Penyaliban Nabi Isa ‘Alaihissalam dalam Perspektif Al-Qur’an: Kajian Ilmiah Tafsir QS. An-Nisā’ Ayat 157–158 Menurut Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Abstrak
Peristiwa penyaliban Nabi Isa ‘alaihissalam merupakan salah satu isu teologis yang membedakan Islam dan Kristen. Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Allah mengangkat beliau kepada-Nya. Artikel ini bertujuan mengkaji QS. An-Nisā’ ayat 157–158 melalui pendekatan tafsir klasik Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan menelaah penjelasan para mufasir seperti Imam ath-Thabari, Al-Baghawi, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan Asy-Syaukani. Kajian dilakukan menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan analisis terhadap ayat Al-Qur’an, hadis yang sahih, dan kitab-kitab tafsir muktabar. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat ijmak ulama mengenai tidak terbunuh dan tidak tersalibnya Nabi Isa, sedangkan rincian mengenai siapa yang diserupakan dengannya merupakan masalah tafsir yang diperselisihkan dan bukan bagian dari pokok akidah. Kajian ini menegaskan pentingnya membedakan antara perkara yang bersifat qath’i berdasarkan nash Al-Qur’an dan perkara yang masih berada dalam wilayah ijtihad para mufasir.
Kata kunci: Nabi Isa, penyaliban, QS. An-Nisā’ 157–158, tafsir, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Pendahuluan
Peristiwa penyaliban Nabi Isa ‘alaihissalam merupakan salah satu tema yang paling banyak dibahas dalam kajian tafsir, akidah, dan perbandingan agama. Dalam tradisi Kristen, penyaliban dipahami sebagai peristiwa sentral yang menjadi dasar ajaran penebusan dosa dan kebangkitan Yesus. Sebaliknya, Islam menolak keyakinan tersebut melalui penegasan Al-Qur’an bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Allah menyelamatkan serta mengangkat beliau kepada-Nya. Perbedaan ini menunjukkan adanya perbedaan mendasar dalam memahami sejarah maupun teologi kedua agama.
Di kalangan ulama Islam sendiri, tidak terdapat perbedaan mengenai pokok akidah bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib. Akan tetapi, terdapat variasi penafsiran mengenai makna frasa syubbiha lahum (“diserupakan bagi mereka”) serta identitas orang yang diserupakan dengan Nabi Isa. Oleh karena itu, diperlukan kajian ilmiah yang membedakan secara jelas antara ajaran pokok yang berdasarkan nash Al-Qur’an dengan penafsiran para ulama yang bersifat ijtihadi, sehingga pembaca memperoleh pemahaman yang proporsional sesuai metodologi tafsir Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Sistematika Kajian Ilmiah
1. Dalil Al-Qur’an sebagai Landasan Akidah
Allah SWT berfirman:
“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… Sebenarnya Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisā’ [4]:157–158)
Ayat ini merupakan dalil utama dalam Islam mengenai peristiwa penyaliban Nabi Isa. Allah menggunakan dua bentuk penafian secara berurutan, yaitu “mereka tidak membunuhnya” dan “mereka tidak menyalibnya”, yang menunjukkan penolakan tegas terhadap klaim bahwa Nabi Isa menjadi korban pembunuhan maupun penyaliban. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa peristiwa tersebut hanya tampak demikian bagi mereka (syubbiha lahum), sedangkan hakikatnya Allah telah menyelamatkan Nabi Isa dan mengangkat beliau kepada-Nya.
2. Tafsir Para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Mayoritas mufasir Ahlus Sunnah seperti Imam ath-Thabari, Al-Baghawi, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan Asy-Syaukani sepakat bahwa Allah menyelamatkan Nabi Isa dari upaya pembunuhan tersebut. Mereka menjelaskan bahwa makna ayat adalah Allah menggagalkan rencana musuh-musuh Nabi Isa, kemudian mengangkat beliau ke langit sebagai bentuk pemuliaan dan perlindungan dari Allah.
Perbedaan muncul pada penafsiran mengenai siapa yang diserupakan dengan Nabi Isa. Sebagian riwayat menyebut salah seorang pengikut setia yang rela menggantikan beliau, sebagian riwayat menyebut pengkhianat yang mendapat balasan dari Allah, sedangkan sebagian ulama memilih tawaqquf (tidak menetapkan) karena tidak terdapat hadis sahih yang menjelaskan identitasnya secara pasti. Oleh sebab itu, rincian tersebut tidak dijadikan bagian dari akidah yang wajib diyakini.
3. Analisis Frasa Syubbiha Lahum
Ungkapan syubbiha lahum menjadi pusat pembahasan dalam berbagai kitab tafsir. Secara bahasa, frasa ini berarti “dibuat tampak serupa bagi mereka”. Al-Qur’an tidak menjelaskan bagaimana proses penyerupaan itu terjadi maupun siapa orang yang diserupakan. Hikmah tidak dijelaskannya rincian tersebut menunjukkan bahwa fokus Al-Qur’an bukan pada identitas individu, melainkan pada penegasan bahwa klaim pembunuhan Nabi Isa adalah keliru.
Pendekatan ini sejalan dengan kaidah tafsir bahwa perkara gaib hanya boleh ditetapkan berdasarkan dalil yang sahih. Karena tidak terdapat hadis sahih yang menjelaskan identitas orang tersebut, mayoritas ulama tidak memastikan satu pendapat tertentu.
14. Nilai Akidah dalam Ayat
Ayat ini mengandung beberapa prinsip akidah yang disepakati para ulama, yaitu Allah Mahakuasa menyelamatkan para rasul-Nya sesuai kehendak-Nya, Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, Allah mengangkat Nabi Isa kepada-Nya, serta berita Al-Qur’an lebih didahulukan daripada klaim sejarah yang bertentangan dengan wahyu. Prinsip-prinsip ini merupakan bagian dari akidah Islam yang bersumber dari nash Al-Qur’an yang bersifat qath’i.
5. Hikmah Perbedaan Tafsir
Perbedaan para mufasir mengenai identitas orang yang diserupakan menunjukkan keluasan khazanah tafsir Islam. Selama tidak menyangkut pokok akidah dan tidak didukung dalil yang pasti, perbedaan tersebut termasuk wilayah ijtihad yang tidak boleh menjadi sebab perpecahan di kalangan umat Islam. Sikap ilmiah yang benar adalah menghormati berbagai pendapat ulama sambil tetap berpegang pada nash Al-Qur’an yang jelas.
Kesimpulan
QS. An-Nisā’ ayat 157–158 merupakan dalil qath’i yang menegaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Allah mengangkat beliau kepada-Nya. Hal ini menjadi bagian dari akidah Islam yang disepakati para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adapun perbedaan pendapat mengenai identitas orang yang diserupakan dengan Nabi Isa merupakan masalah tafsir yang bersifat ijtihadi dan tidak memengaruhi pokok keimanan. Dengan demikian, fokus utama ayat ini adalah penegasan kekuasaan Allah dalam melindungi rasul-Nya serta bantahan terhadap klaim bahwa Nabi Isa berhasil dibunuh atau disalib.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim, QS. An-Nisā’ [4]:157–158.
- Ath-Thabari. Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.
- Al-Baghawi. Ma’ālim at-Tanzīl.
- Ibnu Katsir. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm.
- Al-Qurthubi. Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān.
- Asy-Syaukani. Fath al-Qadīr.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Fath al-Bārī (pembahasan tentang Nabi Isa dan hadis-hadis akhir zaman).












Leave a Reply