Sujud merupakan salah satu rukun dalam shalat yang menandakan ketundukan dan kehambaan manusia di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW menekankan pentingnya sujud yang dilakukan dengan tuma’ninah, yaitu ketenangan dan tidak tergesa-gesa dalam melakukannya. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa tata cara sujud harus dilakukan sebagaimana beliau ajarkan, termasuk menjaga ketenangan dan kesempurnaan dalam setiap gerakan.
Para sahabat Nabi SAW juga mengikuti sunnah beliau dalam melakukan sujud. Mereka memperhatikan bagaimana Rasulullah SAW menempatkan anggota tubuhnya ketika bersujud, bagaimana posisi tangan, kaki, serta bagaimana cara bangkit dari sujud dengan penuh ketenangan. Oleh karena itu, memahami tata cara sujud dengan tuma’ninah sesuai sunnah Nabi SAW dan mazhab-mazhab fiqih sangat penting agar shalat yang kita lakukan lebih sempurna.
Tata Cara Sujud dengan Tuma’ninah Sesuai Sunnah Sahabat
Berdasarkan riwayat hadits, Rasulullah SAW melakukan sujud dengan meletakkan tujuh anggota tubuh di tanah, yaitu dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari kaki. Dalam hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau sujud, maka letakkanlah wajahmu dan jangan seperti turunnya unta.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa sujud harus dilakukan dengan posisi tubuh yang sempurna dan tidak tergesa-gesa.
Para sahabat meneladani cara sujud Rasulullah SAW dengan menjaga posisi tangan sejajar dengan bahu atau telinga, serta memastikan hidung dan dahi benar-benar menyentuh tanah. Mereka juga memperhatikan tuma’ninah, yaitu berhenti sejenak dalam sujud sebelum berpindah ke gerakan berikutnya. Abdullah bin Umar RA dan Anas bin Malik RA adalah di antara sahabat yang sangat memperhatikan kesempurnaan sujud ini, termasuk dalam lamanya waktu sujud dan doa yang dibaca di dalamnya.
Tabel Perbedaan Tata Cara Sujud dengan Tuma’ninah Menurut Sunnah dan Ulama Empat Mazhab
| Mazhab | Tata Cara Sujud dengan Tuma’ninah |
|---|---|
| Sunnah Rasulullah SAW & Sahabat | Meletakkan tujuh anggota tubuh di tanah, yaitu dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari kaki. Tangan sejajar dengan bahu atau telinga, dan sujud dilakukan dengan tuma’ninah. |
| Mazhab Hanafi | Sujud dengan menekan dahi dan hidung ke tanah, jari-jari tangan dirapatkan, dan bacaan minimal “Subhana Rabbiyal A’la” tiga kali. |
| Mazhab Maliki | Sujud dengan dahi menyentuh tanah lebih dahulu, diikuti tangan. Siku diangkat dan bacaan sujud bisa diperbanyak sesuai sunnah. |
| Mazhab Syafi’i | Meletakkan tujuh anggota tubuh di tanah, dengan anjuran menekan tangan di tanah serta merapatkan jari-jari ke arah kiblat. Minimal membaca “Subhana Rabbiyal A’la” tiga kali. |
| Mazhab Hanbali | Meletakkan tujuh anggota tubuh di tanah dengan siku terangkat dari lantai. Bacaan sujud minimal tiga kali, dianjurkan menambah doa tambahan. |
Sikap Umat dalam Menyikapi Perbedaan Tata Cara Sujud dengan Tuma’ninah
Perbedaan tata cara sujud dalam shalat merupakan bagian dari kekayaan fiqih Islam yang berasal dari perbedaan dalam memahami hadits Nabi SAW. Setiap mazhab memiliki dasar dalil yang kuat, sehingga umat Islam tidak perlu memperdebatkan perbedaan ini. Yang terpenting adalah menjaga tuma’ninah dalam sujud, memastikan bahwa semua anggota tubuh yang diwajibkan menyentuh tanah, serta melakukannya dengan penuh kekhusyukan.
Penutup
Sujud dengan tuma’ninah adalah bagian penting dari shalat yang mencerminkan ketundukan kepada Allah SWT. Meskipun terdapat perbedaan dalam praktiknya menurut sunnah dan mazhab-mazhab fiqih, semua pendapat berlandaskan ajaran Rasulullah SAW. Oleh karena itu, yang paling utama adalah menjalankan sujud dengan sempurna, khusyuk, dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam.



















Leave a Reply