Kisah Inspiratif Mualaf Prof Dr Menachem Ali: Dari Pakar Filologi Menjadi Pendakwah Islam
Mendengar nama Menachem Ali, sebagian orang mungkin masih terdengar asing. Namun perjalanan hidupnya menawarkan kisah inspiratif tentang pencarian kebenaran, intelektualitas, dan keteguhan hati. Menachem Ali, seorang pakar filologi yang ahli membaca dan menafsirkan naskah-naskah kuno, mengubah arah hidupnya secara dramatis ketika ia mendapatkan hidayah dan memilih masuk Islam, menjadi seorang mualaf pada Agustus 2005.
Latar Belakang Kehidupan dan Pendidikan
Ali lahir di Gresik, Jawa Timur. Sejak duduk di bangku SMA, ia telah disumpah dalam kepercayaannya yang lama dan dikenal sebagai sosok intelektual muda. Perjalanannya dalam dunia akademik dimulai di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, di mana ia menekuni Filologi dan Sastra Indonesia. Setelah lulus, Ali melanjutkan pendidikan S-2, serta berkesempatan menjadi dosen filologi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair, jurusan Sastra Indonesia.
Keahliannya dalam bahasa dan teks kuno membuatnya menguasai tidak hanya bahasa Indonesia, tetapi juga Ibrani, Arab, Yunani, Inggris, Prancis, Latin, Sanskerta, dan Madura. Penguasaan bahasa ini menjadi kunci bagi perjalanan intelektualnya dalam memahami teks-teks suci, manuskrip kuno, dan sejarah agama.
Perjalanan Spiritual dan Debat Intelektual
Selama masa kuliah, Ali aktif dalam diskusi lintas agama. Pada tahun 1993, ia pernah berdebat dengan KH Abdullah Wasian, seorang kristolog senior yang disegani pendeta karena penguasannya atas Alkitab. Perdebatan itu menyoroti isu teologis penting, termasuk pertanyaan tentang siapa yang dikorbankan: Ismail atau Ishak.
Meskipun berdebat dengan seorang pakar, Ali pada saat itu belum masuk Islam. Namun pengalaman ini menanamkan benih pencarian yang lebih mendalam. Ali terus menggali ilmu dan mempertanyakan dogma yang selama ini dianut. Ia menyadari adanya kontradiksi dalam kitab yang ia yakini — perbedaan jumlah kitab dalam Alkitab antara kelompok Kristen (73, 66, hingga 78 kitab) membuatnya bertanya-tanya tentang kepastian wahyu dan kebenaran ajaran.
Momen Hidayah dan Keputusan Menjadi Mualaf
Perjalanan panjang intelektual dan spiritual Ali akhirnya membuahkan hasil. Ia menegaskan bahwa firman Allah yang menjadi manusia juga menjadi titik refleksi, yang kemudian menegaskan perlunya kebenaran absolut dalam ajaran agama. Setelah mempelajari secara mendalam dan membandingkan kitabnya dahulu dengan Al-Qur’an, yang bersifat satu, final, dan tidak diperdebatkan, Ali mantap meninggalkan keyakinan lamanya.
Pada Agustus 2005, ia resmi masuk Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Ali. Keputusan ini bukan sekadar perubahan nama atau identitas, tetapi cerminan perjalanan panjang pencarian kebenaran, kejujuran intelektual, dan keberanian spiritual.
Kiprah sebagai Pendakwah dan Akademisi Muslim
Setelah menjadi mualaf, Muhammad Ali tidak hanya melanjutkan karier akademiknya sebagai dosen filologi, tetapi juga mulai aktif berdakwah. Dengan spesialisasinya, ia kerap menjadi pemateri dalam kajian keagamaan dan forum Islam, termasuk membantu proses mengislamkan orang lain melalui pendekatan intelektual dan argumentasi berbasis sejarah serta teks.
Ali menekankan bahwa pemahaman agama harus mengacu pada bukti naskah yang sahih. Ia sering menelaah manuskrip sejarah dan menyampaikan pesan moral dari kejadian umat terdahulu, seperti kisah Bani Israil, agar umat Islam tidak mengulang kesalahan kolektif yang merugikan.
Keistimewaan dan Inspirasi
Yang membedakan Muhammad Ali dari banyak mualaf adalah kedalaman intelektual dan penguasaan bahasa yang membuatnya mampu menafsirkan teks kuno dan kitab suci lintas agama. Keahliannya dalam filologi memberi perspektif unik dalam dakwah: bukan sekadar retorika, tetapi analisis sejarah dan naskah yang kritis dan ilmiah.
Kisah Ali menjadi inspirasi bahwa pencarian kebenaran tidak mengenal batas usia, latar belakang agama, atau jabatan. Dengan keberanian dan ketekunan, seseorang bisa menemukan jalan yang benar, meskipun perjalanan itu panjang dan penuh tantangan.
Penutup
Menachem Ali atau Muhammad Ali adalah contoh nyata bahwa ilmuwan dan intelektual pun bisa mendapatkan hidayah. Dari seorang pakar filologi yang berakar pada tradisi non-Islam, ia menjelma menjadi pendakwah Muslim yang inspiratif, menggabungkan keilmuan akademik dengan spiritualitas. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa pengetahuan, kejujuran intelektual, dan keberanian spiritual dapat membuka pintu hidayah dan membawa manfaat bagi banyak orang.



















Leave a Reply