern terbesar dan terkaya di Dunia. Berfokus pada peningkatan Sumber Daya Manusia melalui strategi dakwah yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan serta kegiatan sosial kemasyarakatan dalam rangka menghadirkan kebermanfaatan, kemajuan, pencerahan dan kegembiraan bagi umat untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.
Semoga kita semua senantiasa untuk selalu berupaya membentengi diri kita dari paham menyimpang yang dapat merusak bahkan menyesatkan keimanan kita. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam adalah sumber utama dari kemurnian sebuah ajaran agama Islam, maka dari itu jadikanlah keduanya sebagai pedoman hidup dan dasar dalam praktik amalan keagamaan yang kita lakukan sehari-hari, semata-mata untuk meraih rahmat serta petunjuknya.



















Leave a Reply