MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Shalat Gerhana: Dalil, Keutamaan, dan Tatacara Menurut Tuntunan Rasulullah

Shalat Gerhana: Dalil, Keutamaan, dan Tatacara Menurut Hadits Shahih


Abstrak

Shalat gerhana (kusuf untuk matahari, khusuf untuk bulan) adalah ibadah sunnah muakkadah yang diperintahkan Rasulullah ﷺ ketika terjadi fenomena alam berupa gerhana. Pelaksanaannya memiliki dasar kuat dalam hadits-hadits shahih serta dipraktikkan oleh para sahabat. Artikel ini membahas dalil dari al-Qur’an dan hadits, pandangan ulama empat mazhab, keutamaan shalat gerhana, tata cara pelaksanaannya, serta tuntunan praktis bagi umat Islam, khususnya terkait fenomena gerhana bulan total yang diperkirakan terjadi pada 7–8 September 2025 di Indonesia.

Gerhana matahari dan bulan merupakan fenomena alam yang mengandung makna spiritual mendalam dalam Islam. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa gerhana bukanlah akibat kelahiran atau kematian seseorang, sebagaimana sempat disangka sebagian masyarakat ketika putra beliau, Ibrahim, wafat. Sebaliknya, gerhana adalah tanda kekuasaan Allah ﷻ yang mengingatkan manusia akan kebesaran-Nya, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, doa, istighfar, dan melaksanakan shalat gerhana sebagai bentuk penghambaan.

Dalam khazanah fiqih, shalat gerhana digolongkan sebagai sunnah muakkadah, yakni ibadah yang sangat ditekankan pelaksanaannya. Para ulama dari empat mazhab sepakat bahwa shalat ini dapat dilakukan secara berjamaah, bahkan lebih utama dilaksanakan di masjid agar tampak syiar Islam. Landasannya bersumber dari hadits-hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim yang menjelaskan tata cara Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat gerhana bersama para sahabat, termasuk bacaan panjang, rukuk yang diperpanjang, serta khutbah setelah shalat untuk mengingatkan umat agar kembali kepada Allah ﷻ.

 


Keutamaan Shalat Gerhana

Keutamaan shalat gerhana yang pertama adalah sebagai sarana mempertebal iman dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa gerhana bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan tanda kebesaran Allah yang seharusnya membuat manusia semakin dekat kepada-Nya. Dengan melaksanakan shalat gerhana, seorang muslim diajak untuk merenungi kelemahan dirinya di hadapan Sang Pencipta, memperbanyak doa, istighfar, dan amal kebajikan. Hal ini menjadikan shalat gerhana sebagai momentum spiritual yang mengingatkan manusia akan hari kiamat dan pentingnya memperbaharui keimanan.

Selain itu, shalat gerhana merupakan bentuk ketaatan kepada sunnah Nabi ﷺ. Melaksanakannya berarti menghidupkan amalan yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ beserta para sahabat. Para ulama menyebutnya sebagai ibadah sunnah muakkadah karena tingkat anjurannya yang sangat tinggi. Dengan demikian, setiap muslim yang menunaikan shalat gerhana mendapatkan keutamaan mengikuti jejak Nabi ﷺ dalam menghadapi tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta.

Lebih jauh, shalat gerhana yang dilakukan secara berjamaah memiliki nilai tambah berupa syiar Islam di tengah masyarakat. Kehadiran umat di masjid untuk menunaikan shalat ini menunjukkan persatuan dan kepatuhan kolektif terhadap ajaran Rasulullah ﷺ. Selain mendapat pahala shalat berjamaah, umat juga memperoleh keberkahan dalam memperkuat ukhuwah serta menampakkan Islam sebagai agama yang penuh tuntunan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk ketika menghadapi fenomena alam.

 


Tata Cara Shalat Gerhana

1. Niat
Shalat gerhana dimulai dengan menghadirkan niat dalam hati, tanpa perlu melafalkannya. Niat cukup dalam bentuk kesadaran bahwa ia akan menunaikan shalat gerhana matahari atau bulan, sesuai dengan fenomena yang terjadi. Hal ini sejalan dengan kaidah umum bahwa “innamal a‘mālu binniyyāt” (sesungguhnya amal tergantung pada niat).
📖 Hadits Shahih: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 1907).


2. Jumlah Rakaat
Shalat gerhana terdiri dari dua rakaat, tetapi dengan tata cara berbeda dari shalat sunnah biasa. Dalam setiap rakaat terdapat dua kali qiyam, dua kali bacaan al-Fatihah dan surat, serta dua kali rukuk. Dengan demikian, shalat ini memiliki total empat kali qiyam dan empat kali rukuk, menjadikannya lebih panjang dan penuh kekhusyukan.
📖 Hadits Shahih: Dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā:
“Bahwa Nabi ﷺ shalat (gerhana) bersama orang-orang, beliau berdiri lama sekali, kemudian rukuk lama sekali, lalu berdiri lagi dan membaca (al-Fatihah dan surat) lama sekali, kemudian rukuk lama sekali, lalu sujud. Pada rakaat kedua, beliau melakukan seperti itu juga.” (HR. Bukhari no. 1044, Muslim no. 901).


3. Bacaan
Pada setiap qiyam, Rasulullah ﷺ membaca al-Fatihah diikuti dengan surat panjang, seperti al-Baqarah, Ali Imran, atau an-Nisa. Pada qiyam kedua, beliau membaca surat yang lebih pendek daripada qiyam pertama. Hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana adalah kesempatan untuk memperbanyak bacaan al-Qur’an serta merenungi maknanya.
📖 Hadits Shahih: Dalam riwayat Muslim disebutkan:
“Beliau membaca al-Fatihah lalu surat yang panjang, kemudian rukuk lama. Setelah itu beliau berdiri kembali dan membaca al-Fatihah serta surat yang lebih pendek dari bacaan sebelumnya.” (HR. Muslim no. 901).


4. Rukuk
Rukuk dalam shalat gerhana dilakukan dengan lebih panjang dari biasanya, sehingga jamaah merasakan ketundukan yang mendalam kepada Allah ﷻ. Setelah rukuk pertama, imam berdiri kembali, membaca al-Fatihah dan surat lagi, lalu rukuk kedua yang juga diperpanjang. Hal ini diulang pada rakaat kedua dengan pola yang sama.
📖 Hadits Shahih: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila kalian melihat gerhana, maka berdirilah untuk shalat dan perbanyaklah doa hingga gerhana itu berlalu.” (HR. Bukhari no. 1044, Muslim no. 901).


5. Khutbah Setelah Shalat
Setelah shalat selesai, imam disunnahkan untuk menyampaikan khutbah. Dalam khutbahnya, Rasulullah ﷺ menasihati umat agar memperbanyak doa, istighfar, dzikir, dan sedekah, serta menjadikan gerhana sebagai pengingat akan kedahsyatan hari kiamat. Dengan khutbah ini, shalat gerhana tidak hanya bernilai ibadah ritual, tetapi juga sarana pendidikan dan peringatan.
📖 Hadits Shahih: Dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā:
“Rasulullah ﷺ selesai shalat ketika terjadi gerhana matahari, kemudian beliau berkhutbah kepada orang-orang, memuji Allah lalu bersabda: ‘Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.’” (HR. Bukhari no. 1044, Muslim


Bagaimana yang Harus Dilakukan Umat

  • Pertama, umat Islam sebaiknya mempersiapkan diri sebelum terjadinya gerhana dengan memahami hukum dan tata cara shalat gerhana. Hal ini penting agar fenomena yang jarang terjadi dapat dihadapi dengan ibadah yang benar sesuai sunnah.
  • Kedua, ketika gerhana terjadi, umat dianjurkan untuk segera menuju masjid, melaksanakan shalat secara berjamaah, memperbanyak doa, dzikir, dan istighfar. Hal ini meneladani Rasulullah ﷺ yang menjadikan gerhana sebagai momentum memperdalam rasa takut kepada Allah ﷻ.
  • Ketiga, setelah gerhana selesai, umat tetap dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih. Gerhana adalah pengingat akan datangnya kiamat, sehingga momentum ini hendaknya melahirkan perubahan sikap dalam kehidupan sehari-hari: lebih taat, lebih bersyukur, dan lebih bertakwa.

Kesimpulan

Shalat gerhana merupakan sunnah muakkadah yang memiliki dasar kuat dari hadits-hadits shahih dan ijma’ ulama. Keutamaannya terletak pada pengingat agar manusia kembali kepada Allah ﷻ, memperbanyak doa, istighfar, dan amal shalih. Tata cara pelaksanaannya khas, dengan dua rakaat dan empat kali rukuk. Dalam konteks gerhana bulan total yang akan terjadi pada 7–8 September 2025, umat Islam Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menghidupkan sunnah Nabi ﷺ, memperkuat keimanan, dan menegakkan syiar Islam di masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *