MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Berhenti Merokok Karena Takut Pada Allah

Berhenti merokok karena takut kepada Allah dengan keyakinan bahwa merokok itu haram adalah tindakan yang terpuji dalam Islam. Hal ini menunjukkan ketaatan seseorang kepada perintah Allah dan keinginannya untuk menjauhi larangan-Nya. Jika merokok diyakini haram karena dampaknya yang membahayakan kesehatan dan lingkungan, maka meninggalkannya karena takut kepada Allah adalah bentuk ibadah dan ketaqwaan.

Dalam Islam, segala sesuatu yang merusak tubuh dan jiwa dilarang. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Merokok jelas memiliki dampak buruk terhadap kesehatan, baik untuk perokok maupun orang di sekitarnya. Oleh karena itu, banyak ulama menyatakan bahwa merokok hukumnya haram, terutama jika sudah terbukti menyebabkan mudarat.

Berhenti merokok dengan niat karena takut kepada Allah dan ingin menaati perintah-Nya adalah amal yang sangat mulia. Allah akan memberikan pahala kepada siapa saja yang meninggalkan sesuatu yang haram karena mengharapkan ridha-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”(HR. Ahmad)

TAKUT KEPADA ALLAH

Takut kepada Allah adalah bagian penting dari keimanan seorang Muslim. Rasa takut ini bukanlah ketakutan yang bersifat negatif seperti takut kepada bahaya atau ancaman duniawi, tetapi lebih kepada rasa hormat, kesadaran, dan pengakuan atas kebesaran, kekuasaan, dan keadilan Allah. Berikut adalah alasan mengapa seorang Muslim harus takut kepada Allah:
Kesadaran akan Kekuasaan Allah

  1. Allah adalah Sang Pencipta dan Pemilik segala sesuatu. Segala nikmat yang kita rasakan berasal dari-Nya, dan Dia memiliki kuasa penuh atas kehidupan kita. Ketakutan ini adalah bentuk pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan ditaati. “Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut.”(QS. Al-Baqarah: 40)
  2. Takut akan Dosa dan Hukuman-Nya Takut kepada Allah membuat seorang Muslim berhati-hati dalam bertindak agar tidak melanggar perintah-Nya. Allah telah menetapkan balasan atas setiap amal manusia, baik di dunia maupun di akhirat. “Maka Aku memperingatkan kamu akan neraka yang menyala-nyala.”(QS. Al-Lail: 14)
  3. Motivasi untuk Berbuat Baik Rasa takut kepada Allah mendorong seseorang untuk selalu berbuat baik, meninggalkan dosa, dan memperbaiki diri. Ketakutan ini bersifat mendidik dan menuntun ke jalan yang benar. “Dan orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggalnya.”
    (QS. An-Nazi’at: 40-41)
  4. Bukti Kecintaan kepada Allah Takut kepada Allah tidak terpisah dari rasa cinta kepada-Nya. Seorang hamba yang mencintai Allah akan takut mengecewakan-Nya atau mendapatkan murka-Nya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar.” (QS. Al-Anfal: 2)
  5. Kesadaran akan Kehidupan Akhirat Takut kepada Allah mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan ada kehidupan akhirat yang kekal. Ketakutan ini menjadi pengingat untuk mempersiapkan diri menghadapi hari pembalasan. “Dan takutlah kepada hari ketika kamu semua akan dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 281)

Takut kepada Allah adalah perasaan yang membawa manfaat besar bagi kehidupan seorang Muslim. Ia melahirkan ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan, karena orang yang takut kepada Allah akan selalu berada dalam perlindungan dan rahmat-Nya. Rasa takut ini juga menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih cinta-Nya.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan bagi siapa saja yang berusaha meninggalkan kebiasaan buruk demi ketaatan kepada-Nya.

Gerakan bebas asap rokok di masjid untuk pencegahan rokok pada anak

Salah satu strategi pencegahan merokok pada anak dan remaja adalah melalui gerakan bebas asap rokok di masjid. Masjid sebagai pusat aktivitas pendidikan dan sosial anak-anak serta remaja dapat menjadi model lingkungan sehat tanpa rokok. Kegiatan dakwah, pengajian remaja, dan kelas keagamaan di masjid harus bebas dari asap rokok dan perilaku perokok, sehingga anak-anak terbiasa melihat masjid sebagai tempat suci dan bersih dari kebiasaan merokok. Lingkungan ini juga menekankan bahwa menjaga kesehatan dan menjauhi zat adiktif termasuk bagian dari amanah dan ibadah kepada Allah.

Selain itu, masjid dapat mengadakan program edukasi “Masjid Tanpa Rokok”, termasuk penyuluhan dampak negatif rokok, kampanye anti-rokok, dan kegiatan kreatif seperti lomba poster, kuis, atau drama bertema kesehatan dan keimanan. Melibatkan orang tua, guru, dan pengurus masjid sebagai teladan dalam tidak merokok akan memperkuat pesan moral dan spiritual kepada remaja. Pendekatan ini menanamkan kesadaran dini bahwa merokok bukan hanya membahayakan fisik, tetapi juga melanggar prinsip Islam tentang menjaga diri dan keluarga dari kerusakan (mafsadah).

Fenomena merokok pada anak dan remaja di Indonesia semakin mengkhawatirkan; data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sekitar 5,18 juta anak usia 10–18 tahun aktif merokok, sementara kelompok usia 15–19 tahun menjadi perokok terbanyak dengan prevalensi mencapai 56,5%, dan data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2019 menunjukkan 19,2% anak usia 13–15 tahun merokok aktif, menegaskan bahwa bahaya ini muncul sejak dini; dalam konteks ini, gerakan bebas asap rokok di masjid menjadi langkah strategis yang tidak hanya membersihkan udara fisik dari racun, tetapi juga membersihkan hati dan membentuk karakter generasi muda, mengajarkan bahwa menjaga tubuh adalah amanah Allah, menanamkan kesadaran spiritual, dan menekankan pentingnya keteladanan dari orang tua, guru, dan ulama yang tidak merokok; melalui program kreatif seperti pengajian, lomba poster anti-rokok, kampanye kesadaran kesehatan, dan aktivitas sosial yang bersih dari asap rokok, masjid menjadi ruang sakral yang menginspirasi anak-anak dan remaja untuk hidup sehat, menjauhi perilaku merusak diri, serta menumbuhkan iman dan kontrol diri (self-regulation) yang kuat, sehingga generasi muda tidak hanya terbebas dari rokok, tetapi juga dari kebiasaan buruk yang menggerogoti fisik dan moral merek

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *