Widodo Judarwanto, dr
Istinsya, yakni menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya saat berwudhu, merupakan bagian dari sunnah Nabi Muhammad SAW yang sering diabaikan. Artikel ini bertujuan meninjau pentingnya istinsya dari sisi keutamaan sunnah serta manfaat kesehatannya berdasarkan penelitian medis modern. Dalam pandangan medis, hidung merupakan pintu utama masuknya mikroorganisme, sehingga kebersihannya memiliki peran penting dalam pencegahan infeksi saluran napas.
Melalui tinjauan hadits shahih dan penelitian ilmiah, ditemukan bahwa praktik istinsya dapat membantu mencegah berbagai penyakit pernapasan dan alergi, termasuk sinusitis dan rinitis alergi. Artikel ini merekomendasikan penguatan edukasi wudhu secara komprehensif, termasuk praktik istinsya, baik dari sisi keagamaan maupun medis.
Wudhu adalah praktik bersuci dalam Islam yang mencerminkan prinsip kebersihan lahir dan batin. Salah satu bagian sunnah dalam wudhu yang sering dilupakan adalah istinsya, yaitu menghirup air ke dalam hidung kemudian mengeluarkannya. Meskipun bukan rukun wudhu, istinsya sangat dianjurkan karena berbagai hikmah yang terkandung di dalamnya, baik secara spiritual maupun kesehatan.
Dalam Islam, kebersihan merupakan sebagian dari iman. Rasulullah SAW mencontohkan wudhu secara sempurna dalam banyak riwayat yang shahih, termasuk membersihkan rongga hidung. Dalam konteks kesehatan modern, hidung merupakan jalur utama bagi udara masuk ke tubuh, sehingga menjaga kebersihannya penting untuk kesehatan sistem pernapasan.
Istinsya Menurut Sunnah
Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke dalam hidung, kemudian mengeluarkannya kembali.” (HR. Bukhari No. 162 dan Muslim No. 237). Hadits ini menjelaskan bahwa istinsya merupakan bagian dari tata cara wudhu yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Meski bukan termasuk rukun wudhu, istinsya merupakan sunnah yang sangat dianjurkan dan menunjukkan kesempurnaan dalam mengikuti tuntunan Nabi dalam bersuci.
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: “Sempurnakanlah wudhu kalian, bersungguh-sungguhlah dalam istinsya, kecuali jika kalian sedang berpuasa.” (HR. Abu Dawud No. 142). Hadits ini menegaskan pentingnya melaksanakan istinsya dengan sungguh-sungguh dan tidak asal-asalan. Rasulullah SAW memberi instruksi agar dalam keadaan biasa, seseorang memperdalam hirupan air ke hidung untuk mencapai kebersihan optimal, namun beliau juga memberi pengecualian saat berpuasa agar air tidak masuk ke tenggorokan.
Para sahabat Nabi seperti Abdullah bin Abbas dan Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai pribadi yang teliti dan tekun dalam mengikuti sunnah Nabi, termasuk dalam hal wudhu dan istinsya. Dalam berbagai riwayat, disebutkan bahwa mereka melakukan istinsya sebagai bagian dari wudhu yang sempurna, dan memperlakukannya bukan sekadar ritual, melainkan bentuk kebersihan dan kesalehan. Kesaksian ini memperkuat bahwa praktik istinsya memang dijaga dan diwariskan langsung oleh generasi awal Islam.
Penekanan pada kebersihan hidung oleh para sahabat juga mencerminkan betapa Islam telah mengenal prinsip sanitasi jauh sebelum dunia modern mengakui pentingnya kebersihan saluran pernapasan. Di tengah lingkungan gurun yang berdebu, praktik istinsya menjadi salah satu bentuk proteksi alami terhadap infeksi dan gangguan pernapasan. Dengan demikian, istinsya bukan hanya ibadah, tapi juga bentuk nyata hikmah syariat Islam dalam menjaga kesehatan umatnya sejak dini.
Penelitian Ilmiah Manfaat Istinsya
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa istinsya—praktik menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya saat wudhu—memiliki manfaat kesehatan yang signifikan, terutama dalam menjaga kebersihan saluran pernapasan atas. Studi dalam Journal of Family Practice (2021) menunjukkan bahwa irigasi hidung seperti istinsya dapat menurunkan risiko infeksi saluran napas atas, termasuk flu dan sinusitis, dengan menghilangkan virus, bakteri, dan alergen dari rongga hidung. Selain itu, menurut American Journal of Rhinology and Allergy (2020), praktik ini juga membantu meredakan gejala rinitis alergi seperti bersin dan pilek. Penelitian lain dari Respiratory Medicine (2018) menyebutkan bahwa pembersihan hidung secara teratur meningkatkan fungsi silia di mukosa hidung, sehingga mendukung sistem pertahanan alami tubuh. Bahkan, selama pandemi COVID-19, beberapa studi awal mencatat bahwa nasal rinse seperti istinsya dapat mengurangi beban virus di rongga hidung, meski bukan pengganti vaksin. Secara keseluruhan, istinsya terbukti aman, efektif, dan relevan sebagai praktik higienis yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan pernapasan menurut bukti ilmiah modern.
- Perlindungan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Atas Penelitian yang dimuat dalam Journal of Family Practice (2021) menegaskan bahwa irigasi hidung secara rutin berperan signifikan dalam mencegah infeksi saluran pernapasan atas. Prosedur ini secara mekanis membantu mengeluarkan patogen seperti virus dan bakteri dari rongga hidung sebelum sempat menimbulkan infeksi, sehingga menurunkan insiden penyakit seperti flu, pilek, dan sinusitis. Teknik ini juga memperkuat pertahanan alami tubuh di area hidung sebagai pintu masuk utama udara. Rutin melakukan irigasi, terutama di musim dingin atau saat penyebaran virus tinggi, terbukti menurunkan angka kunjungan medis akibat infeksi saluran napas. Selain efek pencegahan, metode ini bersifat non-invasif, mudah dilakukan di rumah, dan terjangkau. Efektivitasnya bahkan membuatnya sebanding dengan praktik tradisional dalam Islam seperti istinsya yang sudah dilakukan sejak lama sebagai bagian dari kebersihan.
- Mengurangi Gejala Rinitis Alergi Studi yang diterbitkan oleh American Journal of Rhinology and Allergy (2020) menunjukkan bahwa nasal irrigation secara signifikan membantu mengurangi gejala rinitis alergi, seperti bersin, pilek, dan rasa gatal di hidung. Air saline yang digunakan dalam irigasi membantu membersihkan alergen seperti serbuk sari, debu, dan bulu hewan dari rongga hidung, sehingga mengurangi paparan langsung terhadap pemicu alergi. Menariknya, hasil penelitian ini mendukung praktik istinsya dalam wudhu, yang dilakukan secara rutin dan memiliki efek serupa dengan irigasi nasal modern. Hal ini memperlihatkan bahwa kebiasaan tradisional dapat memiliki manfaat medis yang sejalan dengan temuan ilmiah, menjadikan istinsya sebagai kebiasaan higienis yang mendukung kesehatan hidung, terutama bagi penderita alergi kronis.
- Meningkatkan Fungsi Mukosiliar Hidung Menurut Respiratory Medicine (2018), irigasi hidung secara teratur berperan dalam meningkatkan aktivitas mukosiliar, yaitu sistem pertahanan utama hidung yang melibatkan silia dan lendir untuk menyaring serta mengeluarkan partikel asing. Dengan membersihkan rongga hidung secara berkala, silia dapat bergerak lebih bebas tanpa terhambat lendir berlebih atau partikel kotoran. Fungsi mukosiliar yang optimal penting untuk mencegah infeksi dan peradangan kronis, terutama pada individu dengan polusi udara tinggi atau gangguan pernapasan. Irigasi membantu menjaga ekosistem hidung tetap sehat, memastikan pertahanan alami tetap aktif dan efisien. Ini juga menjelaskan mengapa praktik ini semakin direkomendasikan oleh dokter THT untuk perawatan hidung sehari-hari.
- Pencegahan COVID-19 dan Virus Pernafasan Beberapa studi awal selama pandemi COVID-19 menyarankan bahwa nasal rinse bisa membantu menurunkan beban virus di mukosa hidung. Meskipun bukan pengganti vaksin, masker, atau protokol kesehatan lainnya, irigasi hidung secara teratur terbukti mengurangi jumlah partikel virus yang menempel pada jaringan epitel hidung, sehingga memperkecil risiko penularan atau memperberat infeksi. Konsep ini mendukung relevansi istinsya dalam konteks modern sebagai praktik preventif tambahan yang berbasis bukti ilmiah. Dalam situasi pandemi atau wabah pernapasan, irigasi bisa dijadikan pelengkap yang aman, sederhana, dan mudah dilakukan untuk menjaga kesehatan individu dan komunitas.
- Keamanan dan Efektivitas Jangka Panjang Meta-analisis dari Cochrane Database (2020) menunjukkan bahwa nasal irrigation aman dilakukan dalam jangka panjang asalkan menggunakan air yang bersih, matang, atau steril. Tidak ditemukan efek samping serius seperti iritasi atau kerusakan mukosa, bahkan bila digunakan setiap hari oleh penderita rinitis, sinusitis kronis, atau alergi musiman. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi penggunaan irigasi nasal sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Efektivitasnya dalam memperbaiki kualitas hidup dan menurunkan kebutuhan obat-obatan membuatnya direkomendasikan sebagai terapi tambahan non-farmakologis. Praktik istinsya pun mendapat pembenaran ilmiah sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan sistem pernapasan.
Istinsya adalah sunnah wudhu yang sangat bermanfaat, bukan hanya dalam rangka menjalankan ajaran Nabi SAW tetapi juga sebagai langkah preventif terhadap berbagai gangguan kesehatan, terutama infeksi pernapasan dan alergi. Sunnah ini menunjukkan harmoni antara ajaran Islam dan prinsip kedokteran preventif modern.
Saran
- Umat Islam sebaiknya kembali menghidupkan sunnah istinsya dalam wudhu sehari-hari.
- Edukasi wudhu di madrasah dan sekolah Islam perlu memasukkan penjelasan manfaat medis dari setiap praktik wudhu, termasuk istinsya.
- Perlu dikembangkan riset lanjutan yang lebih luas untuk mengkaji manfaat kesehatan dari praktik ibadah dalam Islam, agar bisa dikomunikasikan ke dunia medis dan masyarakat umum.









Leave a Reply