Puasa intermiten Ramadan telah menjadi subjek penelitian yang luas, terutama dalam kaitannya dengan kesehatan metabolik. Salah satu aspek yang menarik adalah pengaruhnya terhadap hormon pengatur nafsu makan, seperti leptin, ghrelin, insulin, gastrin, glucagon-like peptide-1 (GLP-1), peptide YY (PYY), dan cholecystokinin (CCK). Tinjauan sistematis dan meta-analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi efek puasa Ramadan terhadap hormon-hormon tersebut dalam populasi yang sehat.
Metode Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data MEDLINE, Embase, Cochrane Library, CINAHL, Google Scholar, dan Web of Science hingga akhir Maret 2024. Studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan metode meta-analisis dengan menghitung standar deviasi rata-rata (standardized mean difference, SMD) untuk setiap hormon.
Hasil
Sebanyak 16 studi yang melibatkan 664 peserta (341 laki-laki, 51,4%) dengan usia rata-rata 33,9 ± 10,8 tahun dianalisis. Hasil utama meliputi:
- Leptin: Analisis 12 studi dengan data lengkap menunjukkan bahwa puasa Ramadan tidak memiliki efek signifikan terhadap kadar leptin (SMD = -0,11 μg/mL, 95% CI: -0,36 hingga 0,14).
- Ghrelin: Dari tiga studi yang dianalisis, ditemukan peningkatan signifikan kadar ghrelin setelah puasa Ramadan (SMD = 0,31 pg/mL, 95% CI: 0,03 hingga 0,60).
- Insulin: Enam studi menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada kadar insulin sebelum dan sesudah puasa Ramadan (SMD = -0,24 μU/mL, 95% CI: -0,54 hingga 0,02).
- Gastrin: Analisis tiga studi menunjukkan tidak ada efek signifikan puasa Ramadan terhadap kadar gastrin (SMD = 0,23 pg/mL, 95% CI: -0,71 hingga 0,99).
Kesimpulan
Puasa intermiten Ramadan secara signifikan meningkatkan kadar ghrelin, hormon yang merangsang nafsu makan. Namun, tidak ditemukan efek signifikan terhadap leptin, insulin, dan gastrin. Variabilitas tinggi dalam studi terkait leptin menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam mekanisme regulasi hormon selama puasa Ramadan.









Leave a Reply