MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Pandangan 4 Mahdzab, Terhadap Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah adalah salah satu ulama besar dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai tokoh pembaharu dan pemikir yang kontroversial. Lahir pada abad ke-13, di tengah kemunduran kekhalifahan Abbasiyah, ia berperan penting dalam membangkitkan semangat umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Pemikirannya sering kali melampaui batas tradisional, sehingga mendapat tanggapan beragam dari ulama lain, baik dari kalangan mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, maupun Hanbali. Artikel ini akan membahas siapa Ibnu Taimiyah dan bagaimana pandangan empat mazhab utama terhadapnya.

Siapa Ibnu Taimiyah?

Ibnu Taimiyah, atau Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah, lahir pada tahun 1263 M di Harran (kini masuk wilayah Turki). Ia adalah seorang ulama Hanbali yang menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti fiqih, aqidah, tafsir, hadis, dan filsafat. Sejak kecil, ia menunjukkan kecerdasan luar biasa dan hafal Al-Qur’an pada usia muda. Pendidikan agama dan intelektualnya banyak dipengaruhi oleh ayahnya, Abdul Halim, seorang ulama besar Hanbali.

Semenjak kecil sudah terlihat tanda-tanda kecerdasannya. Begitu tiba di Damaskus , ia segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, hafiz dan ahli hadis negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang. Ketika umurnya belum mencapai belasan tahun, ia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan mendalami bidang-bidang tafsir, hadis, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji Musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian Kutubu Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari  yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadis sekaligus.

Tenyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, ia pun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya”.

Sejak kecil ia hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama sehingga mempunyai kesempatan untuk membaca sepuas-puasnya kitab-kitab yang bermanfaat. Ia menggunakan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar dan menggali ilmu, terutama tentang Al-Qur’an dan Sunah Nabi.

Dia adalah orang yang kuat pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berpikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

Menjadi Pemimpin Pasukan Perang

Beliau pernah memimpin sebuah pasukan untuk melawan pasukan Mongol di Syakhab, dekat kota Damaskus, pada tahun 1299 Masehi dan dia mendapat kemenangan yang gemilang. Pada Februari 1313, dia juga bertempur di kota Jerussalem dan mendapat kemenangan. Dan sesudah kariernya itu, dia tetap mengajar sebagai profesor yang ulung

Pendidikan dan karyanya

  • Di Damaskus ia belajar pada banyak guru, dan memperoleh berbagai macam ilmu diantaranya ilmu hitung (matematika), khat (ilmu tulis menulis Arab), nahwu, ushul fikih. Ia dikaruniai kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al-Qur’an. Kemampuannya dalam menuntut ilmu mulai terlihat pada usia 17 tahun. Dan usia 19, ia telah memberi fatwa dalam masalah masalah keagamaan.
  • Ibnu Taimiyah amat menguasai ilmu rijalul hadits (perawi hadis) yang berguna dalam menelusuri hadis dari periwayat atau pembawanya dan Fununul hadits (macam-macam hadis) baik yang lemah, cacat atau sahih. Ia memahami semua hadis yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujah (dalil), ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufasir atau ahli tafsir. Tiap malam ia menulis tafsir, fikih, ilmu ‘ushul sambil mengomentari para filsuf. Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syariat. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikh Ibnul Wardi bahwa karangannya mencapai lima ratus judul. Karya-karyanya yang terkenal adalah Majmu’ Fatawa yang berisi masalah fatwa fatwa dalam agama Islam
  • Ibnu Taimiyah dikenal sebagai seorang ulama yang gigih dalam memerangi bid’ah dan penyimpangan dari ajaran Islam murni. Ia sangat menekankan pentingnya kembali kepada sumber utama Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, serta menolak taklid buta terhadap ulama atau mazhab tertentu. Hal ini membuatnya sering berbenturan dengan pandangan ulama lain yang lebih tradisionalis.
  • Dalam bidang teologi, Ibnu Taimiyah adalah pengkritik keras filsafat dan ilmu kalam, terutama pandangan Asy’ariyah dan Maturidiyah. Ia menekankan konsep tauhid yang murni tanpa adanya interpretasi yang berlebihan terhadap sifat-sifat Allah, sehingga pandangannya sering dianggap antropomorfis oleh sebagian kalangan. Namun, ia sendiri menegaskan bahwa Allah tidak bisa disamakan dengan makhluk-Nya.
  • Pemikiran Ibnu Taimiyah tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga praktis. Ia menulis banyak karya, seperti Majmu’ al-Fatawa dan Minhaj as-Sunnah, yang membahas masalah keumatan, termasuk politik, ekonomi, dan jihad. Namun, sikapnya yang tegas dan pandangannya yang dianggap berbeda membuatnya sering dipenjara oleh penguasa pada masanya.

Ibnu Taimiyah tetap menjadi sosok yang berpengaruh hingga kini. Pemikirannya menjadi dasar bagi beberapa gerakan Islam modern, tetapi juga menuai kritik dari ulama yang menganggap pendekatannya terlalu literal dan tidak memperhatikan konteks historis serta sosial.

Pandangan Empat Mazhab terhadap Ibnu Taimiyah

  1. Mazhab Hanafi
    Sebagian ulama Hanafi mengkritik pandangan Ibnu Taimiyah, terutama dalam bidang teologi. Pandangan teologisnya yang menolak takwil terhadap sifat-sifat Allah dianggap bertentangan dengan pendekatan rasional yang sering digunakan dalam mazhab ini. Namun, beberapa tokoh Hanafi menghormati intelektualitas dan keberaniannya dalam membela Islam.
  2. Mazhab Maliki
    Pandangan ulama Maliki terhadap Ibnu Taimiyah juga beragam. Beberapa ulama Maliki menganggap pendekatannya terlalu kaku dan bertentangan dengan tradisi tasawuf yang sering diterima dalam mazhab ini. Namun, ada pula yang menghormati dedikasinya untuk kembali kepada sumber Islam murni.
  3. Mazhab Syafi’i
    Ulama Syafi’i, khususnya yang menganut teologi Asy’ariyah, sering kali berselisih paham dengan Ibnu Taimiyah, terutama terkait masalah sifat Allah dan bid’ah. Namun, mereka mengakui keluasan ilmunya. Beberapa ulama Syafi’i bahkan memuji karya-karyanya yang dianggap mendalam dan penuh argumen logis.
  4. Mazhab Hanbali
    Sebagai bagian dari mazhab Hanbali, Ibnu Taimiyah diterima dengan baik oleh sebagian besar ulama dalam mazhab ini. Namun, tidak semua ulama Hanbali sepakat dengan pandangannya. Beberapa tokoh Hanbali mengkritik pendekatannya yang dianggap terlalu konfrontatif, tetapi mereka tetap menghormati dedikasinya terhadap prinsip-prinsip dasar mazhab Hanbali.

Pemikiran Ibnu Taimiyah menunjukkan pengaruh besar dalam sejarah Islam, meski menuai perdebatan yang terus berlangsung hingga kini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *