MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Seharusnya Tuhan Itu Hanya Satu, Agama Itu Hanya Satu, Yang Membuat Berbeda Manusia Itu Sendiri

Seharusnya Tuhan Itu Hanya Satu, Tuhan Itu Sama, sehingga Tuhan hanya menurunkan satu Agama yang sama. Yang Membuat Tuhan Berbeda dan banyak agama adalah nanusia Itu Sendiri. Tuhan saya dan Tuhan Kamu tidak mungkin berbeda, Tuhan yang satu itu pasti menurunkan utusan, kitab suci dan agama yang sama, Kalau Tuhannya, Kitabnya dan Ajarannya berbeda beratti manusialah yang merubahnya. MAKANYA Islam dijadikan Tuhan sebagai agama penyempurna penyelewengan manusia

Tuhan yang menciptakan manusia adalah satu, sehingga Tuhan saya dan Tuhan kamu adalah sama. Jika Tuhan itu satu, maka seharusnya agama yang diturunkan-Nya juga satu. Namun, dalam perjalanan sejarah, manusia telah membuat perbedaan dengan menciptakan berbagai ajaran dan menafsirkan agama sesuai dengan kepentingan mereka. Kitab suci yang berbeda dan ajaran agama yang berbeda bukan berasal dari Tuhan, tetapi merupakan hasil dari perubahan dan penyimpangan yang dilakukan manusia terhadap wahyu asli yang diberikan kepada para nabi.

Karena adanya penyimpangan dalam ajaran ketuhanan dan agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya, Tuhan menurunkan Islam sebagai penyempurna dan pelurus ajaran yang telah diselewengkan. Islam bukan agama baru, melainkan kelanjutan dan penyempurnaan dari ajaran tauhid yang dibawa oleh para nabi sejak Adam hingga Isa (Yesus). Dalam Islam, Tuhan menegaskan kembali bahwa hanya ada satu agama yang benar, yaitu agama yang mengesakan-Nya tanpa sekutu. Kitab suci Islam, Al-Qur’an, dijaga langsung oleh Tuhan dan dijanjikan akan tetap utuh hingga akhir zaman, tanpa perubahan seperti yang terjadi pada kitab-kitab sebelumnya.

Karena Islam telah ditetapkan sebagai agama terakhir yang sempurna, maka Tuhan tidak akan menurunkan nabi baru setelah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi, dan risalah yang dibawanya berlaku untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Tidak ada wahyu baru yang akan turun, karena Islam sudah mencakup semua petunjuk yang dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, umat manusia seharusnya kembali kepada ajaran tauhid yang murni, menyembah Tuhan yang satu, dan mengikuti ajaran Islam sebagai agama yang telah disempurnakan oleh Tuhan.

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah kamu (Yahudi dan Nasrani) hendak berdebat dengan kami tentang Allah? Padahal, Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu.  (QS Al Baqarah 138)

Kesatuan Tuhan, Kesatuan Agama

Dalam sejarah agama-agama besar di dunia, semua mengajarkan tentang satu Tuhan yang Maha Esa. Konsep ketuhanan yang benar adalah bahwa Tuhan itu satu, dan semua manusia diperintahkan untuk menyembah-Nya tanpa sekutu. Namun, perpecahan dalam agama sering kali terjadi akibat campur tangan manusia yang menambahkan atau mengubah ajaran asli. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai sekte dan paham yang berbeda, padahal inti ajaran semua nabi tetap sama, yaitu tauhid atau keesaan Tuhan.

Seharusnya, jika Tuhan itu satu, maka agama juga seharusnya satu. Perbedaan yang ada lebih banyak disebabkan oleh interpretasi manusia dan pengaruh politik yang menciptakan sekte-sekte serta ajaran-ajaran baru. Hal ini dapat kita lihat dalam sejarah perubahan ajaran Yesus, yang awalnya murni tauhid, tetapi kemudian berubah menjadi doktrin Trinitas akibat keputusan manusia dalam konsili-konsili gereja. Demikian pula dalam agama-agama lain, perubahan-perubahan sering kali terjadi bukan karena wahyu Tuhan, tetapi karena kepentingan kelompok tertentu.

Kesatuan Tuhan

Tuhan yang sejati hanyalah satu, dan Dia tidak memiliki sekutu dalam keesaan-Nya. Semua nabi yang diutus oleh Tuhan selalu mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang harus disembah. Dalam Islam, konsep ini dikenal dengan istilah tauhid, yang berarti mengesakan Tuhan dalam segala aspek. Dalam ajaran Nabi Musa, perintah pertama yang diberikan kepada Bani Israel adalah, “Dengarlah, hai Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa!” (Ulangan 6:4). Demikian pula, Yesus sendiri dalam Injil Markus 12:29 menegaskan ajaran yang sama, bahwa Tuhan itu satu dan harus disembah tanpa perantara.

Namun, dalam perkembangan sejarah, konsep ketuhanan sering kali mengalami penyimpangan akibat campur tangan manusia. Banyak orang yang mulai menambahkan unsur-unsur lain ke dalam ajaran asli, sehingga muncul berbagai konsep yang berbeda mengenai Tuhan. Dalam Kristen, misalnya, ajaran tauhid yang diajarkan oleh Yesus mengalami perubahan menjadi Trinitas, sebuah konsep yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus sendiri, melainkan ditetapkan melalui berbagai konsili gereja setelah ratusan tahun.

Kesatuan Agama

Jika Tuhan itu satu, maka agama yang benar juga seharusnya satu. Semua nabi sejak Adam hingga Muhammad membawa ajaran yang sama, yaitu penyembahan kepada Tuhan yang Esa dan menjauhi kesyirikan. Tidak ada ajaran yang bertentangan di antara para nabi, karena semuanya berasal dari sumber yang sama, yaitu wahyu Tuhan. Namun, seiring waktu, perbedaan mulai muncul akibat pemikiran manusia yang mencoba menyesuaikan ajaran agama dengan kepentingan pribadi atau politik.

Dalam sejarah agama-agama samawi, kita melihat bagaimana perubahan dalam ajaran agama terjadi akibat faktor manusia. Ajaran Nabi Musa yang murni tauhid mengalami penyimpangan dengan munculnya penyembahan berhala di kalangan Bani Israel. Demikian pula, ajaran Yesus yang awalnya menekankan tauhid diubah menjadi Trinitas. Dalam Islam, setelah wafatnya Nabi Muhammad, muncul berbagai perpecahan dalam umat Islam yang menyebabkan lahirnya berbagai mazhab dan sekte. Namun, semua ini bukan berasal dari ajaran Tuhan, melainkan akibat perbedaan penafsiran manusia.

Peran Manusia dalam Perbedaan Agama

Salah satu faktor utama yang menyebabkan perbedaan dalam agama adalah interpretasi manusia yang berbeda-beda terhadap wahyu Tuhan. Setiap kelompok atau individu memiliki pemahaman yang berbeda tergantung pada budaya, lingkungan, dan kepentingan politik yang melatarbelakangi mereka. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai mazhab, sekte, dan ajaran yang terkadang bertentangan satu sama lain, meskipun berasal dari sumber yang sama.

Selain itu, perbedaan agama juga sering kali diperburuk oleh kepentingan politik. Dalam sejarah, banyak pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan, sehingga mereka mengubah atau menyesuaikan ajaran agama agar sesuai dengan kepentingan mereka. Misalnya, dalam Kekaisaran Romawi, ajaran Yesus yang awalnya menolak penyembahan terhadap dirinya sendiri justru diubah menjadi ajaran Trinitas untuk menyatukan kepercayaan rakyat Romawi.

Kembali kepada Agama yang Murni

Untuk mencapai kesatuan dalam beragama, manusia harus kembali kepada ajaran Tuhan yang murni, yaitu menyembah Tuhan yang Esa tanpa perantara. Hal ini hanya bisa dicapai jika manusia berusaha memahami ajaran asli para nabi tanpa terpengaruh oleh penambahan atau perubahan yang dilakukan oleh manusia.

Sejarah mencatat bahwa ketuhanan Nabi Isa (Yesus) bukanlah sesuatu yang dia ajarkan sendiri, melainkan hasil perdebatan dan keputusan politik ratusan tahun setelah kematiannya. Nabi Isa (Yesus), seperti nabi-nabi sebelumnya, hanya mengajarkan tauhid, menyembah Tuhan yang Esa. Namun, karena kepentingan tertentu, ajaran ini mengalami perubahan hingga akhirnya menghasilkan konsep Trinitas yang tidak pernah ada dalam ajaran asli Yesus. Oleh karena itu, memahami sejarah ini sangat penting agar kita bisa kembali kepada konsep agama yang murni dan menyembah Tuhan yang satu, seperti yang diajarkan oleh semua nabi, termasuk Nabi Isa atau Yesus.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *